Ikan Pindang, Nasi Pindang, Pesan Suci Sunan Kudus dan Sunan Drajad

 

: catatan badogan Mashuri Alhamdulillah

1

Suatu siang, awal tahun 2007, dalam suasana masih pengantin baru, saya dan isteri mampir ke sebuah warung legendaris di dekat alun-alun Tayu, Pati, Jawa Tengah. Saya duduk dan ditawari makan oleh isteri dengan menyebut kata ‘pindang’. Saya hooh saja. Pasalnya, dalam benak Jawa Timur saya, lauk itu berupa ikan laut, yang merupakan menu favorit saya waktu ingusan. Isteri saya pun memesan pada pelayan.

Alhasil, saya disuguhi sepiring nasi dengan kuah mirip gule, tapi cair dan tak bersantan, dengan beberapa potong daging sapi. Saya memandangnya sejenak, agak heran. Kemudian tanpa banyak kata, dengan perlahan, saya mulai menyendoknya sesuap demi sesuap ke mulut. Mungkin karena perpaduan antara lapar dan menu baru yang gurih dan lezat, tak terasa di atas piring hanya tersisa sendok dan garpu.

“Pindang kok daging sapi?” tanya saya pada isteri, karena merasa menu yang tersaji melampaui ekspektasi.

“Nasi Pindang itu makanan khas Kudus, seperti Nasi Gandul di Pati,” fatwa isteri.

Entah kenapa, sejak itu, saya tidak pernah andok Nasi Pindang ala Kudus lagi setiap kali ke Pati. Padahal penjualnya tidak hanya di Tayu. Banyak warung yang menyediakan menu tersebut, mulai dari Pati kota hingga ke Bulu Manis dan Margoyoso, dekat dengan Makam Mbah Mutamakkin di Kajen. Saya curiga, mungkin karena masakan mertua yang mantab abis dan Mangut Kepala Manyung ala Pati lebih membuat lidah saya tidak mudah pindah ke lain piring.

2

Saya tidak tahu asal-muasal Nasi Pindang Kudus itu berbahan daging sapi atau daging kerbau. Saya curiga itu sejenis modifikasi dari sajian asli atau hasil temuan orang Kudus generasi baru. Hal itu karena bukan rahasia lagi, berlaku menyakiti dan membunuh sapi merupakan pantangan bagi orang Kudus sejak baheula. Apalagi sampai menjadikan dagingnya sebagai menu santapan.

Konon, pantangan itu bermula dari titah Sunan Kudus, bernama asli Raden Jakfar Shodiq, yang melarang orang Kudus menyembelih sapi, untuk menghormati orang Kudus yang masih banyak menganut Hindu waktu itu. Bahkan, sang sunan yang terkenal kosmopolit itu membuat menara masjidnya berarsitektur candi, tempat pancuran air wudlu berbentuk makara seperti pada patirtan zaman klasik Jawa, dan sebagainya.

Tak heran, Soto Kudus kini pun dikenal punya spesialisasi. Selain disajikan dalam mangkuk mungil yang mengesankan orang Kudus itu pelit, Soto Kudus itu anti daging sapi dan lebih memilih daging kerbau sebagai pengganti.

Oleh karena itu, begitu Nasi Pindang dinisbatkan sebagai masakan khas Kudus, tentu harus ada penelitian lebih lanjut, baik secara historis terkait asal-muasal menu tersebut maupun kemungkinan lain, yakni pergeseran perspektif orang Kudus terhadap sapi.

3

Bagi masyarakat desa saya di Lamongan, Jawa Timur, sebutan pindang itu mengarah pada ikan laut yang sudah direbus dan siap saji. Ragamnya bermacam-macam, ada Pindang Layar, Pindang Tongkol, Pindang Abang, dan lain sebagainya. Biasanya dijual di pasar desa pagi hari atau diedarkan door to door oleh seorang yang dikenal penjual ikan matang pada siang atau sore hari.

Dulu, waktu saya kecil, biasanya ikan pindang itu dikemas dalam wadah khas secara berjajar. Biasanya, ditaruh di gerabah kecil yang dilapisi tangkai padi atau jerami. Kini banyak yang memakai ancak mungil terbuat dari belahan halus bambu. Dulu, favorit orang-orang kampung adalah air di bawah jerami. Biasanya, air yang keruh yang terasa gurih dan asin itu dimasak dengan diberi tambahan potongan cabe, bawang dan brambang, lalu dibuat lauk makan dengan nasi putih hangat. Rasannya, kata para ustaz, nikmat mana lagi yang kau dustakan.

Pada masa lalu, menu favorit saya adalah ikan pindang. Biasanya digoreng atau langsung dibadog dari pasar atau penjualnya, bila minyak goreng sedang tekor di dapur. Menu itu akan semakin nikmat bila dipadu dengan sambal korek dan sayur menir bayam (biasanya dengan jagung muda) atau sayur asam kecipir atau sayur asam petai cina.

Oleh karena itulah, setelah tahu ada Nasi Pindang ala Kudus pada masa-masa pengantin baru saya pun mencari-cari jenis pindang dari jenis ikan cucut. Hal itu karena di kawasan pesisir utara Lamongan, terutama Paciran, ada kawasan yang dipantangkan memakan ikan cucut oleh Sunan Drajat, walisanga dari Lamongan. Hal itu, konon, sebagai balas budi sang sunan pada jenis ikan tersebut yang telah membantunya menepi ke pantai karena kapalnya pecah dihantam ombak Laut Jawa.

Saya curiga telah terjadi perubahan perspektif orang-orang Paciran terhadap ikan cucut, sebagaimana yang terjadi di kawasan Bengawan Jero, Lamongan, yang ada masyarakatnya dipantangkan menyantap lele. Sebagaimana diketahui, telah terjadi revolusi perlelean bagi orang Lamongan. Meskipun dipantangkan menyantap lele, malah banyak yang punya usaha budidaya lele dan berkontribusi besar dalam menjadikan Penyet Lele Lamongan berkibar sebagai menu Nasional.

Uhui!

MA
On Sidokepung, 2021
Ilustrasi jepretan Nyonya Meneer. Sejoli pindang di cobek kemesraan.