Nara Sumber dan Peserta Bedah Buku Bungurasih Desa Kuno Karya Henri Nurcahyo Sukses Membuka Sejarah Desa Kuno di Sidoarjo

 

SIDOARJO: menaramadinah.com-Sangat menatik, sebuah buku berjudul “Bungurasih Desa Kuno” karya Henri Nurcahyo  dibedah di aula Munali Fatah Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Jalan Erlangga 67, Celep, Sidoarjo, Minggu pagi, 26 Januari 2025, pukul 09.00-13.00 tapi.

Dua orang ahli yang  membedahnya adalah dr Sudi Haryanto (Ketua Sidoarjo Masa Kuno) dan  Goenawan Sambodo (epiraf, ahli prasasti), sejarawan dan arkeolog. Moderator adalah Ribut Wijoto, ketua umum Dekesda.

Dua orang peduli sejarah itu mampu memukau seluruh peserta yang hadir,  baik dari Sidoarjo maupun Surabaya. Karena materi yang disampaikan itu sesuai hal baru dan banyak yang belum tahu.

Hal ini diakui salah seorang peserta yaitu

Drs. Husnu Mufud, M.Pdi sejarawan asal Surabaya alumni FKIP Sejarah Universitas Jember. Yang juga pemilik Penerbit Menara Madinah Books dan Pemred menaramadinah.com,

Dalam bedah buku Bungurasih Desa Kuno dua Nara Sumber dan peserta saling memberi informasi berdasar Prasasti yang ditemukan di Sidokare atau Sidoarjo dengan argumentasi.

Bahkan Gunawan Sambodo menyatakan kerajaan Kahuripan yang didirikan Airlangga tidak ada. Sedangkan dr. Sudiharyanto menyatakan, tanggal lahir Sidoarjo bukan Januari. Tetapi bulan Mei.

Sementara Hendry Nurcahyo penulis buku menyatakan, bahwa nama Bungurasih yang selama ini identik dengan nama terminal Purabaya ternyata sudah berusia sangat tua sekali.

Semula, masyarakat lokal mengira, desa Bungurasih didirikan oleh Mbah Bungur, yang makamnya masih ada hingga sekarang. Konon, Mbah Bungur ini hidup pada zaman Sunan Ampel, atau sekitar abad ke-15.

Lebih Gunawan Sambodo berambut gondrong itu menambahksn, menurut penelusuran sejarah, ditemukan sebuah prasasti bernama Prasasti Gedangan atau Kancana, yang menyebut bahwa desa Bungur sudah ada sejak abad ke-9.

Dalam prasasti itu jelas tertulis, Desa Bungur ditetapkan menjadi desa perdikan (sima) pada tanggal 31 Oktober 860 Masehi. Jadi kalau dihitung hingga tahun 2025 sekarang ini, sudah berusia hampir 1.165 tahun.

Kemuduan dr. Sudi Haruanto  memaparkan berbagai cerita rakyat terkait dengan desa Bungurasih, dan penelusuran sejarah yang semula ada satu kuburan.

Lebih lanjt ia menjelaskan lewat layar, begitu pula rumah dan peninggalan candi  hanya sedikit akibat gempa bumi dan banjir. Mengingat dibawah tanah ada lempeng lempengan  yang bisa bikin. gempa bumi. Begitu pula nama tempat telah diubah pemerintah Belanda.

Hingga pencantuman Prasasti Gedangan dalam huruf aslinya, alih aksara, dan juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Buku setebal 200 halaman ini diberikan kata pengantar oleh Prof Dr Purnawan Basundoro, S.S, M.Hum, ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Korwil Jatim, sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga sangat menarik bagi peserta. Hanya saja minat beli buku kurang kuat.

Namun demikian, acara bedah buku yang  diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetan, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Sidoarjo, dan Pemerintah Desa Bungurasih, Kec, Waru, Sidoarjo sukses besar. Terbukti banyak peserta yang bertanya. Tapi sayangnya waktu bedah buku terbatas sampai pukul 13.00 wib.

Akibatnya perbincangan bukan hanya di dalam gedung tetapi di luar gedung tetap berlanjut dalam diskusi lingkaran kecil hingga pukul 15.00 wib.

Husnu Mufid