
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH.Jurnalis Senior Jawa Timur..
KITA HIDUP di zaman di mana kecepatan informasi sering kali mengalahkan kebenaran. Segala sesuatu bisa menjadi viral dalam hitungan menit, namun sering kali tanpa disertai verifikasi yang memadai.
Fenomena ini terlihat jelas dalam beberapa waktu terakhir, di mana isu-isu negatif, sensasi berlebihan, hingga berita bohong atau hoax seolah menjadi makanan sehari-hari yang disajikan untuk memancing emosi publik.
Dua program besar pemerintah yang kini menjadi sasaran empuk serangan tersebut adalah Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
*Angka Rencana vs Realita*
Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan isu harga sepatu untuk siswa Sekolah Rakyat yang disebut mencapai Rp700 ribu per pasang dengan total anggaran fantastis Rp27 miliar.
Angka itu langsung menjadi bahan olokan, kritik pedas, dan tuduhan korupsi di media sosial. Namun, benarkah demikian?
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, akhirnya angkat bicara memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa angka Rp700 ribu tersebut bukanlah harga final, melainkan hanya angka perencanaan atau ceiling price yang disusun di awal.
Angka ini nantinya akan melalui proses lelang dan pengadaan yang terbuka, transparan, dan kompetitif. Hukumnya jelas: hasil lelang pasti akan jauh di bawah angka rencana awal.
“Jadi kalau sekarang disebut Rp700 ribu ya, nanti bisa hasilnya jauh di bawah itu,” ujar Gus Ipul. Ia pun menegaskan komitmennya menjaga integritas, memastikan tidak ada lobby, titipan, atau rekayasa. Bahkan, ia berjanji akan menjadi orang pertama yang melapor jika menemukan kecurangan.
Sayangnya, fakta mendasar ini sering kali diabaikan. Yang dicari bukan solusi atau kebenaran, melainkan sensasi. “Wah, mahal banget!”, “Ini pasti korupsi!”, teriak komentar-komentar yang belum tahu duduk perkara.
*Pola Pikir yang Selalu Buruk Sangka*
Ada satu pola yang sangat menyedihkan dalam budaya berita dan opini kita belakangan ini, yaitu “Sensi Buruk”. Kecenderungan untuk selalu berprasangka buruk terhadap segala hal yang dilakukan pemerintah atau institusi negara. Segala sesuatu yang berbau anggaran atau proyek langsung diasumsikan ada mark-up, ada korupsi, ada permainan belakang.
Padahal, dalam dunia pengadaan barang dan jasa, ada mekanisme yang sangat ketat. Anggaran yang ditulis di awal adalah estimasi tertinggi, dan tujuannya adalah agar saat dilelang, bisa didapatkan harga terbaik dengan kualitas terbaik.
Fakta lain yang membantah isu ini adalah bantahan dari pihak brand sepatu lokal yang ikut terseret dalam pusaran isu. Mereka menegaskan tidak terlibat sama sekali, dan harga produk mereka justru sangat terjangkau, berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribuan. Ini membuktikan bahwa informasi yang beredar adalah hoax dan manipulasi visual yang disengaja.
*Kritik Itu Perlu, Tapi Wajib Konstruktif*
Perlu kita tegaskan kembali, mengkritisi kebijakan pemerintah itu bukan hal yang dilarang. Justru dalam demokrasi, kritik adalah hal yang sangat sehat dan diperlukan sebagai kontrol sosial. Namun, kritik yang baik adalah kritik yang konstruktif, berbasis data, dan bertanggung jawab.
Kritik bukan berarti memfitnah, bukan berarti menyebarkan kebencian, dan bukan berarti mencari kesalahan semata. Kritik yang membangun adalah kritik yang bertujuan untuk perbaikan, untuk kesempurnaan, dan untuk kemajuan bersama.
Jika kita ingin menjadi bangsa yang besar dan beradab, mari kita ubah cara kita berpendapat. Jangan lagi menggunakan bahasa kebencian, jangan lagi menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Mari kita berdebat dengan argumentasi, bukan dengan emosi sesaat.
Karena hanya dengan cara itulah kita bisa benar-benar membangun peradaban bangsa yang maju, cerdas, dan bermartabat.
*Bahaya Hoax dan Sensasi bagi Bangsa*
Kita harus sadar, menyebarkan berita palsu dan sensasi tidak bertanggung jawab itu merugikan banyak pihak. Ini merusak iklim investasi dan kinerja birokrasi.
Pejabat jadi takut bekerja, takut mengambil keputusan, karena takut disalahkan dan dihujat meskipun sudah bekerja sesuai prosedur.
Program seperti Sekolah Rakyat dan MBG adalah program yang sangat mulia. Tujuannya adalah pemerataan kesempatan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ini adalah upaya memutus mata rantai kemiskinan. Namun, alih-alih didukung, justru diserang dengan cara-cara yang tidak fair.
*Bijak Bermedia, Cerdas Menilai*
Mari kita mulai mengubah pola pikir. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah share berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan selalu melihat segalanya dari kacamata hitam.
Belajarlah untuk membedakan mana yang rencana dan mana yang realisasi. Mengerti bahwa proses itu ada tahapannya. Mendukung upaya pemerintah yang tujuannya untuk kesejahteraan rakyat, dan mengawasi dengan cara yang cerdas dan konstruktif.
Mari kita lawan hoax. Mari kita lawan budaya sensasi yang hanya mencari klik dan keuntungan sesaat. Kita butuh informasi yang benar, kita butuh pembangunan yang nyata, dan kita butuh generasi yang cerdas dalam menyaring informasi demi masa depan bangsa yang gemilang.*Wallahu A’lam Bisshawab*
