(Sebuah Catatan dari Perjalanan Haji) Hadi Winarno.
Sebelum menulis surat ini, seorang kawan bertanya lewat telepon, gimana rasanya jadi pak haji?
Jawaban saya sederhana saja. Biarlah apa yang saya alami selama menunaikan ibadah haji ke tanah suci menjadi semacam “wasiat abadi” dari Tuhan buat saya, dan saya akan bahagia sekali dengan tetap menyimpannya sebagai “sesuatu rahasia” yang membuat saya punya hati bisa hidup dengan sebaik-baiknya, sesubur-suburnya, selebat-lebatnya dengan aneka pohon dan buah kebaikan. Bukankah ukuran yang paling nyata dari mabrur-nya ibadah haji adalah tindakan kita setelahnya?
Jadi, hal yang bisa dibagi — seperti biasa — adalah cerita-cerita ringan saja selama menunaikan ibadah haji. Di sela-sela waktu menjelang jumrah aqobah ini, ada hal yang mungkin menarik dirangkai ceritanya. Cerita itu tak lain adalah tentang “JAWA HALAWA.”
Ini cerita lama yang lambat laun mulai pudar, mulai dilupakan orang, dan mungkin sebagian serpihannya masih tersimpan rapi di Center for History of Mecca and Madina. Jawa Halawa arti harafiahnya adalah “Jawa yang manis.” Tetapi arti sosialnya jauh lebih luas.
Kita mulai saja dengan kata JAWA. Kata Jawa secara umum digunakan untuk menandai orang-orang muslim dari Asia Tenggara, yang pada rentang waktu tahun 1900 – 1950 melalui perjalanan haji, telah berhasil membentuk sebuah komunitas para mukimin, atau mereka yang datang dari jauh dan bermukim di Mekah dan sekitarnya. Pada tahun 1920-1930, komunitas yang disebut Jawa (atau Jawi) sebenarnya tidak semuanya berasal dari orang-orang yang secara etnis adalah orang Jawa. Mereka yang diberi identitas Jawa ini ternyata merangkum begitu banyak kalangan muslim di Nusantara, bahkan hingga Malaysia, Philippina, dan Thailand. Singkat kata, Jawa dalam konteks ini sama artinya dengan Asia Tenggara.
Para mukimin selain membangun komunitas tersendiri, sebagian juga berbaur dengan penduduk Mekah dan membentuk “hybrid generation.” Dari sini pula bisa dijelaskan tampilnya beberapa ulama di Saudi yang memiliki kaitan genealogis dengan para mukimin.
Mengapa disebut Jawa Halawa?
Inilah bagian menarik yang mulai dilupakan itu. Orang-orang Mekah pada periode yang panjang selama sekitar 50 tahun lebih dari tahun 1900-an itu melukiskan saudara-saudara mereka sesama muslim dari Asia Tenggara sebagai …”orang-orang yang murah senyum, suka memberi bingkisan kecil yang menyenangkan, tidak pemarah, dan tekun beribadah.”
Cerita yang saya himpun melukiskan rekaman yang menarik. Jika ada kapal laut dari Asia Tenggara yang merapat di Port Jedah, Port Sudan, atau Port Said (Mesir) umumnya segera menjadi berita dari bibir ke bibir di kalangan penduduk Mekah. Segera muncul bayangan akan ada saudara-saudara dari jauh yang biasanya datang untuk haji tapi juga menukarkan barang-barang sederhana, yang sebenarnya bernilai tak lebih dari sekadar sebagai buah tangan. Benda-benda seperti payung, piring, sarung, minyak wangi, atau resep kuliner sederhana akan datang bersama “orang-orang Jawa” ini.
