
Oleh : Drs Moch Taufik, M PdI
Suara takbir bergema di seluruh pelosok Surabaya dan kota-kota sekitar Surabaya. Masjid-masjid menggema dengan doa-doa para pejuang, dan dari berbagai sudut-sudut kota Sidoarjo, Bangil, Malang dll pemuda-pemuda dengan sarung tersampir di leher bersiap dengan senjata seadanya. Resolusi Jihad telah dikumandangkan, dan tak ada lagi keraguan di hati mereka.
Di antara mereka, seorang santri bernama Hamzah berdiri tegak dengan bambu runcing di tangannya. Usianya baru delapan belas tahun, tetapi semangatnya berkobar seperti api yang tak bisa dipadamkan. “Kita tidak boleh mundur! Ini tanah kita, ini negeri kita, dan kita akan melawannya sampai titik darah penghabisan!” serunya kepada kawan-kawannya.
Malam itu, udara Surabaya terasa berat. Tentara Sekutu telah mendarat, dan Jenderal Mallaby memimpin pasukannya dengan tank-tank besar yang menderu di jalanan. Tapi Hamzah dan ribuan pemuda lain tak gentar. Mereka hanya memiliki tekad dan keyakinan bahwa perjuangan mereka suci—jihad untuk mempertahankan tanah air.
Saat fajar menyingsing, pertempuran pun pecah. Dentuman meriam mengguncang bumi, peluru berdesing di udara, dan darah merah membasahi tanah Surabaya. Hamzah, bersama teman-temannya, menyerang dengan segala keberanian yang mereka miliki. Dengan bambu runcing di tangan, ia menerjang musuh yang bersenjata lengkap.
Di tengah pertempuran sengit, Hamzah melihat seorang sahabatnya, Mustafa, roboh terkena tembakan. “Allahu Akbar!” serunya sambil berlari menghampiri. Dengan sisa tenaga, ia menyeret tubuh sahabatnya ke balik reruntuhan bangunan.
“Mustafa, bertahanlah!” ujar Hamzah.
Mustafa tersenyum lemah. “Hamzah… Aku… Aku bahagia. Jika aku mati… aku mati syahid…” katanya dengan suara bergetar. Sejurus kemudian, napasnya berhenti, dan Hamzah hanya bisa menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, tak ada waktu untuk berduka. Serangan semakin ganas, dan pejuang-pejuang muda tetap bertahan. Hingga akhirnya, setelah pertempuran berhari-hari, Surabaya menjadi lautan api. Ribuan nyawa telah gugur, tetapi semangat tak pernah padam.
Puluhan tahun berlalu…
Hamzah kini seorang lelaki tua, duduk di teras rumahnya yang sederhana. Rambutnya telah memutih, kulitnya dipenuhi keriput, namun matanya tetap tajam, penuh kebanggaan. Ia seorang veteran, seorang yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk negeri ini.
Setiap kali ia mengenang pertempuran itu, hatinya terasa perih. Banyak sahabatnya gugur, termasuk Mustafa. Tapi ia tak pernah menyesal. Baginya, jihad itu adalah panggilan hati, sebuah perjuangan suci yang dilakukan tanpa pamrih.
Suatu hari, seorang pemuda datang dan bertanya, “Kakek, apakah Kakek tidak merasa kecewa melihat negeri ini sekarang? Banyak penghianat menjual negeri ini mulai dari kasus pemagaran laut, korupsi Pertamina Ratusan Triliun dan lain-lain. Para pengianat lupa akan perjuangan Kakek dan para pejuang lain…”
Hamzah tersenyum. “Nak, perjuangan itu bukan untuk dikenang, tapi untuk diteruskan, dan diteladani. Kami tidak berjuang demi penghargaan, kami berjuang karena cinta pada negeri ini. Jika kau ingin menghormati kami, teruskanlah perjuangan ini dengan caramu sendiri. Jangan biarkan negeri ini jatuh ke tangan mereka yang tak bertanggung jawab, termasuk mereka yang mengkapling laut, dan korupsi ratusan triliun di Pertami..”
Pemuda itu terdiam, lalu menundukkan kepalanya. Di dalam hatinya, ia berjanji akan melanjutkan perjuangan sang veteran—meski bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu dan akhlak yang mulia, serta berjanji tidak jadi penghiyanat negeri ini..
Sementara itu, Hamzah menatap langit senja. Ia tahu, waktunya di dunia tak lama lagi. Tapi ia bahagia, karena ia telah ikhlas berjuang.
Allahu Akbar! Merdeka atau mati!
