Seminar Nasional UIJ Penuh Inspirasi.” Meneguhkan Aswaja di Tengah Keberagaman Negeri Kanguru Australia”

JEMBER — Di tengah kecepatan perubahan dunia yang bagaikan ombak samudera tanpa batas, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tetap menjadi cahaya penuntun kehidupan umat. Semangat ini mengalir hangat dalam Seminar Nasional yang digelar oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Aswaja An-Nahdliyah (LP2AN) Universitas Islam Jember (UIJ) pada Rabu (13/5/2026). Mengangkat tema “Islam Aswaja di Benua Kanguru: Meneguhkan Identitas Nahdliyin di Tengah Keberagaman Australia”, seminar menghadirkan pemateri Honest Dody Molasy, S.Sos., MA., CIQaR, seorang akademisi sekaligus pemerhati Islam moderat di Australia.

Dalam forum ilmiah tersebut, Aswaja tidak hanya dipandang sebagai warisan pemikiran semata, melainkan sebagai akar kuat yang menjaga keutuhan pohon peradaban di tengah gelombang perubahan zaman. Honest Dody Molasy menguraikan bagaimana umat Muslim di Australia hidup dalam keberagaman sosial yang kompleks, dan bahwa Aswaja hadir sebagai jembatan yang merangkul perbedaan tanpa kehilangan identitas.

“Di Australia, keberagaman adalah kenyataan sehari-hari. Aswaja mengajarkan bagaimana menjadi muslim yang tetap kokoh dalam prinsip, tetapi lembut dalam bersikap,” ungkap Honest Dody dalam paparannya yang penuh kedalaman makna.

Suasana seminar dipenuhi antusiasme peserta yang tertarik menggali Islam Aswaja dalam konteks pluralisme Australia. Dody menambahkan bahwa kaum Nahdliyin di negeri Kanguru ibarat membawa sepotong cahaya dari Nusantara. Tradisi tahlil, shalawat, dan budaya gotong royong menjadi corak unik yang mewujudkan wajah Islam yang ramah dan meneduhkan hati.

Generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) di Australia, kata Dody, adalah “akar yang lentur” yang mampu menyesuaikan diri dengan era global tanpa kehilangan akar budaya. “Kalau identitas itu dijaga dengan ilmu dan akhlak, maka di mana pun berada, kita tetap punya pijakan,” tambahnya dengan keyakinan.

Sementara itu, Kepala LP2AN UIJ, Agus Zainudin, M.Pd.I., menegaskan bahwa seminar ini merupakan upaya penting merawat tradisi intelektual Aswaja di kampus di tengah arus dunia modern yang tidak selalu ramah terhadap nilai-nilai agama. Baginya, kampus bukan sekadar ruang akademik, melainkan taman peradaban tempat nilai keislaman tumbuh dan berkembang.

“Aswaja bukan hanya rumusan teori, tapi harus hidup dalam cara berpikir, bersikap, dan membangun harmoni sosial. Itulah yang terus ingin kami tanamkan di lingkungan UIJ,” ujarnya penuh semangat.

Seminar berlangsung penuh kehangatan dengan diskusi yang mengalir layaknya perbincangan keluarga, mengingatkan setiap peserta bahwa sejauh apa pun perjalanan, nilai-nilai Aswaja tetap menjadi kompas yang menjaga arah dan tujuan hidup.

Di tengah keberagaman yang terus berkembang di seluruh dunia, nilai-nilai luhur Ahlussunnah wal Jamaah hadir sebagai warisan tak ternilai yang harus terus dirawat dan diamalkan. Seminar Nasional UIJ ini menegaskan bahwa menjaga identitas keislaman dengan ilmu dan akhlak adalah fondasi keberhasilan hidup di mana pun kita berada. Semangat Aswaja membawa kita untuk tetap kokoh dan ramah dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus menjadi jembatan damai di tengah pluralitas global.

Mari kita jadikan nilai-nilai Aswaja sebagai cahaya pemandu yang menerangi perjalanan kehidupan, menebar kedamaian, dan membangun peradaban manusia yang beradab dan berintegritas.,*Imam Kusnin Ahmad*