
Nganjuk.MenaraMadinah.com.Di Jalan Raya Sukomoro No.2,Desa Sukomoro,Kecamatan Sukomoro,Kabupaten Nganjuk terdapat klenteng bernama Hoek Yoe Kiong.Tempat ibadah umat Tri Dharma ini sebelumnya berada di jantung Kota Nganjuk dengan Soen Boen Lee sebagai pendirinya,dipindahkan ke Sukomoro tahun 1953 dan diresmikan tahun 1956.
Kongco Kong Tik Tjoen Ong merupakan dewa utama di Klenteng “Hoek Yoe Kiong “.
Keunikan dari klenteng ini adalah di salah satu altarnya terdapat gundukan tanah yang dihuni ribuan semut,di depannya terdapat meja bejana lilin dan dupa,atasnya dipasang lampu,dan altar diberi tirai warna merah yang dalam konsep filosofi Tionghoa bermakna keberuntungan,kebahagiaan,dan kelimpahan.
Ribuan semut yang membentuk koloni di gundukan tanah yang semakin meninggi itu tidak kelihatan setiap hari,tetapi hanya muncul saat hari tertentu saja.
Dengan adanya fenomena keanehan tersebut,maka Klenteng ” Hoek Yoe Kiong” disebut sebagai Klenteng ” Dewa Semut”.Di gapura pintu masuk klenteng,ada relief dua ekor semut besar mengapit tulisan Klenteng Hoek Yoe Kiong.
Karena keunikannya,klenteng yang dijaga oleh penjaga bernama Wawan banyak
dikunjungi orang dari berbagai kalangan.
” Tidak hanya umat Tri Dharma saja yang berkunjung,tapi juga masyarakat luas dari berbagai kalangan dan lintas agama datang ke klenteng depan stasiun kereta api kecil Sukomoro ini.Mereka datang sebab tertarik dan penasaran dengan adanya gundukan tanah yang dihuni banyak sekali semut,satu-satunya di Indonesia”,jelas
Sebastian Wuisan selaku pengurus Klenteng ” Hoek Yoe Kiong” Seksi Kerohanian.
Pria ramah pemilik sebuah toko bahan kue di Jalan Diponegoro,Nganjuk itu menambahkan bahwa Klenteng ” Hoek Yoe Kiong” dipakai untuk tempat ritual Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.
Halamannya digunakan pula untuk pementasan Liong dan Barongsai pada momen tertentu.Selain itu,klenteng juga dilengkapi ruang olahraga yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum.foto& naskah: Bro-J
