
Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
SIAPA SANGKA, kalender Indonesia menyimpan keajaiban sejarah yang luar biasa unik. Hari ini, Jumat, 24 April 2026, menjadi tanggal yang sangat istimewa karena diperingati sebagai Empat Momen Besar Sekaligus.
Di satu sisi, sebagian besar umat Islam dan bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya ormas pemuda terbesar GP Ansor ke-92 beserta pasukan kebangsaannya Banser ke-62. Tidak kalah penting, hari ini juga genap 76 tahun usia Fatayat NU yang lahir pada 24 April 1950. Namun di sisi lain, tanggal yang sama juga diperingati sebagai Hari Transportasi Nasional.
Lantas, bagaimana bisa begitu banyak peristiwa bersejarah ini jatuh pada tanggal yang sama? Apa benang merah yang menghubungkan sejarah kepemudaan, pergerakan perempuan, dan sejarah angkutan di negeri ini? Mari kita telusuri makna di balik kesamaan tanggal yang penuh hikmah ini.
*Sejarah Transportasi: Dari Masa Pendudukan Hingga Kemerdekaan*
Kisah Hari Transportasi Nasional bermula jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1943, sistem transportasi mulai diorganisir secara modern dengan dibentuknya dua badan utama, yaitu Unyu Zigyosha yang menangani angkutan barang dan Zidosha Sokyoku untuk angkutan penumpang.
Kemudian, setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1946, kedua badan tersebut dilebur menjadi satu kesatuan ryang kokoh bernama Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI). Nama inilah yang kemudian menjadi legenda dan ikon transportasi darat Indonesia hingga hari ini.
Namun, penetapan resmi tanggal 24 April sebagai Hari Angkutan Nasional ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan pada tahun 1971. Sejak saat itu, tanggal ini menjadi pengingat betapa vitalnya sektor mobilitas bagi denyut nadi pembangunan bangsa.
DAMRI: Saksi Bisu Perjalanan Zaman
Tidak bisa dipisahkan dari peringatan ini adalah peran besar Perum DAMRI. Perusahaan ini bagaikan saksi bisu yang melihat evolusi transportasi Indonesia dari masa ke masa.
Dari kendaraan sederhana zaman dulu hingga armada modern berteknologi tinggi saat ini, DAMRI terus beradaptasi. Perkembangannya tidak hanya soal ganti mobil, tapi juga transformasi layanan dan teknologi yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat.
Sebagai tulang punggung transportasi umum, DAMRI telah menghubungkan desa dan kota, menyambung putus dan sambung komunikasi. Kontribusi inilah yang membuat Hari Transportasi tidak hanya seremonial, tapi apresiasi nyata bagi mereka yang bekerja keras memutar roda ekonomi lewat jalan raya.
*Tujuan Mulia: Dari Kendaraan Pribadi ke Transport Umum*
Mengapa tanggal ini begitu penting diperingati? Karena tujuan utamanya sangat strategis. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan ingin mengubah pola pikir masyarakat.
Kita diajak untuk semakin sadar bahwa transportasi umum adalah solusi masa depan. Tujuannya jelas: mengurangi kemacetan, menekan polusi udara, dan menciptakan efisiensi waktu.
Hal ini pun didukung oleh kebijakan nyata. Seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di tahun 2026 ini, yang menggratiskan seluruh moda transportasi umum mulai dari Transjakarta, MRT, hingga LRT tepat pada tanggal 24 April.
“Kami ingin masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Kebijakan ini sangat relevan melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat antusiasme masyarakat sudah mulai meningkat. Pada Juli 2025 saja, Transjakarta melayani 37,6 juta penumpang, disusul MRT 4,3 juta, dan LRT 118 ribu. Angka ini membuktikan bahwa perlahan tapi pasti, budaya public transport mulai tumbuh subur kembali.
*Kekuatan Tri Tunggal NU: Ansor, Banser, dan Fatayat NU*
Kini, mari kita beralih ke sejarah organisasi yang juga lahir di tanggal yang sama. Tanggal 24 April adalah hari yang sangat sakral bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama.
GP Ansor ke-92 Tahun: Sebagai ormas pemuda Islam terbesar di Indonesia, Ansor lahir sebagai wadah pemuda yang tangguh, moderat, dan cinta tanah air.
Banser ke-62 Tahun: Sebagai barisan pencinta kebenaran, Banser hadir menjaga keamanan, ketertiban, dan nilai-nilai luhur bangsa.
Fatayat NU ke-76 Tahun: Dan yang tak kalah istimewa, hari ini Fatayat NU genap berusia 76 tahun. Didirikan pada 24 April 1950 di Surabaya oleh para pejuang perempuan hebat yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai” yakni Chuzaimah Mansur (Gresik), Aminah Mansur (Sidoarjo), dan Murthosiyah (Surabaya). Ketiga perempuan itu telah sangat aktif melakukan koordinasi dan konsolidasi pemudi-pemudi NU pada sekitar tahun 1948. Nama lain yang ikut merintis dan mendirikan Fatayat NU adalah Nihayah Bakri, Maryam Thoha, dan Asnawiyah. Fatayat menjadi bukti nyata bahwa perempuan NU memiliki peran sentral dalam peradaban .
Selama 76 tahun, Fatayat tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tapi juga menjadi motor perubahan yang menggerakkan perempuan untuk berani tampil, berpendapat, dan berkarya di berbagai bidang, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan budaya luhur .
*Simbolisme: Bergerak untuk Kemajuan*
Jika dilihat secara filosofis, ada benang merah yang sangat indah menghubungkan semua peringatan ini.
Transportasi berarti bergerak menghubungkan tempat.
Ansor & Banser berarti bergerak menjaga nilai dan keutuhan bangsa.
Fatayat berarti bergerak memberdayakan perempuan dan memajukan peradaban.
Semua sama-sama bergerak. Semua sama-sama menjadi “kendaraan” yang mengantarkan masyarakat menuju tujuan yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera.
Selamat Hari Transportasi Nasional.
Selamat Harlah ke-92 GP Ansor, ke-62 Banser, dan ke-76 Fatayat NU.
Tanggal 24 April mengajarkan kita satu hal penting: Hidup itu harus bergerak. Baik itu kendaraan yang memutar rodanya, pemuda yang mengabdi, maupun perempuan yang berkarya.
Mari kita jadikan momen ini sebagai penyemangat. Gunakan transportasi umum untuk menjaga bumi ini, dan teruslah berkarya seperti semangat Ansor, Banser, dan Fatayat yang tak pernah padam.
Majulah transportasi Indonesia, majulah pemuda dan pemudi bangsa!.*Wallahu A’lam Bisshawab*
