Syair Syair Indah Milenial

Oleh : Dwi Yanto

Mas Guru,
senang rasanya berada di era milenial. Era di mana waktu tersingkat dan tempat terlipat.

Tak terasa merdeka belajar menjadi trending topic akhir-akhir ini. Jadi, selama ini, semua merasa terpenjara dalam sistem pembelajaran hafalan dan linier serta belum menjadi pihak yang merdeka. Anak-anak terpenjara dalam pembelajaran guru, yakni hafalan dan guru terpenjara dalam sistem kebijakan pendidikan, yakni berorientasi Unas serta tidak merdeka mengajar karena mengejar target.

Mas Guru,
untuk menjadi merdeka belajar, berikanlah pembelajaran yang aplikatif-scientific! Hadapkanlah wajah anak-anak pada objek dan subjek pembelajaran bukan buku pelajaran ansich (biarlah anak merdeka memilih sumber belajar). Segera, gas pol, jangan terlalu lama memenjarakan anak-anak. Berhentilah ajari anak-anak menjadi ahli bahasa, namun tanamkanlah untuk terampil berbahasa, misal!

Mas Guru,
gas pol, jangan tunggu terlalu lama agar menjadi orang yang merdeka mengajar. Mulai saat ini buatlah perencanaan pembelajaran yang mandiri! Cukup satu lembar namun inovasi pembelajaran berlembar-lembar.

Mas Guru,
gas pol, jangan menunggu terlalu lama, tentukan evaluasi mandiri dan merdeka! Ya, merdeka dari petunjuk. Kalau perlu, mulai saat ini anak-anak tidak lagi berhadapan dengan Unas, cukup ujian sekolah berbasis PISA, olimpiade, world bank atau apa pun yang bisa membanggakan bangsa. Segera lakukan asesmen kompetensi minimum dan survei bakat dan karakter saat ini, unduh asesmen itu beserta kunci skor kategori kompetensi dan bakat serta karakter anak.

Gas pol, Mas Guru!
Mulai saat ini hadapkan anak-anak pada asesmen itu! Minta materi asesmennya bukan petunjuknya karena menunggu petunjuk menjadikan guru tidak merdeka mengajar dan berimbas pada ketidakmerdekaan belajar. Laksanakan asesmen itu dan arahkan pembelajaran berbasis potret kompetensi dan bakat anak! Sesuai hasil asesmen itu. Mulai saat ini, abaikan Unas dan jangan ada lagi indikator prestasi PPDB menggunakan hasil Unas, cukuplah sertifikat kejuaraan atau lulus kompetensi akademik dan non akademik, sekalipun tingkat desa. Mulai saat ini, ya mulai saat ini, abaikan Unas, jangan menunggu tahun depan atau dua tahun depan! (Suwen, Qulhu wae, Lik!)

Mas Guru,
terapkan literatif dan numeratif yang aplikatif-scientific. Jangan ada lagi pilihan ganda, apa pun istilahnya pilihan ganda tetaplah pilihan ganda, apakah itu Lower Order Thinking Skills (LOTS) atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Tetap saja pilihan ganda.

Mas Guru,
berhenti mendidik anak-anak menjadi ahli (biarlah kelak di perguruan tinggi), ajari anak-anak berliterasi dan bernumerasi yang analitif, evaluatif, dan kreatif. Toh, di masyarakat, peringkat satu tidak menjamin kompetensi dan sukses karena, ternyata, kecakapan emosi dan sosial berperan besar mengantarkan anak-anak menjadi sukses, kelak.

Mas Guru,
titip pendidikan karakter pada anak-anak, kalau perlu pendidikan karakter mendapatkan porsi besar dalam pembelajaran, sehingga jadi apa pun kelak, jadi apa pun yang berkarakter. Saatnya gas pol untuk bertindak dan simpan syair-syair indah milenial itu, setidaknya untuk sementara waktu.

Mas Guru,
terlepas dari semua itu, jangan sakit hati jika ada yang bilang atau memberikan stigma bahwa selama ini Anda dianggap telah “memenjarakan” anak-anak dalam pembelajaran hafalan. Jangan sakit hati atas ketidaktahuan awam bahwa yang telah Anda ajarkan adalah tidak hanya C1, C2, C3 (LOTS), akan tetapi sudah pada tataran C4, C5, C6 (HOTS)! Jangan sakit hati jika anak-anak dan ortu mengeluhkan sulitnya soal Unas beberapa tahun lalu karena persentase soal-soal HOTS ditingkatkan dan anak-anak beranggapan bahwa soalnya benar-benar hot (panyas)! Jangan sakit hati atas ketidaktahuan awam bahwa soal-soal Unas hanya sebatas hafalan! Jangan sakit hati jika pembelajaran Anda belum dianggap membangun karakter anak-anak! Jangan sakit hati atas ketidaktahuan awam bahwa upaya Anda telah all out membangun karakter anak-anak! Bahkan saking semangatnya, tanpa Anda sadari, Anda tertuntut hukuman kurungan (penjara sejati). Maafkanlah atas ketidaktahuan mereka! Introspeksi akan titik lemah pembelajaran selama ini, tetap jalani tugas ini dan lakukan yang terbaik!Jangan menyerah!

Mas Guru,
saatnya melakukan eksekusi cepat dan gas pol pada saat ini –bukan tahun depan atau dua tahun depan (Suwen, Qulhu wae, Lik!) — akan 2 hal, yakni membentuk anak-anak berkarakter dan menjadikan anak-anak hidup mandiri. Ya, hanya itu, karakter dan kemandirian. Berhentilah bersyair, terutama syair-syair indah milenial!

ttd
Staf Rasa Guru