Pegiat Budaya KSAP MPU BATU Bicara Kesenian Mengatasnamakan Kebudayaan

SURABAYA– Suara keras datang dari MPU Batu, pegiat budaya Nusantara asal Surabaya, menanggapi keributan seputar pengosongan kantor Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang kini ramai diperbincangkan. Dalam pernyataannya yang tajam, ia menilai gerakan yang mengatasnamakan kebudayaan saat ini hanyalah tameng semata.

“Tumben kesenian baru mengatasnamakan kebudayaan. Selama ini kemana saja? Mereka sibuk dengan kepentingan kelompok dan perutnya masing-masing!,” tegasnya dengan nada marah.

Menurutnya, selama ini DKS jarang atau bahkan tidak pernah menyentuh hal-hal yang menjadi inti kebudayaan yang tumbuh dari akar rumput. Mulai dari pelestarian situs bersejarah, busana tradisional, aksara kuno, terapis alternatif, hingga 10 pokok kebudayaan yang seharusnya menjadi perhatian utama, semuanya terabaikan.

“Kapan DKS pernah mengurusi kebudayaan yang pelakunya bergerak dari bawah hingga berkembang? Semua aspek itu tidak tersentuh sama sekali oleh mereka,” tambahnya.

MPU Batu menegaskan, nama kebudayaan tidak pantas dibawa-bawa dalam sengketa ini. Ia melihat sikap para pihak yang kini bersuara hanyalah cara bertameng dan bersembunyi di balik nama besar kebudayaan untuk membenarkan kepentingan sendiri.

Sebagai penutup, ia mewakili para pelaku dan penggiat budaya yang bekerja dengan kesadaran dan kepekaan melestarikan warisan Nusantara, menyampaikan kutukan keras:

“Kami mengutuk keras penggunaan nama kebudayaan untuk kepentingan kelompok tertentu! Jangan jadikan warisan leluhur sebagai alat kepentingan pribadi atau golongan!”

Pernyataan ini menambah kerumitan situasi di Surabaya, di mana di satu sisi ada protes soal pengosongan tempat, namun di sisi lain muncul penilaian bahwa lembaga yang diperjuangkan selama ini kurang berkontribusi pada pelestarian budaya yang sesungguhnya. MM

Hamim