
Oleh :
Kheisya Auliya Azzahroh Mahasiswi PAI FTK UINSA
Assalamualaikum Wr. Wb.
Excellency, Ustadz Yahya Aziz, S.Ag., M.Pd.I.
As a Lecturer of Public Speaking Subject
and unforgattable to all the successful people
(Muqaddimah)
First of all, let’s thank and praise to Allah who Has given us some mercies and blessings, so we can meet together in this place. Secondly, may Sholawat and Salam always be given to the greatest Prophet Muhammad Saw., who has guided us from the darkness to the brightness, from the stupidity to the cleverness, namely ad-Diinul Islam wal Iman. Standing here in front of you all, I wanna deliver my speech about the Wisdom of Shalat Tahajud for Body Healthy.
Guys, have you ever heard about the Miracle of Shalat Tahajud before? Yeah, of course we all know about the Miracle of Shalat Tahajud. Tahajud merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardu lima waktu dan hukumnya sunah. Sebagaimana dalam hadits Nabi yang berbunyi :
أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
Artinya: “Shalat yang paling afdal setelah shalat fardu (wajib) adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Dalam firman-Nya, Allah menjanjikan derajat yang mulia (maqam) kepada orang-orang yang melaksanakan shalat tahajud. Derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak melakukan shalat tahajud. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al Isra 79 sebagai berikut :
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Nah dear successful people, mengapa orang-orang yang melakukan shalat Tahajud diberikan maqam yang mulia? Because as well as we know that reward itu diberikan sesuai dengan sebagaimana besar suatu perjuangan. Kita lihat, orang yang melaksanakan shalat tahajud itu juga berjuang. Mereka melawan rasa kantuk dan dingin yang menyelimuti, bangkit dari gravitasi kasur yang begitu kuatnya, mengambil air wudu dalam keadaan air mengalir dingin, segera memenuhi panggilan Tuhan-Nya. Maka dari sini, Allah memberikan derajat yang mulia, karena ketika mereka sedang mengingat Allah, meminta ampun kepada Allah atas segala dosanya, banyak orang lain yang masih enak menikmati tidurnya, lalai dan bahkan sedang melakukan maksiat di malam hari.
Dalam riwayat sebuah atsar juga disebutkan bahwa Allah membangga-banggakan orang yang shalat tahajud di hadapan para malaikat. Allah remen terhadap hamba-Nya yang melakukan shalat tahajud. Ibaratnya, teman-teman mempunyai kekasih, gebetan atau bahkan crush, lalu kekasih Anda membanggakan Anda di depan teman-temannya. Dia berkata, “aku beruntung banget punya kekasih kaya si A, dia pintar, wawasannya luas, sopan, good manners, aku suka banget sama dia!”. Anda bakal senang tidak? Baper nggak? Iya dong jelas, pasti bakalan salting (salah tingkah) sendiri. Nah, ini Allah lho yang membanggakan kita, sang Rabbul ‘aalamiin, dibanggakan di depan malaikat yang sudah tentu setiap hari kerjaannya adalah berdzikir kepada Allah. Kita cuma shalat Tahajud sekali, dosa kita banyak banget tidak terhitung, tapi dibanggakan di depan mereka yang memang sepuh’e, para ahl dzikir. MasyaAllah!
Selain keistimewaan-keistimewaan tersebut, juga ada satu lagi yang super special lho! yaitu Shalat Tahajud untuk kesehatan tubuh. Tentang hal ini, telah dibuktikan oleh Prof. Moh. Sholeh. Beliau merupakan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, beberapa tahun yang lalu beliau menjadi Dekan yang diamanahi rektor untuk handling tiga fakultas sekaligus, dan juga seorang santri alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Prof. Moh. Sholeh melanjutkan S3 Jurusan Imunologi, Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Surabaya. Pada saat itu, beliau mengerjakan tugas akhir studi S3 nya, yaitu Disertasi yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajud Terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi”. Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya.
Selama ini, menurut Prof. Sholeh, tahajud dinilai hanya merupakan ibadah shalat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat membuat individu mampu menanggulangi masalah yang dihadapi (coping). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.
Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari -atau setelah pukul 24:00- normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Prof. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11 rakaat. Lalu, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (Paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak ikhlas dalam melakukan tahajud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. “Jadi sholat tahajud selain bernilai ibadah, juga dapat mempengaruhi kontrol kognisi.
Dengan cara memperbaiki motivasi dan coping yang positif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress”.
Nah, menurut Prof. Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.
Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukkan, sholat tahajud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.
So, dear successful people, mari kita berlatih untuk membiasakan shalat Tahajud dengan khusu’ dan ikhlas. Karena begitu istimewa orang-orang yang melakukan shalat Tahajud. Can you just see, orang umurnya sudah tua namun tetap sehat, yang derajatnya mulia di muka bumi ini pasti tidak lepas dari tirakat yang namanya “Shalat Tahajud”.
Sebelum saya akhiri pidato ini, yuk bersama-sama melantunkan sholawat tibbil qulub agar senantiasa diberi kesehatan oleh Allah dan dijaga hatinya dari berbagai penyakit hati.
That’s all for my speech. I hope this speech that I deliver today can be useful for us.
Thank you so much for your very nice attention and I am so sorry for making mistakes.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
