Mata Kuliah Public Speaking : “78 Tahun Indonesia Merdeka”

Catatan Bayu Wira Pratama 06010121007, Mahasiswa PAI FTK Uinsa.

Inilah tex pidato kami, yang kami sampaikan langsung di depan kelas mata kuliah PUBLIC SPEAKING dibimbing langsung oleh Ustadz Yahya Aziz, S.Ag, M.Pd.I Dosen FTK Uinsa. Tema pidato kami : “78 Tahun Indonesia Merdeka”

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين وعلى اله و صحبه اجمعين اما بعد

Yang saya hormati, guru kami, bapak Yahya Aziz S.Ag, M.Pd.I, semoga adab dan ilmu beliau dapat kita wariskan bersama. Yang saya cintai, saudara-saudaraku mahasiswa PAI Public Speaking Kelas C, semoga hubungan kita tetap terjaga hingga berjumpa kembali di surga-Nya kelak. Amin! Pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan pesan-pesan yang terangkum dalam satu judul besar, “78 Tahun Indonesia Merdeka.”

Bergembiralah wahai rakyat Indonesia!
Bergembiralah wahai anak-anak ibu pertiwi!

Hari keruntuhan eksistensi besar kolonialisme-imperialisme, hari penentu perjuangan para santri, kiai, politisi, cendekiawan, militer, hingga seluruh lapisan masyarakat, berbuah manis saat tokoh-tokoh bangsa memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kini, memasuki tahun 2023, euforia tersebut tidak pudar, gairah kemerdekaan itu tak lekang, kegembiraan itu tetap berkenang.
78 tahun Indonesia telah merdeka dari cengkeraman tangan-tangan besi yang mengeksploitasi sumber daya alam, memperbudak manusia, hingga rasisme merajalela, suatu glorifikasi dan pembedaan antara golongan Eropa dengan bumiputera. Semangat kaum terdidik cendekia untuk merumuskan dan mempersiapkan kemerdekaan tak dapat dilepaskan dari peran para agamawan, terutama dari kalangan habaib.

Sejarah menginformasikan kepada kita sederet habaib yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan dan dasar-dasar negara. Jika kita menyempatkan waktu sejenak untuk berpikir di luar perkara-perkara umum, siapakah yang menentukan hari dan waktu proklamasi? Kepada siapakah Soekarno berkonsultasi untuk menentukannya? Beliau adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang. Siapakah yang menggagas bendera pusaka berwarna merah putih? Habib Idrus bin Salim Al-Jufri Palu. Siapakah yang menggagas lambang negara berbentuk Garuda? Syarif Sultan Hamid II. Hal ini membuktikan, bahwa meskipun asal-usul mereka bukan asli bumiputera, tetapi memiliki visi yang sama: Dimana bumi dipijak, disitu bumi dijinjing. Kemerdekaan Indonesia berarti kemerdekaan untuk seluruh negeri-negeri muslim. Terbukti, tidak lama setelah kabar Indonesia merdeka tersebar ke penjuru dunia, Suriah merdeka pada 1946 bersama dengan Yordania, Pakistan merdeka pada 1947, Libya merdeka pada 1951, Maroko merdeka pada 1955, Tunisia merdeka pada 1956, hingga Aljazair pada 1962.

Namun sangat disayangkan, salah satu pendukung vokal “de jure” kemerdekaan Indonesia yaitu Palestina, masih berada di bawah penindasan Zionis Israel. Jika berkaca dari sejarah, Mufti Palestina bernama Syekh Amin Al-Husaini mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia melalui Radio Berlin pada 1944. Tentunya, di momen 78 tahun Indonesia merdeka, tak elok rasanya jika lupa menyisipkan doa untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.

اللهم انصر الاخوان المسلمين في فلسطين…

Momen 78 tahun Indonesia merdeka hendaknya dimaknai tidak hanya sebagai kebebasan zahir dan berdikari belaka, tetapi juga kebebasan sebagai pencapaian etis dan psikologis. Allah SWT. berfirman:

ياايها الناس انا خلقنكم من ذكر وانثى و جعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفو ان اكرمكم عند الله اتقاكم ان الله عليم خبير

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat/49: 13)

Selain makna bahwa tidak dibenarkan penguasaan manusia atas manusia lain dalam bentuk penjajahan (bahwa yang terbaik di sisi Allah adalah yang bertakwa), makna kontekstual ayat tersebut adalah tidak dibenarkan hati seorang muslim tunduk atau terkungkung oleh jeratan pengaruh-pengaruh asing yang buruk, bahkan walaupun telah merdeka secara negara. Kita malas berinovasi dan berkembang, memilih sekadar menjadi konsumen dibanding produsen, padahal SDM dan SDA kita berlimpah ruah, tetapi memilih pengelolaannya sepenuhnya berada di tangan asing, alih-alih belajar dan mengkreasikan secara mandiri dari mereka.

Untuk menguatkan motivasi untuk kemajuan bangsa, perlulah dikuatkan rasa cinta tanah air dengan teladan dari Sang Nabi. Rasulullah sendiri ketika meninggalkan Mekah menuju Madinah untuk keselamatan dakwah dan umat Islam dari serangan-serangan fisik dan batin dari kaum kafir Quraisy, beliau menitikkan air mata. Rasulullah tetap mencintai Mekah meskipun menjadi pusat kekufuran. Pun demikian ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang menuju Madinah (tanah air keduanya), beliau mempercepat langkahnya karena begitu rindu untuk segera sampai ke Madinah.

Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari, seorang ulama muda Al-Azhar Mesir yang turut hadir sebagai pembicara dalam agenda AICIS 2023 di Sport Center UINSA, dalam salah satu video ceramahnya di Mesir tentang tanah air, mengatakan bahwa , “Barang siapa melihat tanah air dengan hina dan keburukan, berarti ia merendahkan apa yang dimuliakan oleh Allah, dan durhaka pada hak tanah air yang seharusnya mendapat kebaikan dan penghormatan.” Dari sini dapat ditarik hikmah, bahwa justru jika kondisi negeri dalam keadaan kacau tapi masih dapat bertahan dan berubah secara berkesinambungan, tetap harus dicinta dan diniatkan untuk turut berkontribusi terhadap perubahan.

Sebagai penutup, mari kita merayakan 78 tahun Indonesia merdeka dengan lagu “Hari Merdeka” yang disusun oleh Habib Husein Mutahar.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

والله الموفق الى اقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته