Oleh : Bambang Asrini Widjanarko.

site specific/ environmental art gigantik, karya Kilau Art Studio, Jagakarsa, Jakarta Selatan berkolaborasi dengan pengrajin materi Resam lokal ini, di Muaro Jambi, Prov.Jambi menantang kita banyak tafsir dan pemaknaan.
Pertama tentang situs (sites), yang bisa menggunakan beberapa pendekatan, baik sejarah, arkeologi pun antropologi. Karya instalasi lumayan besar ini sudah semestinya direlasikan dengan Kedaton (instalasinya persis berada beberapa ratus meter dari Kedaton), satu tempat dari puluhan lokasi dalam kompleks Candi Muaro Jambi dalam masa keemasan Kerajaan Sriwijaya itu, sang Dharmakirti, dibangun disekitar abad 5-7 Masehi.
Kedaton, dipilih sebab area ini adalah sebuah “Global Ancient College” yang terjadi proses ajar-mengajar tak hanya spiritualitas Budha, namun ilmu pengetahuan umum (diantaranya Liberal Arts) seperti: medis, filsafat, sastra, beladiri-sports, astronomi, seni dan arsitektur/tata kota dll. Atisha dan I-tsing, dua pembelajar hebat ini mengungkap di catatan-catatan musafirnya, yang bisa kita temui jejak-jejak naskahnya di Tibet, Tiongkok, India, kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, mungkin juga Asia Selatan (silakan para arkeolog, jurnalis, antropolog, sejarawan dll menambahkan, filolog juga boleh, ahli naskah kuno…π).
Seniman kolektif dari Jakarta, kemudian ingin menyambung yang kuna dan fenomena saat ini, bagaimana ilmu pengetahuan, kebajikan-kebajikan nalar dan rasa mulai ditanggalkan demi syahwat kondisi “materialisme modernitas”.
Yang kedua adalah materi Resam (dicrapnoteris linearis, jenis tanaman paku). Tanaman gulma Resam, yang aplikatif untuk membuat benda-benda pakai ini juga terkenal di Sumatera sebagai tanaman obat dan materi yang liat tatkala terkena air juga mudah dibentuk. Kelak, secara ekonomi Resam diharapkan membantu masyarakat sekitar Candi untuk berdikari dengan lebih kreatif dengan adanya seniman-seniman visual itu.
Yang menarik dari Resam, materi ini sepertinya mentransmisi kondisi miris lingkungan hidup di Muaro Jambi, sebab Tambang dan Sawit mengeksploitasi dan memberi dampak buruk pada tanah, udara dan tentu saja cadangan air bersih. Seniman-seniman itu mencoba menghubungkan instalasi Resam dan krisis ekologi. Disana, environmental art lebih jelas mengemuka.
Yang ketiga adalah visualisasi instalasi yang serupa gerak organik, yakni rupa Biomorf. Bentuk yang bergelombang, transparan, meminimalkan sudut-sudut yang runcing. Terasa seperti Eros, energi mahluk hidup. Komunitas Kilau Art Studio dengan para mitranya, sekaligus pengrajin Resam dan pemuda-pemuda karang taruna setempat bersepakat bahwa karya instalasi seperti gerak peradaban yang tak henti.
Hal itu, meminjam konsep Cakra atau yag lain: Thawaf, bergerak bisa jadi melingkar atau tak teratur. Masyarakat Muslim setempat sangat dekat secara spiritual pun kultural dengan aura sejarah panjang dinding-dinding bata ribuan tahun, gundukan-gundukan tanah, kanal, kolam-kolam/kubangan kuno disana.
Judul karya Instalasi, Harmoni (2020), mungkin seperti doa bagi bangsa yang sedang sakit ini, yang terpapar Pandemi pun juga Hasrat yang bersimaharaja dalam Perebutan-Perebutan Kuasa para Pemimpinnya? Yang pasti Brotah dan Sistah, seni masih menjadi sandaran harap kita, akar yang kuat menghunjam di lubuk hati dan nalar, untuk kelak bertumbuh di masa depan: Indonesia bisa berubah. Salam Cinta dan Bravo Kilau Art Studio πππ foto dan teks: bambang asrini, video: Rengga Gautama Satria dan para kolaborator: Saepul Bahri, Faturrahman Ardiansyah…silahkan tambah sendiri, mumpung masih muda-muda, hamba dah lansiaπ