Penduduk Mekah pada masa itu jauh tak bisa dibayangkan dengan hari ini. Secara ekonomi, Saudi di era 1900-1950 adalah miskin. Orang-orang Mekah punya kebiasaan menyambut para “peziarah” dari Jawa ini dengan sukacita. Biasanya, benda-benda yang dibawa orang-orang Jawa akan dibeli dengan harga murah, atau malah dipertukarkan dengan apa yang mereka miliki. Sebagian cerita bahkan menyebutkan, tak jarang orang-orang Jawa memberikan apa yang mereka bawa sebagai perbekalan haji itu secara gratis. Hubungan baik ini berumur lama, dan terus berkembang dari waktu ke waktu, membentuk semacam simbiosis mutulisme yang kuat.
Kisah-kisah tentang orang Jawa yang pemurah dan memiliki reputasi tinggi sebagai sahabat penduduk Mekah lambat laun berubah. Sejak awal 1950-an, aneka sumber minyak ditemukan di Saudi Arabia. Bahkan, sejak tahun 1966, untuk pertama kalinya perusahaan minyak gabungan Arab Saudi – Amerika Serikat (Aramco) berhasil melakukan ekspor dalam jumlah besar selain terus menerus menemukan aneka ladang minyak yang baru dengan deposit yang mencapai miliaran barrel.
Rejeki minyak yang berlimpah telah menyulap Saudi yang miskin menjadi negara petrodolar hanya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Di awal tahun 1970-an, Raja Faisal bahkan telah mampu mengangkat status Saudi setaraf dengan Mesir dalam percaturan politik di Timur Tengah. Bahkan Saudi terasa menyalip peranan mesir sepeninggal Gamal Abdul Nasser. Pada periode yang sama, saudara-saudara mereka dari Jawa (dan Asia Tenggara secara umum) tak banyak berubah. Mereka tetap berhaji dengan menggunkan kapal laut, setidaknya hingga sampai tahun 1976, tahun-tahun awal dimana masyarakat saudi secara bertahap berubah karena memodernisasi diri dengan cepat.
Di manakah “Jawa Halawa” setelah itu?
“Kaum Jawa” atau “orang-orang Jawi” seperti diidentitaskan pada periode 1900-1950 telah hilang. Identitas itu selanjutnya berubah menjadi “jemaah haji Indonesia, Malaysia, Thailand, Philippina, Singapura, dan kemudian Brunei.”
Terasa menggugah sekali menelusuri meredupnya hubungan “people to people” atau “culture to culture” ini seiring menguatnya hubungan — atau bahkan persaingan — yang bersifat “government to government.” Memang tidak seluruhnya hilang, tetapi yang jelas, dengan menguatnya peranan government, akibatnya adalah hubungan-hubungan kultural itu perlahan-lahan memudar. Perjalanan haji tak selalu berwajah “persaudaraan sesama muslim” … meski tak berarti bahwa “Islamic brotherhood” menyurut dalam ibadah haji yang manajemen penyelenggaraannya telah memasuki era modern.
Jika “Jawa Halawa” adalah salah satu penanda terpenting dari jenis “persaudaraan Islam” pada suatu masa, mungkin setiap masa punya wajah yang khas dalam menghadirkan “persaudaraan Islam” itu.
Hari ini, teknologi informasi bisa dikatakan telah merubah semuanya. Para jemaah haji terkoneksi satu sama lain dengan telepon genggam, mulai dari yang paling sederhana, sampai yang paling canggih dengan aneka fitur. Tidak hanya itu, area Masjidil Haram kini benar-benar telah disulap untuk memenuhi cita rasa Abad 21 yang gemerlap.
Tetapi selalu ada sebagian dari jemaah haji yang masih menyisakan cerita-cerita seperti “Jawa Halawa.” Mereka datang dengan menumpang kapal laut, menyusuri jalan darat beberapa minggu, datang ke Masjidil Haram dengan tak selalu dilengkapi dokumen-dokumen modern yang disebut paspor dan visa, serta tidur di berbagai pelataran hotel mewah di sekililing Masjidil Haram. Orang-orang ini begitu menyentuh, dan hati saya selalu tertambat kepada mereka. Orang-orang ini datang dari Waziristan, Balukistan, Chechnia, Kashmir, Bombay, Gujarat, Ethiopia, Somalia, Eritrea, Sudan, Nigeria, Burkina Faso, Liberia, Ghana, Mali, Chad, dan masih banyak lagi.
