
MENARA MADINAH — Dengan suara bergetar dan sesekali menahan air mata, Herman Budianto Sudarsono, relawan kemanusiaan asal Ponorogo, Jawa Timur, membagikan pengalamannya tentang penyiksaan dan perlakuan brutal yang dialami oleh relawan internasional saat ditahan aparat Israel,
dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Kisah tersebut bukan sekadar laporan, melainkan gambaran nyata tentang keberanian dan pengorbanan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah konflik yang pelik.
Herman, yang merupakan aktivis Dompet Dhuafa dan tergabung dalam delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), bersama delapan warga negara Indonesia lainnya menjalankan misi mulia menyalurkan bantuan ke masyarakat Gaza melalui jalur laut.
Namun, perjalanan tersebut terhenti ketika aparat Israel mencegat kapal mereka dan melakukan penahanan yang sangat berat.
Dalam acara silaturahmi dan syukuran kemerdekaan sembilan relawan WNI yang digelar Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, Herman mengungkap fakta memilukan itu.
Puluhan relawan mengalami luka berat akibat tindakan kekerasan, mulai dari patah tulang hingga dugaan kekerasan seksual.
“Sekitar 40 orang patah rusuk, lebih dari 50 orang patah tangan atau kaki, dan 52 orang mengalami kekerasan seksual, baik pria maupun wanita,” ujarnya penuh haru.
Ia menceritakan bagaimana mereka dipaksa berganti pakaian basah, diikat, dipukul, dicaci maki, bahkan ditempatkan di dalam kontainer gelap serta mengalami penyetruman dan tembakan peluru karet dari jarak dekat.
Selama berjam-jam mereka dipaksa menunduk di bawah panas terik tanpa makanan dan minuman, bahkan menghadapi penghinayaan verbal dan tekanan psikologis yang mendalam.
Sebagai saksi sekaligus korban, Herman menegaskan bahwa seluruh penderitaan ini tidak sebanding dengan yang dialami rakyat Palestina yang hidup penuh tekanan dan blokade selama bertahun-tahun.
“Kami hanyalah pembawa semangat kemanusiaan, tanpa melakukan perlawanan, dan kami menegakkan solidaritas antarumat beragama yang luar biasa,” katanya.
Salah satu momen menggetarkan hati adalah saat para relawan tetap melaksanakan shalat di tengah keterikatan tangan dan kaki.
“Kami shalat sambil duduk di bawah keadaan terikat, menunjukkan bahwa iman tetap teguh di tengah ujian,” ungkap Herman.
Mereka akhirnya dibebaskan dengan bantuan diplomatik Turki dan sesaat setelah masuk pesawat, suasana haru mewarnai pertemuan mereka dengan pelukan hangat, takbir, dan teriakan “Free Palestine” menggema, menegaskan tekad solid untuk terus memperjuangkan kemanusiaan.
Kisah Herman dan rekan-rekannya bukan hanya menjadi catatan kelam tentang kekejaman yang terjadi, tetapi lebih dari itu, adalah inspirasi kuat bagi dunia untuk tidak pernah menyerah dalam menegakkan keadilan dan perdamaian.
Mereka mengajarkan kita nilai hasanah sejati: pengorbanan tanpa pamrih, kesabaran dalam penderitaan, dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Semangat kemanusiaan yang melebihi sekat agama dan bangsa menyatukan para relawan dari berbagai negara, menunjukkan bahwa nilai-nilai kasih sayang dan solidaritas adalah bahasa universal yang mampu menembus segala perbedaan.
Herman bahkan mengakui betapa ia tersentuh oleh keberanian dan keikhlasan relawan non-Muslim yang juga tergerak membantu saudara di Palestina.
Di tengah kekerasan dan tekanan, para relawan tetap mempertahankan martabat dan keimanan mereka. Ini adalah contoh nyata bahwa iman adalah kekuatan tiada tara yang mampu menembus kegelapan sekalipun.
Cerita ini mengajak kita refleksi—betapa pentingnya keberanian untuk berbuat kebaikan di dunia yang penuh tantangan.
Mengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak pernah mudah, tetapi hasilnya amat bernilai bagi kemanusiaan dan keyakinan kita.
Mari kita jadikan pengalaman relawan ini sebagai pemicu semangat untuk terus peduli, berempati, dan bertindak nyata membantu sesama, sekecil apapun bentuknya. Sebab dari langkah kecil itu akan lahir perubahan besar.
Seperti amanat Herman, jangan pernah lelah dan takut untuk menyuarakan solidaritas dan menebar bantuan. Semangat hasanah ini adalah cahaya yang akan menerangi jalan menuju dunia yang lebih adil dan damai.
“Teruslah bersemangat membantu saudara-saudara kita di Palestina dengan kemampuan yang kita miliki,” pesan Herman penuh harapan.
Semoga kisah keberanian dan keteguhan hati ini menumbuhkan inspirasi dan memperkuat tekad kita bersama menjaga kemanusiaan dan keadilan demi masa depan yang lebih baik.*Imam Kusnin Ahmad*
