Mahasiswa FT Universitas Jember Kembangkan Graha Metroplex, Model Gedung Tahan Gempa

Jember, 29 November 2022
Indonesia kembali berduka, Cianjur dilanda gempa bumi yang menyebabkan ratusan korban tewas dan luka. Banyak diantara korban jiwa maupun luka diakibatkan tertimpa reruntuhan rumah atau gedung. Oleh karena itu perlu mitigasi bencana gempa bumi, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan merancang rumah dan gedung tahan gempa. Seperti yang dilakukan oleh dua mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Jember, Gian Ewaldo Majdid dan M. Farhan Nanda Saputra, mereka mengembangkan model gedung hunian 8 lantai tahan gempa yang dinamai Graha Metroplex. Model yang mereka kembangkan mendapatkan apresiasi, terbukti menjadi juara ketiga kategori model gedung dengan struktur baja dalam Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XIII tahun 2022 di Universitas Tarumanagara tanggal 20 November 2022 lalu.

Menurut Gian, model gedung hunian yang tahan gempa harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya bentuknya sederhana dan simetris, bobot struktur penyangga gedungnya seringan mungkin dengan desain sambungan antar elemen struktur yang baik. Sehingga saat dilanda gempa, gedung tersebut akan tetap mampu berdiri kokoh karena struktur penyangga dan sambungannya menghasilkan kinerja struktur yang baik dan tidak mengalami degradasi kekakuan atau bahkan keruntuhan.

“Kami mencoba mendesain Graha Meroplex menggunakan struktur baja dengan Sistem Pemikul Rangka Momen Menengah (SPRMM). Dengan menggunakan SPRMM maka kolom baja yang digunakan dibentuk seperti huruf H yang dipasangkan dengan balok baja berbentuk huruf L. Keduanya menjadi struktur utama gedung yang didesain sebagai gedung hunian dengan delapan lantai,” jelas Gian saat ditemui di kampus FT Universitas Jember (29/11). Saat maju ke ajang KBGI, Gian dan Farhan menamakan kelompok mereka Logawa HAIAN, alias Logawa Farhan-Gian.

Untuk diketahui, KBGI adalah ajang tahunan unjuk kebolehan kemampuan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil di Indonesia di bidang perancangan bangunan dan gedung yang digelar oleh Pusat Prestasi Nasional Ditjen Dikti Kemendikbudristek. Tahun ini tema yang diusung adalah “Bangunan Gedung Tahan Gempa Berinovasi Material Untuk Pengembangan Metropolitan Menyongsong Era Pasca Pandemi”. Tugas yang dilombakan adalah merancang dan mendesain model gedung hunian delapan lantai tahan gempa, dalam dua kategori yakni kategori gedung dengan struktur baja dan gedung dengan stuktur beton pracetak.

“Desain Graha Metroplex yang kami susun berhasil menembus babak final yang mempertandingkan delapan tim hasil seleksi dari 161 peserta. Di babak final, tiap tim harus menyusun model gedung dalam skala 1 banding 50 dari awal hingga menjadi gedung dalam waktu tiga jam. Lomba berjalan seru sebab setiap tim membawa suporter layaknya pertandingan bola. Alhamdulillah kami berhasil merakit model kami dalam waktu 161 menit, sementara berat model gedung kami sekitar 4,4 kilogram. Ada lho, tim yang hingga melewati batas waktu tiga jam belum menyelesaikan perakitan model gedung,” ujar Farhan.

Pada masa penyusunan model gedung ini, keduanya sempat dibuat sport jantung. Betapa tidak saat merakit ada satu sambungan yang patah. Keduanya pun harus putar otak memperbaiki sambungan ini dengan bahan yang ada. Pasalnya panitia tidak memperbolehkan peserta menggunakan bahan tambahan selain yang sudah sesuai aturan. Akhirnya mereka terpaksa menempatkan baut tambahan pada sambungan yang patah tadi. “Jangankan memakai bahan tambahan, ada bahan yang tanpa sengaja kita jatuhkan saat merakit model saja sudah mengurangi penilaian,” ungkap Gian, mahasiswa angkatan 2019 ini.

Namun sukses merakit model gedung bukan berarti perjuangan sudah usai, justru tahapan selanjutnya yang lebih mendebarkan. Semua model gedung akan diberi beban berupa besi seberat 1 kilogram di tiap lantainya sambil di ‘goyang’ dengan alat bernama table shaking sehingga mirip gedung yang digoncang gempa bumi. Goncangan berlaku selama lima menit, dengan setiap menitnya ditingkatkan dari fase goncangan 1,5 Hertz hingga 5,5 Hertz dengan amplitudo konstan sebesar 10 milimeter ke depan dan ke belakang. Makin banyak bagian dari model desain gedung yang runtuh, atau bahkan runtuh seluruhnya maka otomatis dinyatakan kalah.

Model Graha Metroplex yang digarap Logawa HAIAN ternyata mampu melewati masa pengujian, bahkan menjadi juara ketiga untuk kategori struktur gedung dengan bahan baja. Keberhasilan ini seakan mengobati dahaga Program Studi Teknik Sipil FT Universitas Jember yang terakhir meraih juara di ajang serupa pada tahun 2010 lalu. “Kami berharap desain model gedung Graha Metroplex nanti bisa menjadi sumbangan nyata bagi mitigasi bencana gempa bumi di nusantara sehingga meminimalkan korban jiwa maupun luka,” pungkas Gian yang disokong penuh koleganya Farhan. (iim/is)