
KEDIRI, menaramadinah.com- Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU), dipastikan digelar di Pesantre Ploso Kediri pada 20-21 Juni 2026.
Sekretaris Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU, Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa pengecekan final memastikan kesiapan sarana dan prasarana sudah berjalan sempurna. Acara sendiri dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Juni 2026.
Menariknya, kepanitiaan mendesain acara ini dengan filosofi yang mendalam. Pembukaan digelar pada Sabtu malam di Pesantren Ploso, Kediri, sedangkan penutupan direncanakan berlangsung di Kabupaten Bangkalan, Madura.
”Kita ingin mengawinkan dua kutub. Kutub awal dan kutub akhir sehingga nyambung,” tambah Moh Nuh.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Abdurrahman Al-Kautsar menyatakan rasa syukur mendalam atas kesempatan berkhidmah untuk Nahdlatul Ulama.
Ditaksir, katanya, area pesantren akan diramaikan oleh sekitar 1.000 partisipan. Dari peserta resmi mungkin sekitar 500 sekian orang. Ditambah dengan para tamu undangan serta para masyayikh.
Beliau berharapan forum ini mampu menghadirkan sebanyak-banyaknya masyayikh untuk bersilaturahim. Mohon doanya agar Munas-Konbes ini berjalan aman, nyaman, dan membawa manfaat,” tutur Gus Kautsar dengan hangat.
Ketua Organizing Committee (OC) yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), membeberkan bahwa pembukaan acara akan dihadiri oleh jajaran pejabat pemerintah daerah, ormas, serta tokoh nasional.
Sementara untuk penutupan di Bangkalan pada 23 Juni mendatang, PBNU telah melayangkan undangan resmi kepada Kepala Negara.
”Kami sudah memutuskan dalam rapat untuk mengundang Bapak Presiden Prabowo guna memberikan amanat pada saat penutupan nanti di Bangkalan. Saat ini masih terus dikoordinasikan,” jelas Gus Ipul.
Lebih lanjut, Gus Ipul memaparkan bahwa Munas-Konbes kali ini akan menjadi ajang diskusi hangat mengenai reformasi organisasi. Salah satu wacana yang kuat berembus adalah pelembagaan Ahlul Khali wal Aqdi (Ahwa). Jika selama ini Ahwa bersifat ad-hoc (hanya untuk memilih Rais Aam), ke depan diusulkan menjadi lembaga permanen yang mendampingi Rais Aam sekaligus menjadi anggota Majelis Tahqiq.
Guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan kondusif, pengamanan ketat dari unsur Banser dan Garnusa kini tengah dipetakan bersama pihak pesantren. Pasukan Banser dipastikan siap total mengawal jalannya forum tertinggi kedua di tubuh Nahdlatul Ulama.
Husnu Mufid
