Persoalan Kasus Pembacokan, BEM jangan Melakukan Kecelakaan Berpikir

Kendari, Menarahmadinah.com (7/1) Persoalan Kasus Pembacokan, BEM jangan melakukan kecelakaan berpikir. Ketua BEM FH UMK, sesama mahasiswa apalagi dalam almamater yang sama, merasa punya tanggung jawab untuk meluruskan kesalahan analisis dari Pimpinan BEM.

Ketua BEM FH UMK Karena kesalahan analisis dapat menyebabkan kecelakaan berfikir, Menyikapi pernyataan Salah satu Ketua BEM dalam menafsirkan pasal 170 KuHP tersebut. Karena pasal 170 ayat 1 Kuhp masuk dalam kategori kejahatan bukan pelanggaran.

Serta Statement yang menyatakan bahwa “Justifikasi kepada perusahaan tambang PT. MASEMPO DALLE sebagai otak pembacokan terhadap mahasiswa UHO merupakan hal yang keliru. Pasalnya belum ada bukti yang jelas terkait dengan persoalan tersebut “ dikutip dari TopNews88.com.

Menurutnya(ketua bem fh umk) mendiamkan suatu kesalahan dapat berakibat fatal, dari Statement pertama saya ingin menaggapi bahwa justifikasi terhadapan perusahaan tersebut sebagai Aktor penganiayaan mahasiswa UHO bukan semata-mata dilakukan dengan mata dan telinga terutup, meskipun proses hukum dari pihak berwajib belum selesai, menelusuri terkait kasus tersebut ada beberapa pesan-pesan whatsapp yang terkesan mengancam yang di lancarkan oleh salah satu oknum perusahaan tambang kepada saudara Muhammad Iksan atau teman-teman yang mengikuti aksi unjuk Rasa tersebut.

Seyogyanya Ketua lembaga yang mengetahui aksi tragis terhadap teman-teman aktifis merasa simpati karena ini merupakan salah satu bentuk intimidasi terhadap suatu gerakan mahasiswa, ini malahan kok sebaliknya memprotes Aksi dari teman-teman mahasiswa sendiri, inikan lucu ! Menurut saya memang benar adanya sekelompok mahasiswa yang mendatangi pihak perusahaan tersebut setelah kejadian pembacokan itu terjadi akan tetapi gerakan tersebut adalah bentuk Reaksioner dari Penebasan mahasiswa.

Hukum Newton Menjelaskan (Aksi=Reaksi)dan juga menurut informasi gerakan tersebut sama sekali tidak membuat kerusakan di kantor perusahaan tersebut, “mahasiswa tersebut tidak menjustifikasi perusahaan tersebut karena jelas berbenturan dengan asas praduga tidak bersalah, akan tetapi mahasiswa hanya meminta klarifikasi dari pihak perusahaan terkait kejadian tersebut, hal itu dilakukan oleh teman-teman mahasiswa sebagai reaksi atas kejadian tragis yang menimpa teman mereka dan teman kita semua sebagai aktifis mahasiswa yang sudah kewajiban kita menyuarakan kebenaran bukan menyembunyikannya”.

Menurutnya juga pelaku pembacokan itu termasuk dalam kategori kejahatan yang Terstruktur,Sistematis dan Masif (TSM) jadi sangat mudah dan cepat ditau pelakunya jikalau Pihak Kepolisian benar-benar serius menangani kasus tersebut. Kabid PTKP HMI cabang Kendari ini juga menegaskan agar Penerapan Asas Hukum “Equality Before The Law di terapkan dalam Penanganan kasus ini, Ia pula menambahkan bahwa

“tidak peduli siapapun yang melakukan ataupun aktor di balik tindak pidana ini , Wajib Hukumnya di proses Seadil-adilnya sesuai ketentuan Perundang-undangan yang berlaku” tutupnya.

Fandi Jurnalis Citizen