
Catatan Yousri Raja Agam II.
Hari ini, Selasa, 1 Februari 2022, tanggal merah, peringatan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2573. Shio tahun 2022 ini, adalah Macan. Sama pula dengan shio orang-orang yang lahir tiap kelipatan 12 tahunan, yaitu: tahun 2010, 1998, 1986, 1974, 1962 dan 1950. Dan terus keliparan 12 berikutnya ke belakang dan ke depan. Dan, warna merah paling dominasi dalam merayakan Imlek.
Tetapi, di sini saya tampilkan “macan” sebagai lambang dan warna khas, Luhak atau Kabupaten Agam di Sumatera Barat. Binatang “macan” yang merupakan “lambang” keperkasaan dan warna “merah” merupakan warna khas, bermakna keberanian. Luhak Agam, wilayahnya kini meliputi Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Dulu Bukittinggi adalah ibukota Kabupaten Agam. Sehingga adanya nyanyian: “Bukiktinggi koto rang Agam” — Bukittinggi itu kotanya orang Agam.
Marawa atau bendera dan umbul-umbul Minangkabau tiga warna; Kuning-Merah-Hitam menjadi satu kesatuan. Tiga warna itu merupakan warna lambang daerah tiga luhak, sebagai cikal-bakal wilayah Kerajaan Minangkabau.
Kuning:Luhak Tanahdatar.
Merah: Luhak Agam.
Hitam: Luhak 50 Kota.
Sekarang, luhak itu berubah menjadi kabupaten. Sehingga, Bukittinggi menjadi pemerintahan sendiri Kota Bukuttinggi. Sedangkan Agam sebagai kabupaten, ibukotanya pindah ke Lubukbasung, Kecamatan Tanjungraya.
Tanahdatar, merupakan Pusat Kerajaan Minangjabau, tepatnya di Pagaruyung, Batusangkar. Dari luhak nan tigo, luhak yang tiga itu berkembanglah penduduk Minang ke wilayah sekitarnya. Sehingga Minangkabau itu meliputi seluruh wilayah Sumatera Barat, bagian bara Jambi, bagian Utara Bengkulu, bagian Barat Riau dan bagian Selatan Sumatera Utara. Bahkan sebagian besar wilayah Negeri Sembilan, Malaysia.
Lambang daerah yang ditandai dengan bendera tiga warna Kuning-Merah-Hitam, mirip bendera Jerman. Namun, lebih khas digunakan dalam bentuk umbul-umbul yang disebut “marawa” yang dipasang pada acara atau upacara tertentu di Ranah Minangkabau, Sumatera Barat.
Bagi orang Agam, “macan” melambangkan keperkasaan wilayahnya. Salah satu wujudnya, memasang “patung macan” di depan Pasar Atas, Kota Bukittinggi, berdekatan dengan Jam Gadang yang menjadi ikon kota berjuluk Kota Tri Arga itu.
Oh ya, bagi orang Agam, Harimau atau Macan memang bukan hewan yang harus ditakuti. Dulu, kakek-kakek kami “biasa” memelihara harimau, yang kandangnya di bawah Rumah Gadang. Selain untuk menjaga keamanan, juga dijadikan tunggangan untuk bepergian jarak jauh. Si Raja hutan ini banyak hidup di hutan lereng Gunung Merapi dan hutan Gunung Singgalang, serta hutan lainnya di wilayah Sumatera.
Nah, apa kaitannya dengan shio Macan dan warna merah bagi orang Agam, dan warna merah yang mendominasi busana dan pernik-pernik Hari Raya Imlek sekarang ini? Wallahualam bi sawaab.
Gong Xi Fat Cay. Selamat merayakan Imlek bagi yang merayakannya.
