Nasab Bukan Kasta, Agama Bukan Dagangan

 

Bu Sayyid Diar Mandala.

Islam datang untuk meruntuhkan kasta. Tapi sekarang ada yang membangunnya lagi pakai stempel nasab, dibungkus jubah dan sorban.

Rasulullah tidak pernah teriak nasabku nasabku. Yang beliau ulang sampai menangis adalah umati umati. Umatku. Beliau takut pada amal umat, bukan pada panjangnya silsilah. Standar Allah sudah jelas. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Bukan yang paling panjang nasabnya.

Faktanya, ada sekelompok orang yang menjadikan klaim keturunan sebagai tameng. Salah dikritik jawabnya kurang adab. Salah dipertanyakan jawabnya dzurriyah Nabi. Seolah olah kebenaran harus tunduk pada darah. Padahal Abu Lahab paman Nabi masuk neraka. Bilal budak Habasyi naik ke atas Ka’bah. Allah tidak pernah salah menimbang.

Pola ini berbahaya. Pertama, membunuh nalar kritis. Umat diajarkan diam dan taklid buta, padahal agama ini dibangun di atas perintah tabayyun. Kedua, melahirkan superioritas palsu. Seolah olah darah bisa menggantikan ilmu, jubah dan sorban bisa menutup akhlak buruk. Ini bukan ajaran Nabi. Ini jahiliyah modern yang dibungkus simbol agama.

Nasab dalam Islam cuma satu fungsi. Menyambung sejarah dan tanggung jawab moral. Bukan untuk minta disembah, bukan untuk kebal dari koreksi, bukan untuk memonopoli agama. Kalau klaim itu benar, bebannya justru lebih berat. Dituntut memberi contoh akhlak Nabi, bukan menuntut hak istimewa atas nama Nabi.

Kritik terhadap pola ini bukan benci. Ini amar makruf nahi munkar. Diam saat agama dijadikan alat legitimasi kasta baru adalah pengkhianatan terhadap risalah Nabi.

Idul Qurban sudah mengingatkan. Allah tidak butuh darah dan daging. Allah butuh ketundukan pada kebenaran. Di padang Mahsyar nanti tidak ada yang ditanya siapa kakekmu. Yang ditanya apa amalmu.

Kembali ke teladan Nabi. Ukur manusia dari ilmu dan akhlak, bukan dari silsilah. Di situlah keselamatan. Di situlah kemuliaan yang sesungguhnya.

Diar Mandala