
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Jawa Timur.
Persiapan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 menunjukkan dinamika menarik.
Meski titik utama kegiatan dan acara inti dipusatkan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Pengurus Besar NU (PBNU) membuka peluang agar acara pembukaan digelar di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.
Sekretaris Jenderal PBNU, KH Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat meninjau persiapan Munas-Konbes 2026 bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, mengungkapkan bahwa opsi penggelaran pembukaan di Bangkalan tengah dikaji secara serius.
Rencana tersebut menjadi alternatif selain pelaksanaan inti yang berlangsung di Ponpes Al Falah pada 21-22 Juni 2026. “Semua masih dalam tahap pematangan,” ujar Gus Ipul pada Sabtu (6/6/2026).
Pengurus Ponpes Al Falah Ploso menyambut baik kepercayaan PBNU sebagai tuan rumah utama. Namun, di balik pengaturan lokasi ini terdapat alasan menarik yang berakar pada mitos dan tradisi lokal Jawa.
*Mitos Politik dan Budaya “Barat Sungai” di Kediri*
Sebagian masyarakat Jawa percaya terhadap mitos kuat terkait wilayah barat Sungai Brantas di Kediri. Dalam budaya lokal, khususnya berdasarkan manuskrip kuno Babad Kadhiri, kawasan ini merupakan pusat Kerajaan Panjalu dengan situs keramat.
Terdapat kepercayaan bahwa penguasa atau tamu penting yang memasuki wilayah ini berisiko menghadapi musibah politik, termasuk kekalahan atau penurunan status.
Sejarah politik Indonesia memperkuat mitos ini secara simbolis. Presiden Soekarno dan Gus Dur yang pernah berkunjung ke Kediri, menghadapi gejolak politik berat hingga lengser.
Presiden Soeharto dan Joko Widodo dikabarkan menghindari wilayah tersebut dalam kunjungan resmi mereka, mengindikasikan sensitivitas kultural yang menghormati kekuatan mitos tersebut.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), meski berkunjung ke Kediri, tidak menyeberang ke sisi barat Sungai Brantas, dan berhasil sempurna menyelesaikan masa jabatannya. Hal ini dianggap menambah kepercayaan atas mitos tersebut.
Secara objektif, kejatuhan politik adalah hasil dari dinamika kompleks politik, ekonomi, dan hukum. Namun, secara kultural, mitos tersebut dihormati sebagai manifestasi kehati-hatian simbolis yang juga memengaruhi keputusan strategis dalam penyelenggaraan acara besar.
*Penghormatan dan Pemerataan Acara terhadap Tokoh Madura*
Selain faktor mitos, pilihan Bangkalan sebagai tempat pembukaan juga dipandang sebagai bentuk penghormatan dan upaya pemerataan acara kepada tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama asal Madura, KH Mohammad Cholil Bangkalan.
Langkah ini menyiratkan upaya inklusif PBNU dalam melibatkan berbagai unsur wilayah dan tokoh penting dalam pusaran kegiatan strategis organisasi.
*Sinergi dan Persiapan Matang*
Kunjungan Rais Aam PBNU didampingi Gus Ipul dan pengurus lainnya ke Ponpes Al Falah Ploso Kediri telah berjalan dengan suasana hangat dan koordinasi matang.
Semangat dan persiapan terus berjalan agar Munas dan Konbes NU 2026 berjalan lancar, sukses, dan membawa berkah besar bagi NU dan bangsa.
PBNU pun mengajak seluruh jamaah dan masyarakat Indonesia untuk berdoa agar proses menuju Muktamar NU di Agustus mendatang membawa kemaslahatan dan kesinambungan organisasi.
*Analisa*
Perpaduan antara pertimbangan budaya lokal dan kepentingan strategis organisasi menjadi hal menarik dalam penentuan lokasi pembukaan Munas-Konbes NU.
Mitos “Barat Sungai” di Kediri menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisi masih mempengaruhi kebijakan modern. PBNU secara cerdas mengakomodasi norma budaya sekaligus menghormati tokoh dan wilayah Madura, memperkuat persatuan internal.
Pendekatan ini menjadi contoh bagaimana organisasi besar dengan akar tradisional dapat mengelola faktor simbolik dan praktis secara bijak. Penataan lokasi acara yang fleksibel ini diharapkan dapat mengantisipasi sensitivitas kultural dan sekaligus menjaga kualitas pelaksanaan.
Keputusan ini juga membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas wilayah, menegaskan NU sebagai organisasi yang inklusif dan adaptif terhadap konteks sosial budaya Indonesia yang beragam.
Jadi bisa disimpulkan,rencana Munas dan Konbes NU 2026 yang menggabungkan Kediri sebagai tempat utama dan Bangkalan untuk pembukaan adalah refleksi harmoni antara tradisi dan modernitas.
Dengan keberhasilan persiapan teknis dan penghormatan terhadap nilai kultural, acara besar ini diharapkan menjadi tonggak penting bagi penguatan NU dan mempererat ukhuwah Islamiyah di Indonesia.
Kolaborasi, sikap menghormati budaya, dan kesiapan matang menjadi modal utama agar Munas-Konbes berjalan lancar dan memberi manfaat besar bagi seluruh warga Nahdliyin dan bangsa secara keseluruhan.*Wallahu A’lam Bisshawab*
