Gerakan Kebudayaan di Jember

 

Catatan Dr. Eko Sumargono dosen FB Unej dan Budayawan Jember

Matur suwun Gusti Pangeran, even KEBUDAYAAN bertajuk KRIDHA SINATRIA BHUMI WATANGAN di lereng Gunung Watangan tepatnya di kawasan Desa Lojejer telah menjelma menjadi gerakan kebudayaan yang membersamakan ulamak, seniman, budayawan, para spiritualis, para guru kasepuhan, akademisi, dan masyarakat pada umumnya untuk bertemu pada titik sentral “KEARIFAN” yang merupakan titik temu spirit AGAMA dan KEBUDAYAAN. Tentunya spirit tersebut yang akan terus menjadi ruh gerakan kebudayaan berikutnya.

Untuk gerakan kebudayaan berikutnya, Dewan Kesenian Jember, segera mencari informasi di brang kulon Jember. Kalau di Bhumi Watangan titik pijakannya adalah peradaban purba palaeolithikum, sekitar 20.000 tahun silam, sepertinya di brang kulon ini Dewan Kesenian Jember akan berguru dulu pada wasiat moyang yang ber CANDRA SENGKALA: TLAH SANAK PANGILANGANKU, yang berarti: 0101, atau 1010 Çaka, sama dengan tahun 1088 Masehi. Wasiat itu ada di prasasti yang dikenal dengan prasasti Congapan yang berlokasi di Dusun Congapan, Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru. Hal yang paling esensial dan substansial dari wasiat Congapan tersebut adalah frase Jawa kuna yang berbunyi: SARWWA HANA yang berarti: SERBA ADA. Nah, dari kajian wasiat itulah akan ketemu bentuk even kebudayaan yang akan kita gelarkan seperti apa?

Kami dari Dewan Kesenian Jember sangat membutuhkan pendapat, wawasan, gagasan, nasehat, konsep serta dampingan dari para ulamak, para budayawan, para seniman, akademisi, para guru kasepuhan (kebatinan), para spiritualis, dan seluruh masyarakat pemerhati kesenian dan kebudayaan dalam merencanakan dan mendesain konsep gelaran KEBUDAYAAN berikutnya ini yang kalau Gusti Allah mengijinkan akan digelarkan di brang kulon Jember.

Demikian,..rahayu rahayu rahayu sagung dumadi.