LEBEL HABIB DAN GUS, BAGAIMANA MENEMPATKAN YANG SEMESTINYA.

Oleh : Musthofa Zuhri

Kata “habib” -menurut baca, bahasa Arab merupakan derivasi dari kata “habba” dan “hub” memang memiliki konotasi “perlawanan/penolakan atas kekerasan atau kebencian” (naqiidl al-bughdl). Maka, ketika seseorang disebut “habib” tentu saja sosok yang paling dikasihi atau selalu bersikap kasih sayang sebagaimana makna “hub” yang melekat didalamnya.

Sebutan lain untuk orang yang dicintai adalah “muhib” dan orang yang senantiasa menyayangi disebut “mahbub”.

Dengan demikian, pemaknaan habib tentu saja mengandung makna cinta dan kasih sayang, sehingga wajar ketika gelar ini disematkan kepada seseorang, maka ia merupakan sosok yang paling mencintai dan dicintai, sekaligus selalu menyayangi karena paling disayangi oleh masyarakat.

Dalam masyarakat paternalistik, seperti Indonesia, Habib menempati posisi yang Sakral, lebih – lebih jika itu ada di kalangan Pesantren, khususnya warga NAHDHIYIN Bagi warga NU, habib adalah sebuah gelar kehormatan untuk para sayid dan syarif atau keturunan Nabi Muhammad.

Habib bagi mereka ditempatkan dibingkai yang terhormat, “suci” dan sakral. Karena dengan menghormati Habib , baginya, secara otomatis dianggap menghormati Nabi SAW. Meski tak semua habib maupun syarif menempati posisi ter penting ini .Oleh sebab perilaku dan ke ilmuan yang jauh dari panggang api dari apa yang di contohkan oleh sang Kakek.

Bahkan sebagian sayid dan syarif itu malu memakai gelar habib, walau mereka sangat pantas. Contohnya Quraish Shihab. Shihab adalah salah satu fam Alawiyin keturunan Nabi yang bdrakar dari Hadramaut, Yaman.

Kalau hobinya memaki atau fitnah, barangkali kita bisa stop menyebutnya habib , mungkinkah ada sosok habib yang seperti ini??.
(Anda bisa liat di alam nyata )

Sama dengan Gus, sebutan bagi orang yang berperilaku bagus. Gus , adalah panggilan bagi anak atau orang yang memiliki perilaku positif.

Kita liat kenapa kata kata Gus , sering disematkan pada putra “kiai” ??. Atau bangsawan lain?

Dalam tradisi masyarakat jawa, Pengasuh para putra bangsawan atau kiai sering memanggil putra mereka dengan sebutan Den BaGus. Yakni Raden yang memiliki perilaku bagus. Perilaku yang baik. Prilaku yang di Identikkan pada ayah , atau orang tua yang memiliki ke ilmuan yang ‘bagus”, respek pada urusan sosial dan komunitas yang melingkupi personaly orang tua.

Dan pada era ke kinian kata kata Gus seringkali di alamatkan pada sosok putra kiai. Lebih lebih dalam masyarakat nahdhiyin . Kata kata Gus, sebutan untuk anak kyai . Dalam tradisi Nahdliyin, yang bertujuan awal merendah, memberi rasa nyaman dari pribadi putra kiai . Karena para anak kyai itu tak ingin terbebani dengan sebutan “kyai” atau “ulama”. Padahal, keilmuan mereka ada yang sangat pantas disebut ulama.

Contohnya adalah Gus Dur dan Gus Mus. Keduanya kuliah di Al Azhar. Gus Mus punya gelar akademik pula. Banyak yang tak tahu Gus Mus bahkan lulusan Al Azhar. Tapi beliau tak merasa perlu mencantumkan gelarnya saat berdakwah

Bahkan sebagian anak kyai tak mau pula disebut “Gus”. Mereka memilih sebutan “Cak” atau “Kang” saat berdakwah. Semata menunjukkan kezuhudan atau kerendahhatian. Cak Nur (Nurcholish Madjid) atau Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) Cak Imin, Kang Said misalnya.

Bagi mereka lebel tak begitu penting, yang terpenting isi Dan masarakat sudah banyak yang memahami tentang hal diatas. Masyarakatlah yang justru menyematkan gelar kiai pada pribadi mereka.

Dari narasi diatas dapat kita garis bawah, betapa lebel Habib, atau Gus memiliki peran penting dalam memberi contoh dalam menabur rasa kasih sayang pada sesama, agar mereka dapat dicintai oleh sesama . Ukurannya adalah perilaku bukan sekedar genologi. Prilaku yang baik, disematkan buat seorang yang benar benar Bagus. Baik peilaku maupun pengetahuan yang ada didalam dirinya, diri Habib maupun diri sang Gus

Meski harus kita catat, baik habib maupun gus adalah sama sama manusia biasa. Yang saya yakin memiliki keterbatasan – keterbatasan. Dan hal ini sebagai bukti bahwa habib dan gus haruskah kita tempatkan pada posisi yang sebenarnya. Yakni penuh kasih, rasa cinta dan ke bagus an. Baik akhlak maupun ilmu yang ada didalam dirinya.

Hormat kami buat Habib dan gus yang seperti itu!!

Demikian . .!