Oleh: Wawan Susetya
(Pegiat Maiyah Tulungagung).
Banyak Peristiwa Kecele dalam Kehidupan
Oleh: Wawan Susetya
Ada tiga orang Muslim yang merasa sangat PD karena amal sholehnya yang tergolong luar biasa. Yang pertama merasa percaya diri karena menjadi syuhada (gugur di medan perang) membela agama Islam.
Yang kedua seorang Ulama yang merasa yakin dengan amal sholehnya yang hebat dengan melakukan syiar dakwah ekstra ordinary kepada masyarakat. Dan yang ketiga seorang hartawan yang senantiasa melakukan infak shodaqah dari kekayaannya.
Ketiganya merasa yakin akan mendapatkan imbalan surga di akhirat. Ketika di akhirat, mereka, mereka bertanya kepada Allah apa balasan bagi orang-orang yang beramal sholeh hebat seperti itu? Lalu Allah menjawab: neraka! Mengapa? Sebab mereka ketika menjalankan amal sholeh itu bukan karena Allah arau tidak ikhlas, tetapi karena mengejar popularitas dan kemasyuran namanya saja.
Demikian kisah tersebut disampaikan Wawan Susetya dalam diskusi Maiyah Tulungagung, Segi Wilasa Agung (SWA), Jumat malam (3/6) di base camp Maiyah, Tretek Tulungagung.
Tema yang diangkat dalam diskusi malam Sabtu Legi itu Kecelak-Kecelik. Diskusi Maiyah SWA diadakan tiap bulan sekali, yakni tiap malam Setu Legi (Segi).
Sebelumnya Dhiyak menyampaikan gagasannya bahwa problematika dalam kehidupan ini tentu banyak dugaan atau asumsi yang kadang sudah diyakini kebenarannya. Padahal sejatinya itu masih berupa dugaan atau asumsi yang bisa jadi akan menjadi salah. Itulah sebabnya ia berpendapat tak semestinya kita meyakini sesuatu (dugaan dan asumsi) menjadi suatu keyakinan yang bisa menyebabkan kecele.
Sementara itu, Agung Pinastiko mengisahkan peristiwa kecele dalam peristiwa sejarah penyerangan pasukan Kediri yang dipimpin Jayakatwang ke Singosari. Saat itu, Jayakatwang melakukan strategi perang dari dua arah: utara dan selatan.
Pasukan Kediri dalam jumlah besar menyerang Singosari dari arah utara, sehingga Raden Wijaya mengerahkan prajurit menghadapi serangan dari arah utara. Tetapi apa yang terjadi? Ketika prajurit Singosari berkonsentrasi menghadapi serangan prajurit Kediri dari arah utara, tak tahunya Jayakatwang beserta tentaranya menggebuk dari arah selatan.
Tak ayal, serangan yang tak diduga-itu membuat Prabu Kertanegara wafat. Hal itu disebabkan Raden Wijaya, menantu Prabu Kertanegara kecele saat menghadapi serangan prajurit Kediri dari arah utara.
Sebaliknya peristiwa juga kecele juga dialami Prabu Jayakatwang (Raja Kediri) pasca menaklukkan Singosari. Sebelumnya ada peristiwa utusan dari Dinasti Mongolia datang ke Singosari supaya menyerah kepada Kaisar Khubilai Khan.
Prabu Kertanegara geram, lalu utusan tersebut dipangur (diiris daun telinganya) lalu kembali ke Mongolia. Tentu saja Kaisar Khubilai Khan marah sehingga mengirimkan ribuan tentara Tartar Mongolia hendak menyerang Singosari.
Pada saat itu prajurit Mongol bertemu dengan Raden Wijaya. Atas kecerdikannya, Raden Wijaya memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Tentara Mongol yang semula hendak Singosari, padahal kerajaan itu telah runtuh dengan wafatnya Prabu Kertanegara, maka Raden Wijaya mengajak tentara Mongol menyerang Kediri. Strategi Raden Wijaya berhasil, sehingga Prabu Jayakatwang pun tewas.
Berarti tentara Mongol kecele. Pasca hancurnya Kediri, Raden Wijaya memanfaatkan kesempatan dengan menghabisi ribuan tentara Mongolia. Setelah itu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit tahun 1293.
Peristiwa-peristiwa kecele telah banyak terjadi yang semestinya dijadikan pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan.
Suasana diskusi Maiyah yang dipandu Helmi itu terasa makin gayeng saat dialog. Dan tak terasa obrolan ringan tapi esensial itu sampai pagi.
