Oleh : Irul S Budianto
Tahun 2000, Selasa pagi sekitar pukul 09.30 WIB saya dibangunkan istri karena ada tamu dari Surabaya. Angan saya saat itu langsung tertuju ke sosok Keliek Eswe, teman penulis yang punya samben jadi Dosen, karena ia memang sering mampir ke rumah saya yang biasanya makbedunduk datang begitu saja. Tapi ketika saya tanyakan ke istri ternyata jawabannya bukan dia, tapi orang lain yang belum dimengerti.
Saya pun bangun dan menemui tamu itu (tentu saja saya raup lebih dahulu). Ternyata di ruang tamu sudah menunggu teman penulis yang juga wartawan, Mas Bonari Nabonenar sambil klepas-klepus rokokan. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sejenak, Mas Bon, biasa saya memanggilnya, langsung menanyakan keadaanku. Selain apakah masih sering menulis, saya juga ditanya apakah sekarang sudah punya pekerjaan tetap. Saya pun menjawab dengan enteng, “Masih tetap jadi kelelawar. Keluar malam pulang pagi.”
Tanpa perlu berkata-kata panjang lebar yang dirasa mungkin hanya akan menguras energi, Mas Bon langsung menyatakan maksud kedatangannya di rumah saya. Mas Bon menawari perawan, eh pekerjaan jika saya berminat. Dan pekerjaan itu katanya masih sejalan dengan hoby saya sehari-hari yakni menulis. Saya ditawari untuk mengisi posisi wartawan karena salah satu media yang bermarkas di Gedung Graha Pena Surabaya masih ada yang kosong untuk wilayah kerja Solo dan sekitarnya. Tentu saja, tawaran itu langsung saya terima. Tanpa ba-bi-bu.
Untuk memastikan kesediaan saya, Mas Bon minta agar hari Kamis sore saya sudah berada di Graha Pena Surabaya (membawa juga lamaran pekerjaan lengkap) untuk dipertemukan dengan sang bos salah satu media. Lagi-lagi saya pun menyanggupinya. Tapi kenyataannya tak seperti empuknya kata-kata yang terucap, hari Kamis seperti yang dijanjikan saya ternyata tak berangkat ke Surabaya. Baru pada hari Sabtu sore saya tiba di Graha Pena. Tapi, eh tapi, sang bos yang ingin saya temui sudah telanjur pulang dan baru ke Graha Pena lagi pada Senin sore.
Antara bingung pulang ke Boyolali atau tetap berada di Surabaya, ndilalah waktu itu saya ketemu Mas Leres Budi Santoso, teman penulis yang juga jurnalis. Singkat kata, saya pun akhirnya diopeni Mas Leres selama menunggu sang bos di Surabaya.
Akhirnya, pada Senin sore saya berhasil dihadapkan pada sang bos di lantai 12 Gedung Graha Pena. Dengan grapyak semanak dan keramah-tamahannya, saya pun langsung disambut laiknya teman akrab (padahal baru saat itu saya ketemu dengan beliaunya). Tak tanggung-tanggung, agar obrolannya lebih asyik, cair atau apa-apalah, saya kemudian diajak turun ke Basecamp. Ngobrol sambil ngopi (tentunya makan juga hehehe). Tanpa ba-bi-bu, sang bos yang kemudian saya ketahui bernama Pak Djoko Su’ud Sukahar itu lalu menekankan, jika saya mau bergabung dengan media yang dikelolanya, besok pagi saya sudah harus pulang dan mulai bekerja sebagai wartawan di wilayah kerja Solo dan sekitarnya. Intinya, saya dinyatakan diterima dan bergabung dengan media yang dikelolanya. Tanpa harus melalui tes atau yang lainnya, karena, katanya, beliau sudah tahu dan sering membaca tulisan-tulisan saya di sejumlah media.
Sebagai anak buahnya, saya sangat banyak mendapat pelajaran berharga yang sebelumnya tak saya dapatkan. Diantaranya bagaimana membuat tulisan yang baik, bagaimana tulisan bisa memantik minat orang lain mau membaca dan lain sebagainya. Bagi saya, beliau adalah pimpinan, guru, bapak sekaligus teman yang baik.
Selang beberapa tahun setelah saya menekuni profesi sebagai jurnalis, tanpa saya ketahui apa sebabnya beliau meninggalkan media tempat saya bekerja. Namun begitu, hubungan saya dengan beliau terjaga dengan baik. Sesekali beliau menyempatkan telepon saya atau sebaliknya. Sekadar ingin tahu kabar atau yang lainnya.
Waktu itu saya memang jarang lagi bisa ketemu langsung dengan beliau. Baru sekitar tahun 2007-an tiba-tiba saya ditelepon beliau agar merapat ke Kantor Jawa Pos Radar Solo untuk sekadar bertemu dan ngopi sambil klepas-klepus rokokan. Saya pun segera merapat dan bertemu beliau dan kemudian terlibat obrolan yang panjang dan mengasyikan.
Sejak itu saya tak pernah bertemu lagi dengan beliau. Paling-paling hubungan baik yang harus dijaga cuma lewat facebook. Dari medsos ini saya masih bisa menjalin hubungan dan silaturahmi dengan beliau, termasuk saat kakinya sakit dan bolak-balik harus kontrol dokter.
Malam ini, seperti disambar geledek, saya kaget bukan kepalang karena di akun facebooknya ada berita kalau beliau sudah kapundhut pada tanggal 01 Mei 2020 pukul 16.15. Berita duka itu dituliskan oleh putranya. Saya ternganga, seakan tak percaya jika beliau telah menghadap Sang Khaliq.
Selamat jalan sang bos, sang begawan, guru saya, bapak saya. Semoga husnul khotimah. Aamiin.
Boyolali, 3 Mei 2020