Seorang jemaah haji dari Waziristan, Muhammad Yaqub, juga Murad dari Sokoto, Nigeria, dan Ismail dari Somalia ikut membentuk bagian terpenting dari perjalanan haji saya. Bersama orang-orang ini, juga kerabat mereka, beberapa kali saya berbagi makanan, bicara sambil minum kopi seharga satu riyal, dan bercanda sambil bersusah payah memahami kemampuan bahasa Inggris mereka yang rada kacau.
Saya merasa bersukur begitu rupa ke hadirat Allah, karena berjumpa dan bergembira bersama para jemaah haji model “Jawa Halawa” ini. Betapa tidak. Mereka tidur tepat di bawah jalan besar berjarak 100 meter yang mengubungkan Gate King Abdul Aziz di Masjidil Haram dengan Hotel Grand Zam Zam Tower, sebuah hotel mewah terbaru sekaligus tertinggi di Timur Tengah, dengan ketinggian hampir mencapai 560 meter dengan jam raksasa di puncaknya. Di Grand Zam Zam inilah saya bersama rombongan jemaah haji Cordova dari Indonesia menginap.
Tahun 2009 telah begitu berbeda dengan tahun-tahun “Jawa Halawa” …
Mekah tumbuh dengan cepat menjadi metropolitan baru di Timur Tengah. Tahun 2010 sampai 2012 secara bertahap akan menandai hadirnya monorail sebagai sarana transportasi massa baru menambah moda angkutan yang sudah ada hari ini. Master Plan Kota Mekah juga mengalami perkembangan luar biasa, dimana daerah di sekitar Masjidil Haram dalam lima tahu terakhir telah “dibebaskan” oleh pemerintah Saudi, dengan cara membeli semua tanah milik perusahaan maupun milik warga Mekah, untuk selanjutnya dibangun aneka hotel modern di atasnya. Perluasan Masjidil Haram telah menandai tahapan ini. Bagi siapa saja yang berkesempatan melihat Mekah hari ini, ia pasti akan berpikir bahwa modernisasi ini ibarat sebuah “point of no return” … ibarat sebuah langkah yang tak bisa mundur lagi.
Sampai-sampai, seorang jemaah haji Cordova mengatakan — dan mungkin ungkapan itu meluncur saja dari mulutnya tanpa ia sadari — saat dengan nada berseloroh mengatakan, “Masyaallah, kalau kayak begini jangan-jangan bangunan-bangunan di Mekah nanti sulit dibedakan dengan di Las Vegas.” Ia menambahkan, bedanya jika di Las Vegas banyak kehidupan malam yang haram, di Mekah kehidupan malamnya justeru halal, bahkan halalan thayyiban!
Sejujurnya, saya tertegun dengan seloroh kawan ini. Dan sama seperti saya, kawan ini setuju jika jiwa “Jawa Halawa” tidak boleh mati, betapapun modern dan majunya kota Mekah, betapapun modern dam canggohnya manajemen penyelenggaraan jemaah haji. “Jawa Halawa” adalah sebongkah simbol dari “persaudaraan Islam” yang tidak membedakan kaya-miskin, hitam-putih, pesek-mancung, bodoh-terpelajar, cantik-buruk rupa, sehat-cacat …
Di Masjidil Haram saya bersukur menemui gambaran “Jawa Halawa” yang tidak mati, meski gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih kadang membuat apa yang secara konsepsional disebut umat Islam, perlahan-lahan dihantam oleh tantangan yang begitu nyata dan terasa dekat: masih adakah tenaga solidaritas Islam yang luar biasa itu?
Bukankah solidaritas itu adalah salah satu rahmat Allah yang paling besar dari ibadah haji?
Jika Tuhan menakdirkan saya bisa menunaikan ibadah haji lagi pada masa depan nanti, barangkali saya akan menulis buku tentang sisi lain ibadah haji di era modern ini. Itulah salah satu doa terbesar saya di Tanah Haram hari ini.
(Mina, KSA, November 2009)
