KISAH NYI MAS LARA PANAS, NYI MAS PANGURAGAN, KI JAKATAWA, DAN SYEKH BENTONG

Keberadaan sejumlah makam di RW 02 Pamujudan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Berikut ini kisahnya :

Konon diantara makam tersebut adalah makam Nyi Mas Lara Panas masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Nyi Gede Lara Panas, dan siapakah Nyi Mas Lara Panas

Nyi Aminah telah menyungkemi suaminya, kemudian Datuk Isa berpamitan hendak membawa pergi istrinya itu dibawa menuju ke Pulau Malaka, dalam sekejap kemudian mereka sudah sampai di Pulau Malaka, setelah menetap disana kemudian banyak para pembesar Negara yang pada ikut berjamiyah disana, lama kelamaan kemudian Datuk Isa mempunyai putri yang cantik rupawan dengan diberi nama Nyi Rara Panas.
Namun setelahnya dewasa ia tidak bisa dinikahi disebabkan ia tidak dapat didekati oleh laki-laki yang bukan mukhrimnya
Laki-laki manapun tidak bisa menyentuh tubuhnya, walaupun itu seorang satria yang tampan dan sakti namun tetap saja ia takan sanggup menghadapinya, karena badan Nyi Rara Panas misa mengeluarkan hawa panas ataupun api.
Jika ada laki-laki yang memaksanya maka api yang keluar dari badanya bertambah besar, kemudian ada wangsit dari Eyang Syekh Maulana Ilafi kepada Nyi Rara Panas, bahwa kelak calon suaminya itu adalah putranya Syekh Qorra Karawang yang bernama Jaka Tawa (h. 052)
Suatu ketika Nyi Janda Aminah berkata kepada Datuk Saleh agar mencarikan jodoh untuk saudaranya Nyi Rara Panas, karena dahulu Eyang Maulana Ilafi pernah berkata bahwa yang ditakdirkan menjadi jodohnya adalah putra Syekh Qorra yang bernama Jaka Tawa dari Karawang, oleh orang tersebut supaya lekas dicarinya agar Nyi Lara Panas segera menikah, mendengar keluhan ibunya Syekh Datuk Saleh menyembah bakti lalu berkata, “masalah Jaka Tawa kelak akan datang sendiri, sebab berkah dari Kanjeng Eyang sendiri”.
Mendengar jawaban putranya itu kemudian Nyi Aminah terdiam, kemudian ada seorang tamu yang ternyata Ki Jaka Tawa dari Karawang, setelah dijamu kemudian ia menuturkan bahwa dirinya mencari Nyi Lara Panas untuk dijadikan istrinya, Nyi Aminah sangat bersyukur kepada Allah SWT, setelah mereka menikah tinggal sementara di Malaka
Kemudian mereka berpamitan hendak pergi ke Mandharasa Karawang, demikian juga keponakannya yang bernama Nyi Panguragan ikut serta ke Pulau Jawa. (h. 054)
Syahdan Syekh Bentong yang tinggal di Karawang bersama sanak keluarga, Jaka Tawa, Sang Ayu Lara Panas, Nyimas Panguragan, mereka merasa betah disana, disetiap harinya beribadah kepada Hyang Widhi dengan aman dan damai, lama-lama Syekh
Bentong mempunyai putra, ia sangat menyayangi anaknya itu hingga setiap hari tak pernah dilepaskannya diasuh dan ditimang-timangnya sendiri

Sumber : Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

Gambar ilustrasi. ISN