Qurban dan Kegelisahan Pandemi

Oleh : Arief Adi Wibowo.

 

Ritual Idul Adha di kompleks kami makin tidak semarak tetapi lebih syahdu dibanding tahun awal pandemi lalu. Beberapa keluarga warga positif Covid 19, bahkan di hari takbir bergema, seorang tetangga baik meninggalkan kami semua setelah berjuang berminggu-minggu melawan sang virus. Di hari yang sama, di komunitas lain, sahabat saya Mas Islam (Deputy Director Technical Support Metro TV) pun berpulang dengan sebab yang sama.

Biasanya, suasana Idul Adha penuh riang gembira. Bapak-bapak yang bersemangat menyembelih hewan qurban, ibu-ibu saling berbagi tips resep olahan daging qurban, anak-anak riang gembira main sambil bertakbir dan para penerima daging qurban yang berseri-seri. Demi menaati ketentuan pemerintah sekaligus suasana berkabung, kami bersabar menunda kegembiraan seperti ini.

Kematian memang hak prerogatif Tuhan atas makhluk ciptaanNya. Kematian adalah momen sakral manusia, Ia adalah jembatan kita untuk kembali padaNYA. Logika manusia tidak pernah bisa menjangkau pertanyaan sederhana seputar kematian : kapan, dimana dan penyebabnya. Pun kematian banyak ulama/kyai/guru, kerabat, kolega dan sahabat akibat Covid adalah kehendakNYA.

Sebagai santri, tidak ada keraguan atas hal di atas. Tetapi sebagai manusia yang punya perasaan, tidak bisa dipungkiri jika saya termasuk terusik dan marah saat kematian atas wabah ini dipolitisir secara kejam oleh manusia lain atas motif dan syahwatnya.

Kicauan para bedebah ini leluasa merasuk dalam bilik-bilik informasi akibat makin saktinya teknologi komunikasi dan informasi zaman now. Dan para bedebah ini pun bukan orang bodoh, melainkan terdidik. Membalut framing mereka dengan kelihaian semiotik dan permainan nalar angka. Kelasnya tentu berbeda dengan para bajingan yang gemar menghembuskan kabar hoax dengan menipu atau berbohong lewat cara kampungan. Tapi kedua jenis manusia ini sama-sama biadabnya. Mereka sama-sama menyebar racun pada manusia lain.

Bedebah pertama, bermain komparasi angka kematian. Membandingkan angka kematian Indonesia dengan negara lain seperti Inggris. Saya tidak mau meributkan soal ketiadaan rasa/empati di hati beliau. Tapi saya cuma mau bermain dengan cara dia.

Sungguh disayangkan intelektualitas direndahkan demi membela sebuah kepentingan (saya tidak mau berburuk sangka meletakkan motif komersial). Tujuannya sederhana, mau menyatakan penanganan Covid kita lebih baik dari Inggris dari angka kematian.

Namun, membandingkan dua hal yang berbeda adalah sesat. Inggris memiliki tingkat test & tracing jauh lebih hebat di atas kita. Mereka di level 3,4 juta tes per 1 juta penduduk. Kita? Cuman 86 ribu per 1 juta penduduk. Jika banyak pandangan beredar dari para pakar di media, mereka menduga sesungguhnya angka kematian hingga gelombang kedua ini lebih besar, bisa iya meski bisa tidak. Tapi yang jelas, kita harus mengakui bahwa kita (Indonesia) payah dalam melakukan test & tracing.

Bedebah pertama termasuk golongan penyebar positivity toxic pada masyarakat. Bahwa seolah semua baik-baik saja, membuat kita abai terhadap masalah penting.

Bedebah lain, secara lihay membungkus narasi intelektualnya dengan motif politik. Seolah gubernur A itu lebih top dibanding yang lain dalam penanganan Covid. Dipajanglah foto si gubernur bersama dirinya. Di sisi lain, dia mengumbar semua kritikan pedas untuk yang lain, seakan tidak ada kerja yang benar dari pemerintah dalam penanganan pandemi. Saat ia seharusnya sebagai akademisi ikut meresonasikan kampanye penting terkait penanganan Covid, tapi malah diam, dan sebaliknya.

Inilah bedebah jenis penyebar negativity toxic. Ia membangun keresahan hingga keputusasaan.

Jangan kita menjadi munafik tetapi juga nihilis apalagi dalam situasi seperti ini. Kita sedang mempertaruhkan keselamatan jiwa warga negara. Jangan juga kita memperolok kematian dengan cara rendahan. Yen ngono, ojo ngono. KUWALAT SAMPEYAN PODO!

Sesungguhnya lawan terberat bangsa ini bukan pada sang virus. Virus Corona makhluk yang sederhana struktur DNA, dan terbaca jelas cara transmisinya. Tapi lawan kita ya pada perilaku diri sendiri, ketiadaan rasa kemanusia serta ketamakan atas nama kepentingan pribadi/golongan.

Wis, cukup sekian. Karena sop kaki kambing masakan istri sudah mateng. Sebagai tukang potong daging, waktunya dapat upah atas jerih payah. Saatnya nambah imunitas dan vitalitas šŸ˜Ž

Ciganjur, 22 Juli 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *