PERSELISIHAN BUDDHISME DAN DAOISME DALAM DINASTI YUAN (1256 M–1309 M)

Oleh: Edi Santoso Putro, mahasiswa, penulis, & kamerad yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Jember.


Perselisihan acap kali timbul jika antara satu pihak dengan pihak lainnya mengalami perbedaan pandangan. Hal yang sama juga terjadi dalam Dinasti Yuan antara Agama Buddha dengan Daois. Banyak terjadi tendensi ke arah permusuhan serius yang sebenarnya sudah dimulai sejak masa Zhao Guizhen, pemimpin besar kaum Daois pada masa Dinasti Tang. Perselisihan bermula dari kecemburuan kaum Daois yang melihat umat Buddha mendapatkan tanah untuk kuil secara mudah dan bebas pajak. Zao Guizen berusaha mempengaruhi Kaisar Wuzong untuk melakukan penghambatan terhadap ritual-ritual Buddhis. Hal ini pun tak berselang lama karena Kaisar Wuzong wafat pada tahun 846 M dan digantikan oleh Kaisar Xuanzong II yang lebih tolerir terhadap Agama Buddha. Perselisihan pun berakhir dengan dihukum matinya para penghasut kaisar dan penetapan aturan perlindungan terhadap kaum Buddhis (Taniputera, 2013: 365-366).
Mengamati dari kacamata sejarah, terlihat jelas bahwa kaum Daois memiliki riwayat buruk dengan kaum Buddhis. Begitu pula yang terjadi pada masa Dinasti Yuan saat tokoh Daoisme bernama Qiu Chuji yang merupakan sosok petinggi Daois aliran Quanzen berupaya menghasut Kaisar Genghis menggunakan obat awet muda yang ditawarkannya. Kaisar merasa sangat senang dengan obat itu dan setuju untuk melakukan pengangkatan Qiu menjadi seorang pemuka agama. Perlu digarisbawahi bahwa pemuka agama yang dimaksud bukanlah khusus untuk kaum Daois semata, namun dia bertindak seperti seorang menteri yang membawahi semua agama termasuk Buddhisme. Akhirnya dengan memperoleh jabatan, Qiu berupaya memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan pembatasan ritual-ritual Buddhis. Hal yang terlihat jelas dari pembatasan itu adalah pengambil alihan vihara-vihara Buddhis hingga menghancurkan patung-patung Buddha. Penghancuran patung ini dilakukan dengan alibi bahwa sosok Buddha adalah salah satu dari 81 penjelmaan Laozi atau Bashiyihuatu.
Sebuah doktrin dari kaum Daois yang menyatakan bahwa Buddha adalah bagian dari Daois menyebabkan Daoisme dianggap lebih unggul daripada Buddhisme. Doktrin ini berasal dari sebuah kitab yang berjudul Laozi Huahujing (Kitab Laozi Pertobatan Kaum Bar-Bar). Kitab ini berisi mengenai kisah sang Laozi telah menjelajar ke India dan mengajarkan Buddha agama Daois. Setelah kematian pemimpin agama (Qiu), perseteruan antara Buddhisme dan Daoisme semakin memanas. Pihak Buddhis pun meminta kepada kaisar Mangu Khan untuk menyelesaikan masalahnya. Akhirnya umat Daois dengan umat Buddha pun dipertemukan dan ternyata diketahui bahwa kitab Laozi Huahujing adalah kitab palsu. Pihak Buddhis segera menuntut kaum Daois untuk mengembalikan vihara dan patung-patung yang telah mereka hancurkan dan pelarangan terhadap penyebaran kitab-kitab palsu.
Kaum Daois tidak menyetujui aturan tersebut. Hal ini tentu menyulut amarah kaum Buddhis dan akhirnya mereka melaporkannya kepada Kaisar kembali pada tahun 1206 M. Mangu Khan sudah jenuh dengan perselisihan yang terjadi seolah tanpa akhir sehingga ia meminta saudaranya, Khubilai Khan, untuk membantunya menyelesaikan masalah itu. Akhirnya ia meminta perwakilan dari kaum Buddhis, kaum Daois, dan kaum Konfusianis berkumpul di ibukota. Perdebatan pun dimulai sengit dan berakhir dengan kekalahan kaum Daois. Mereka menyatakan bahwa naskah yang asli bukanlah Huahujing namun Daodejing dan di dalamnya tidak pernah menyebut bahwa Laozi telah melakukan perjalanan ke India mengajari Buddha agama Daois (Taniputera, 2013: 453).
Atas titah dari Khubilai, naskah-naskah Laozi Huahujing kecuali Daodejing dikirim ke Karakorum untuk dimusnahkan termasuk lukisan Bashiyihuatu yang diibaratkan sebagai 81 penjelmaan Laozi. Khubilai juga tidak akan segan menghukum orang yang menentang aturan ini. Setelah menjadi seorang kaisar pada tahun 1260 M, Khubilai Khan kembali meneguhkan aturan ini pada tahun 1261 M.
