
Catatan Drs. Husnu Mufid, M PdI Pemred menaramadinah.com.
Terus berlanjut di Era Reformasi dan Digital. Efek domino kejatuhan media cetak terus berlanjut hingga kini. Kejayaan media cetak dan industri media cetak pelan pelan mengalami keruntuhan seperti kerajaan Romawi dan Mahapahit.
Cukup banyak media cetak telah menjadi korban di Era Reformasi dan Era Digital.. Seperti Tablid posmo. Tabloid Nurani, Harian Suara Pembaharuan, Nova dan media media cetak lainnya Termasuk Majalah Gatra sekarang ini.
Rasanya sedih melihat Gatra menjadi korban berikutnya. Padahan media ini media papan atas sejajar dengan Majalah Tempo yang kini tetap exis. Hal ini menurut Yuwono tak lepas dari arus besar yang disebut: TRIPLE DISRUPTION.
Pertama. DIGITAL disruption dimana media digital memberangus media tradisional. dan ZILLENNIAL disruption. Ini yang bersifat permanen, karena milenial/zilenial lebih kepincut mengonsumsi berita medsos ketimbang media mainstream apalagi cetak.
Kedua, Gatra masih terkungkung model bisnis tradisional (iklan, langganan, etc) dan tak bisa move-on ke berbagai bentuk REVENUE MODEL yang baru.
Ketiga Gatra tak kuasa bertransformasi menjajal model bisnis baru seperti: platform, crowdfunding, community, merchandising, branded event, etc.
Selain itu, menurut saya media cetak terlalu mahal dalam pembiayaan. Seperti ongkos cetak dengan harga kertas dan tinta yang naik terus. Juga pengiriman majalah dan koran setelah terbit biaya transportasi cukup mahal. Pembaca dan pelanggan merasa beli majalah dan koran dianggap mahal.
Ditambah lagi jumlah tenaga editor atau redaktur yang cukup banyak.juga. Sehingga sekali terbit memakan biaya yang sangat besar. Sedangkan pembaca dan pembelinya semakin menurun. Karena beralih ke media digital yang cepat dan sangat murah.
Tapi sebenarnya jika kita perhatikan dilapangan. bukan hanya media cetak yang bertumbangan alias tidak terbit lagi. Tapi media digital pun banyak yang tidak terbit lagi. Contohnya di Jember yaitu Viralkata.com, Stopres, KADENEWS di Surabaya yang mati suri dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan diberbagai kota Indonesia cukup besar yang tidak Terbit lagi.
Hal ini tidak lain karena dikelola secara asal asal. Istilahnya tidak kelola secara profesional. Yang penting terbit. Beritanya kurang bisa dipercaya. Mengingat bisnis Media adalah bisnis kepercayaan. Ditambah SDM atau wartawannya kurang berjiwa Jurnalis.
Hanya media digital yang dikelola secara profesional, wartawan yang profesional dan berita yang sesuai fakta dan dapat dipercaya yang hingga kini tetap terbit. Karena pembacanya percaya.
