Paciran – menaramadinah.com : Pondok Pesantren Darus Salam Paciran, Lamongan malam itu (23/10) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara diawali dengan pembacaan sholawat mahalul qiyam oleh Group Hadrah Baitul Jannah Paciran.
Malam itu digelar juga berbarengan dengan Lailatul Ijtima’ NU Ranting Paciran. Dalam sambutannya, H. Abdullah Ma’shum, Ketua Tanfidziyah NU Ranting Paciran mensosialisasikan pengadaan Kartu Tangga Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) bagi Nahdliyin-Nahdliyat serta gerakan donasi perluasan masjid dan perkantoran NU Cabang Lamongan.
Gus H. Hamam Labib, pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Paciran menyampaikan bahwa acara malam itu digelar untuk mencari keberkahan dari Maulid Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Ceramah agama malam itu disampaikan oleh KH. Hasyim Jaelani, Sekaran, Lamongan. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan tentang keagungan Nabi Muhammad SAW. Sehingga nama Nabi Muhammad SAW. selalu bersanding dengan Allah SWT.
Bahkan dalam sebuah hadis menyatakan bahwa kunci surga (miftahul jannah) itu dari kalimat tauhid Laila haillallah Muhhammaddar Rasulullah. Dan itu termaktub dalam tradisi tahlilan.
Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. dengan usia yang tidak begitu panjang bila dibandingkan dengan umat Nabi terdahulu hendaknya tidak berkecil hati untuk bisa melebihi berbuat kebajikan dengan mewiridkan bacaan yang ringan tapi berpahala sangat besar yakni mewiridkan bacaan Subhanallah hil admin.
Di tengah insiden tawuran antar pesilat yang kemarin terjadi di Karanggeneng, Lamongan. Beliau berpesan agar semua pihak bisa menahan diri dan bisa ditempuh upaya islah antar pesilat yang bertikai.
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW. kita harus bersyukur sebab kelak dengan safaat dari Nabi Muhammad SAW. kelak apabila kita sebagai ahli neraka, maka kelak akan tertolong dari neraka dengan safaatnya masuk surga. Disamping itu karena berkat cintanya Nabi Muhammad SAW. kepada umatnya sehingga mampu meredam bala bencana yang akan ditimpakan kepada manusia karena kemaksiatannya. Oleh karenanya, kita harus menumbuhkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.
Tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Yang Pertama, kita harus memperjuangkan agama Islam, salah satunya melalui NU. Beliau sangat bangga dengan personel Banser NU dengan background yang beragam tapi rela berkhidmat untuk Islam melalui NU.
Beliau lalu menyampaikan pernyataan Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asya’ari, Pendiri NU. “Barang siapa yang mau mengurus NU, maka kelak akan saya anggap sebagai santriku. Barang siapa yang menjadi santriku maka akan saya doakan dia Bersama keluarganya untuk masuk surga.”
Lebih lanjut beliau juga menampaikan kepada para hadirin agar mau menitipkan pendidikan putra-putrinya ke pondok pesantren. Terlebih di tengah dinamika perkembangan jaman akhir-akhir ini. Insya-Allah, perkembangan putra-putrinya tidak akan tergelincir dengan fenomena kenakalan remaja.
Pendidikan untuk anak-anak kurang mampu juga harus diperhatikan, misalnya pendidikan siswa miskin atau siswa yatim-piatu. Sebab dalam hadisnya, Nabi Muhammad SAW.
Bersabda bahwa kelak beliau dan penyandang yatim-piatu akan sangat dekat bersama beliau di surga.
Kepada para hadirin yang mayoritas nahdliin-nahdliyat beliau juga menyampaikan agar mereka tidak ragu lagi dengan amaliyah tahlilan dengan sebuah kisah karomah Syaikhona Kholil Bangkalan yang berawal dari seorang hartawan di Madura yang keluarganya meninggal dunia, lalu untuk acara tahlilan keluarganya itu dia menyembelih sapi dan mengundang Syaikhona Kholil Bangkalan untuk memimpin tahlilan itu.
Tak disangka, saat memimpin tahlilan itu Syaikhona Kholil Bangkalan hanya mengucap lafadz Laailla haillallah tiga kali saja dan ditutup dengan lafadz Muhammadar rasulullah, lalu bergegas meninggalkan lokasi tahlilan. Tak ayal, tuan rumah dan para jamaah tahlilan itu dibuat penasaran/bingung dengan hal yang tak lazim itu.
Sang tuan rumah itu sebelumnya menyangka bahwa dengan menyembelih seekor sapi/kerbau itu Syaikhona Kholil Bangkalan akan memimpin tahlilan di rumah duka itu dengan waktu yang agak lama.
Ternyata, hal itu tidak dilakukan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan. Sang Kyai malah hanya mempimpin mengucap lafad Laailla haillallah hanya sekali saja, lalu Sang Kyai bergegas meninggalkan rumah duka itu.
Keesokan harinya, hartawan itu berkunjung ke ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan, dia lalu menanyakan keanehan itu, lalu dijawab oleh Syaikhona Kholil Bangkalan.
Bahwa keagungan lafad Laailla haillallah itu lebih berat daripada seekor sapi yang besar. Sang Kyai lalu menyuruh orang itu membuat timbangan dari pohon kelapa untuk menimbang sapi dengan selembar kertas yang ditulisi lafadz Laailla haillallah oleh Syaikhona Kholil Bangkalan.
Ternyata timbangan kayu menunjukkan bahwa yang lebih berat adalah kertas yang bertuliskan lafadz Laailla haillallah. Sehingga orang itu baru paham akan keagungan lafadz Laailla haillallah dan memaklumi tindakan Syaikhona Kholil Bangkalan.
Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan tak bisa dilepaskan dari kedermawanan ayah beliau, KH. Abdul Lathif.
Oleh sebab itu, hendaknya para jamaah bisa dermawan kepada orang lain. Tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Yang Kedua, kita harus harus menjalankan syariat yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Sedang tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.
Yang Ketiga, kita harus harus mau bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebanyak seratus kali pada pagi hari dan pada sore hari.
Menjelang tengah malam KH. Hasyim Jaelani mengakhiri ceramahnya.
Acara ditutup dengan doa oleh Al-Habib Hilmi bin Syeikh Abu Bakar, Pasuruan. Para hadirin lalu berebut snack, buah-buahan, hadiah/doorprice yang digantung panitia maulid di lokasi acara. Para hadirin senang dengan hal itu. Lalu mereka bergegas pulang dengan tertib.(Ried).