Sementara waktu setelah keputusan itu dibuat, tidak ada perselisihan berarti yang terjadi antara umat Daois dengan umat Buddhis. Namun pada tahun 1280, umat Daois melakukan pembakaran terhadap kuilnya sendiri dan menuduh umat Buddhis sebagai pelakunya. Penipuan ini segera terbongkar dan Khubilai sebagai seorang kaisar menjatuhi penggagas rencana ini dengan hukuman mati. Dalam kesempatan emas ini, umat Buddhis tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melaporkan kembali kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh kaum Daois seperti melakukan pengedaran kitab-kitab terlarang (Taniputera, 2013: 454).
Investigasi dilakukan oleh pihak berwenang untuk mengungkap kebenaran yang terjadi. Hasil yang terjadi ternyata lebih buruk dari dugaan. Kaum Daois nyatanya masih menyembunyikan karya-karya terlarang dalam format judul yang berbeda. Selain itu, plat-plat huruf yang digunakan menulis dan mencetak buku terlarang juga masih ada dan digunakan untuk mencetak. Hal ini tentu menyulut amarah Khubilai yang mengira bahwa permasalahan ini telah selesai. Kaisar lalu memberikan perintah pada bulan yang ke-10 pada tahun 1281 untuk memusnahkan semua naskah beserta plat-plat tulis Daoisme selain Daodejing sebagai pengecualian.
Kaisar-kaisar Mongol selanjutnya mulai tertarik dengan ajaran Buddhisme. Ajaran yang dianut kaisar lebih bersifat Buddhisme Tibetian (Lamaisme) dengan aliran Tantrayana. Saat pemerintahan Kaisar Khaisan (1308-1311), telah melakukan penerjemahan kitab Tripitaka berbahasa Tibet ke dalam Bahasa Mongol. Lamaisme atau Buddhisme Tibetian ini berkembang pesat dibawah perlindungan pemerintah dan dijadikan agama resmi negara. Aliran Buddhisme Titbetian tentu berbeda dengan beberapa aliran Buddha yang dapat kita temukan di Burma dan Arakan, serta di negara T’ai dan Kamboja yang menerapkan aliran Buddha Theravada (Noorwijanto, 1996: 13).
Birarawan Buddha juga mendapatkan hak khusus yaitu pada tahun 1309 mengeluarkan peraturan yang berisi larangan penindasan terhadap kaum Buddhis. Aturan ini berisi mengenai siapapun yang menghina atau memukul seorang lama, maka akan mendapatkan hukuman potong tangan atau lidah. Walaupun aturan yang diberikan seolah menjadikan kaum Buddha lebih nyaman beribadah, namun ternyata sifat arogan juga mewarnai emosi manusia. Mereka mulai bertindak semaunya dan gemar merampas harta dan tanah rakyat. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor keruntuhan Dinasti Yuan (Taniputera, 2013: 455).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa setiap kedudukan yang tinggi selalu diwarnai dengan rasa arogan dan kepentingan pribadi. Seperti yang terjadi saat kaum Daonisme memiliki kuasa sebagai tokoh agama tertinggi, mereka akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menguntungkan kelompoknya. Begitu pula kaum Buddhisme yang setelah diberi keleuasaan dan jaminan keamanan dari kaisar, mereka justru berbelok dengan melakukan perampasan harta dan tanah rakyat. Seorang pemimpin seperti Khubilai Khan yang cerdas, teliti, dan tidak mudah terpengaruh merupakan sosok yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi konflik internal agama. Prestasi gemilang dari seorang Khubilai Khan cukup terlihat saat mengatasi permasalahan isi dari kitab Laozi Huahujing yang banyak mengandung tulisan menyudutkan agama lain terutama Buddha. Sayangnya, setelah Khubilai Khan lengser, sosok kaisar penggantinya bukanlah orang yang cakap dan terlalu menganak-emaskan agama Buddha. Hal ini mengakibatkan kecemburuan agama lain dan menjadi unsur penting dari keruntuhan dinasti ini.*

*) Artikel ini dibuat dengan merujuk dari sumber berikut:
Taniputera, I. 2013. History of China. Ar-Ruzz Media: Jogjakarta
Noorwijanto, S. 1996. Pengantar Sejarah Asia Tenggara. University Press IKIP: Surabaya