Memberdayakan Pulau Tabuhan, Apa Salahnya.

Oleh :
Mochammad Rifai.

Ramai diperbincangkan di media sosial tentang Pulau Tabuhan kabarnya telah disewakelolakan ke pihak swasta. Benar atau tidak informasi itu telah menimbulkan sikap pro dan kontra para netizen.

Hal yang wajar karena kelompok pro dan kontra masing-masing punya alasan dan kepentingan sendiri-sendiri. Terlepas dari persoalan pro dan kontra, keberadaan Pulau Tabuhan dengan potensi keindahan alamnya, eman jika diberdayakan.

Persoalannya adalah dengan cara apa dan bagaimana memberdayakan pulau tanpa penghuni itu. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai pemegang otoritas atas aset pulau itu tentu sudah paham aturan main dan perhitungan macam-macamnya.

Jika benar pemberdayaan pulau itu dengan cara dipihakketigakan tentu bukan semata-mata keputusan sepihak Bupati Anas.

Keputusan cerdas Pemerintah Kabupten Banyuwangi memberdayakan Pulau Tabuhan itu pastilah motivasinya untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Endingnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menyejahterakan kehidupan rakyat itu, visi dan misi utama pemerintahan. Mungkin Bupati Anas terinspirasi betapa ‘renes’ masyarakat memperoleh manfaat melihat pemberdayaan Pulau Gili Trawangan di Lombok, NTB.

Kecuali itu, akan membuka banyak lapangan kerja juga akan mendorong tumbuh kembang kegiatan di sektor ekonomi masyarakat sekitar. Wilayah Banyuwangi utara yang selama ini tergolong tertinggal pertumbuhan ekonominya akan bisa serta-merta terdongkrak karenanya. Tidak untuk Maksiat,

Tempat wisata di mana saja, selalu dekat dan dapat dipastikan nyrempet-nyrempet dengan aktivitas maksiat. Apalagi tempat wisata yang digemari oleh turis mancanegara. Minimal hiasan cafe dengan berbagai merk minuman keras. Bibir pantai tempat mereka berjemur menikmati terik matahari dengan berpakaian minim.

Bahkan yang lebih berbahaya di tempat wisata yang viral seperti Bali, peredaran barang haram sejenis sabu dan pergaulan bebas yang menyebabkan menyebarnya penyakit HIV dan Aids, tidak bisa dihindari.

Pernah terlintas Pulau Tabuhan andaikan diberdayakan sebagai pusat casino, tentu akan mendatangkan banyak keuntungan materi. Tetapi cara itu tentu tidak diharapkan banyak pihak. Karakteristik masyarakat Banyuwangi itu religius. Diswastakan?

Pulau dengan luas 5 ha, ini molek karena memiliki pasir pantai putih dan dilingkupi pantai yang dasar lautnya indah. Terumbu karang dan berbagai keaneragaman hayati bawah laut, menjadi daya tarik tersendiri. Cocok untuk wisata bahari under water, snorkling, atau menyelam.

Pengelolaan pulau mungil ini, tidak yakin bisa optimal kalau dikelola oleh Pemda. Dikerjsamakan dengan pihak ketiga itu solusi terbagus. Pemda dan masyarakat sekitar akan bisa mendapatkan ‘berkahnya’ selain dari hasil penyewaan. Hal terkait dengan itu, tentu para pihak sudah memahami. Butuhnya masyarakat transparan saja.

Untuk Back Up Pendanaan Persewangi?
Sekedar mengadaikan. Persewangi tidak kunjung menjadi tim impian masyarakat Banyuwangi. Selalu ada dipusaran pendanaan yang menjadi kendala.

Pihak manajemen Persewangi sudah berupaya untuk optimalisasi tim agar bisa menduduki posisi bergensi di ajang berkompetisi Liga 3, namun belum pernah sukses meraih impian itu, beberapa tahun terakhir. Barangkali jika benar pulau tak berpenduduk itu diswakelolakan pihak swasta dan hasilnya untuk pendanaan Persewangi, tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi Persewangi dan Laskar Laros pendukung setianya.

Sebagai masyarakat Banyuwangi yang cinta Banyuwangi, tentu beragam pendapat. Sangat mungkin Banyuwangi akan semakin mendunia, dengan hadirnya Pulau Tabuhan sebagai destinasi wisata andalan.

Apa salahnya jika memberdayakan aset di antaranya Pulau Tabuhan yang belum optimal itu menjadi tempat wisata yang nantinya pasti viral. Tentu, hal ikhwal terkait dengan itu harus dibenahi, dipersiapkan sampai benar-benar hadirnya Pulau Tabuhan menjadi destinasi wisata dengan multiplayer effect positifnya lebih dominan, utamanya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selebihnya silakan diperdebatkan, asal jangan pasal pokoke, karena anu, dll.