Catatan Perjalanan menjadi Wartawan Jawa Pos (5)

 

Tofan Mahdi punya kenangan yang tidak bisa dilupakan saat ditugaskan liputan di Jakarta. Seperti apakah. Berikut ini laporannya:

– Catatan Perjalanan menjadi Wartawan Jawa

Setelah resmi menjadi wartawan Jawa Pos, Mei 1997, saya hanya tiga bulan bertugas di Surabaya. Memasuki bulan keempat, dua dari 11 wartawan baru pindah tugas ke Jakarta. Yaitu saya yang ngepos di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI) dan Mohamad Susilo yang ngepos di DPR dan Polhukam (desk politik dan hankam).

Tentu di Jakarta tidak dengan modal pengetahuan pasar modal yang nol. Tiga bulan di Surabaya saya cukup intens meliput kegiatan transaksi saham baik di BEJ maupun di Bursa Efek Surabaya. Termasuk meliput dan mewawancarai manager investasi, saat itu belum sebanyak sekarang. Saat itu paling sering meliput dan mewawancarai pimpinan Danareksa Surabaya, yang kantornya di Menara BRI Jalan Basuki Rahmat.

Saya beruntung dapat tandem yang telaten mengajari bagaimana meliput dan menulis berita-berita Ekbis sehingga berbeda
dengan tulisan advetorial. Tandem saya adalah Mas Dwi, nama lengkapnya Wahyu Dwi Fintarto. Dari Dwi inilah saya mulai diperkenalkan dengan sejumlah pengusaha, analis, dan eksekutif perusahaan. Salah satunya dikenalkan dengan Direktur PT Intiteladan Sekuritas (ITAS) Leo Herlambang.

“Ayo saya kenalkan pengamat pasar modal top, sik enom wis dadi direktur (masih muda tapi sudah jadi direktur),” kata Dwi kepada saya.

Kami pun berboncengan menuju kantor PT ITAS di kawasan Jemur Andayani. Benar juga, kesan pertama tentang Leo Herlambang ini, orangnya kalem, santun, dan pinter. Di sinilah kali pertama saya mengenal dunia pasar modal secara detail.

“Ayo wis belajar dewe wae Dek,” kata Leo sambil menunjukkan pergerakan harga saham di monitor RTI. Leo yang merupakan doktor ekonomi Islam dari Universitas Airlangga saat ini menjabat Wakil Rektor UISI (Universitas Internasional Semen Indonesia). Sampai saat ini, Leo selalu memanggil saya dengan awalan Dek. Saya sendiri memanggil beliau dengan “Mas Leo”.

Selain dunia pasar modal, saya juga mulai mengenal para pelaku bisnis di sektor properti, manufaktur, perbankan, asuransi, dan telekomunikasi. Mungkin inilah yang dimaksud Pak Dahlan Iskan bahwa menjadi wartawan memiliki kesempatan belajar banyak
hal. Tetapi karena saat itu berpikir bahwa menjadi wartawan adalah segalanya dan akan selamanya, saya tidak fokus untuk belajar teknis dan detail tentang suatu bisnis. Pak Dahlan melakukan hal ini, belajar aspek makronya tetapi juga menguasai detail mikronya. Dan Pak Dahlan pun sukses sebagai wartawan juga pengusaha.

Baru tiga bulan menikmati proses menjadi wartawan ekonomi dan bisnis di Surabaya, tiba-tiba Kepala Redaksi Jawa Pos H. Solihin Hidayat meminta saya pindah tugas ke Jakarta. “Sayang potensi Anda kalau hanya di Surabaya. Kita itu baru teruji jadi wartawan kalau sudah pernah di Jakarta.” Di Jawa Pos tidak ada istilah “pikir-pikir dulu” apalagi menolak perintah. Perintah pindah ke Jakarta pun saya laksanakan.

Saya lupa persisnya, tapi yang saya ingat waktu di Bandara Juanda saat akan terbang ke Jakarta dengan pesawat Bouraq, stasiun TV yang saya lihat di bandara ramai memberitakan tewasnya Lady Diana dalam sebuah kecelakaan di Paris Prancis. Berarti saya ke Jakarta akhir Agustus 1997.

Beruntung di Jakarta tidak sendiri, tetapi ada teman satu angkatan, Mohamad Susilo. Kami berdua sama-sama orang udik yang belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Saya dari Pasuruan dan Susilo dari Jepara. Tentu saja, banyak psychological shock pada pekan-pekan pertama di Jakarta. Awal tiba di Jakarta saya dan Susilo satu kos di sebuah gang di daerah Palmerah.

Di Jakarta saya tidak memiliki motor. Saat itu di Jakarta belum ada busway. Jadi liputan mengandalkan transportasi umum mikrolet dan bus kota. Rutenya kalau liputan ke Gedung BEJ, dari Palmerah naik M09 atau M11 turun di Slipi. Kemudian lanjut naik Bus M45 arah Blok M turun persis di depan Gedung BEJ (sekarang Gedung BEI). Pernah sekali nyasar, saya naik bus 123 yang mengarah ke Senin melalui Bundaran HI. Sadar nyasar, saya turun di Hotel Le Meridien Sudirman. Karena ini pengalaman pertama, saya belum tahu persis di mana Gedung BEJ.

“Mas Gedung BEJ mana ya?” tanya saya kepada seseorang yang saya temui di jalan.

“Itu Mas kelihatan dari sini”, katanya.

“Oh itu, gak jauhlah,” batin saya. Saya pun jalan kaki menuju gedung pusat transaksi saham ini. Ternyata gedungnya dekat di mata jauh di kaki. Sampai di BEJ, saya pun gobyos (mandi keringat). Banyak kisah lucu lain karena keluguan saya saat awal di Jakarta.

Meski tidak yakin mampu menaklukkan Jakarta, saya beruntung memiliki banyak teman dan senior yang baik di sini. Baik para wartawan Jawa Pos biro Jakarta seperti Sururi Al Faruq (sekarang Direktur Koran Sindo), Djono W Oesman, Ose Zemud (Syafii Zemud), Bahar Maksum, dan banyak lagi. Juga teman-teman baru yang sama-sama ngepos di pasar modal seperti Hadi Prayogo (Harian Surya), Wahyu Atmaji (Suara Merdeka), dan Eva Martha Rahayu (Suara Indonesia). Teman-teman inilah yang membuat saya krasan dan mampu bertahan menjadi wartawan di Jakarta, tentu saja dengan segala dinamikanya.(tofan.mahdi@gmail.com/ bersambung)

foto: Empat orang wartawan Jawa Pos biro Jakarta saat menghadiri jumpa pers di kantor Kementerian Keuangan, 1997. Dari kiri: Syafii Zemud, Sururi Al Faruq, saya menggunakan topi berlogo Bursa Efek Jakarta, dan Auri Jaya.