
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
*Pendahuluan*
Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Muktamar yang memiliki fungsi strategis dalam membahas persoalan keagamaan, kebangsaan, organisasi, dan kemasyarakatan. Dalam sejarahnya, Munas dan Konbes menjadi wadah musyawarah para ulama, cendekiawan, dan pengurus NU untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan umat dan bangsa.
Di tengah dunia yang masih diwarnai konflik, polarisasi politik, pertentangan ideologi, serta ketegangan sosial dan ekonomi, semangat Munas-Konbes NU memiliki nilai yang sangat relevan untuk membangun perdamaian, baik di lingkungan internal organisasi maupun dalam hubungan eksternal dengan masyarakat, bangsa, dan dunia internasional.
*Perdamaian Internal: Menguatkan Ukhuwah Nahdliyah*
Perdamaian selalu dimulai dari dalam. Munas dan Konbes NU menjadi momentum untuk memperkuat persatuan warga Nahdliyin yang tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai negara.
Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah sesuatu yang wajar. Bahkan, tradisi bahtsul masail dan musyawarah dalam NU sejak dahulu mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan sarana menemukan kebenaran yang lebih luas.
Semangat perdamaian internal dapat diwujudkan melalui:
* Mengedepankan musyawarah daripada konfrontasi.
* Menghormati perbedaan pendapat di kalangan ulama dan intelektual.
* Menjaga adab dalam berdiskusi.
* Mendahulukan kepentingan umat dibanding kepentingan kelompok.
* Menguatkan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah.
Dengan demikian, Munas dan Konbes tidak menjadi arena kompetisi kepentingan, melainkan majelis kebijaksanaan yang menghasilkan keputusan terbaik bagi umat.
*Perdamaian Eksternal: Menguatkan Ukhuwah Kebangsaan*
NU sejak kelahirannya telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Munas dan Konbes senantiasa membahas persoalan-persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan Indonesia.
Semangat perdamaian eksternal mengandung makna bahwa NU harus terus menjadi perekat bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan pilihan politik.
Dalam konteks ini, hasil-hasil Munas dan Konbes hendaknya mampu:
* Meredam polarisasi sosial.
* Mengembangkan budaya toleransi.
* Menguatkan semangat gotong royong.
* Menjaga persatuan nasional.
* Meneguhkan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan.
Perdamaian bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi hadirnya keadilan, kesejahteraan, dan rasa saling menghormati antarwarga bangsa.
*Perdamaian Politik: Menjaga Nilai, Bukan Kepentingan*
Salah satu pesan penting yang sering muncul dalam forum-forum NU adalah menjaga independensi organisasi dan memperjuangkan nilai-nilai kemaslahatan umat, bukan kepentingan politik praktis.
Semangat ini sangat penting karena konflik politik sering menjadi sumber perpecahan masyarakat. Ketika NU mampu berdiri sebagai penjaga moral bangsa, maka NU dapat menjadi jembatan dialog bagi berbagai kelompok yang berbeda pandangan.
Munas dan Konbes hendaknya menjadi ruang lahirnya etika politik yang berkeadaban, yaitu politik yang:
* Mengutamakan persatuan bangsa.
* Menolak fitnah dan ujaran kebencian.
* Mengedepankan dialog.
* Menempatkan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama.
*Perdamaian Global: Peran NU untuk Dunia*
Saat ini dunia menghadapi berbagai konflik kemanusiaan, perang, kemiskinan, perubahan lingkungan, dan krisis moral. Sebagai organisasi Islam terbesar, NU memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menawarkan solusi perdamaian global.
Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) merupakan modal besar untuk membangun peradaban dunia yang damai.
Semangat Munas-Konbes NU dapat menjadi inspirasi bagi dunia bahwa perbedaan tidak harus melahirkan konflik. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan untuk membangun kerja sama dan perdamaian.
*Perspektif Teori Perdamaian*
Dalam perspektif Teori Perdamaian, konflik muncul ketika perbedaan tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, perdamaian lahir ketika perbedaan diarahkan menuju tujuan bersama.
Secara sederhana dapat dirumuskan:
Perdamaian = Persamaan Tujuan × Kerjasama ÷ Konflik
Munas dan Konbes NU pada hakikatnya merupakan mekanisme sosial untuk memperbesar persamaan tujuan dan kerja sama, sekaligus memperkecil potensi konflik melalui musyawarah dan mufakat.
Karena itu, semakin tinggi kualitas musyawarah, semakin besar peluang terciptanya perdamaian.
*Penutup*
Semangat Munas-Konbes NU bukan sekadar menyelenggarakan forum organisasi, melainkan menghidupkan tradisi musyawarah untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan dunia. Dari perdamaian internal lahir kekuatan organisasi. Dari perdamaian eksternal lahir persatuan bangsa. Dari perdamaian global lahir harapan bagi kemanusiaan.
Munas dan Konbes NU hendaknya menjadi teladan bahwa perbedaan dapat dipersatukan melalui dialog, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Dengan semangat tersebut, NU dapat terus menjadi pelopor perdamaian, penjaga persatuan, dan penggerak peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita semua bisa memahami demikian aamiin. Wa Allahu a’lam bish -showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
04 Muharrom 1448
atau
20 Juni 2026
m.mustain
