Teladan Perjalanan Spiritual RA Kartini: Mencari Cahaya Makna Di Balik Ayat Suci .

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini. Sosok ini selalu dikenang sebagai pelopor emansipasi wanita, pemikir cerdas yang menuntut kesetaraan dan pendidikan bagi kaum perempuan, sebagaimana terekam dalam buku legendarisnya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Namun, di balik pemikiran modern dan semangat perjuangannya, tersimpan sebuah kisah spiritual yang sangat dalam. RA Kartini bukan hanya pejuang hak asasi, melainkan juga seorang Muslimah yang gigih mencari kebenaran dan makna hakiki dari agamanya, khususnya dalam mendalami Al-Quran.

Dalam surat-suratnya, Kartini pernah mencurahkan kegelisahannya tentang cara belajar agama saat itu. Ia merasa kesulitan dan “hampa” ketika belajar mengaji hanya sebatas membaca huruf, tanpa memahami arti dan maknanya sama sekali.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan agar bisa dipahami. Padahal di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Orang belajar Al-Quran tapi tidak paham apa yang dibaca,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899.

Pertanyaan kritis ini lahir dari rasa cinta yang besar. Kartini ingin beribadah bukan hanya karena tradisi atau warisan nenek moyang semata, melainkan karena pemahaman dan kesadaran hati yang jernih.

Jalan pencarian batin itu akhirnya mempertemukan Kartini dengan sosok ulama besar Jawa, KH. Sholeh Darat (Muhammad Kiai Sholeh al Samarani). Beliau adalah guru yang juga dihormati pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, dan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Kiai Sholeh dikenal ahli dalam ilmu tasawuf, fiqih, dan falak.

Pertemuan bersejarah itu terjadi di rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat (Bupati Demak). Saat itu, Kiai Sholeh sedang memberikan pengajian tentang makna mendalam dari Surat Al-Fatihah.

Untuk pertama kalinya, telinga Kartini mendengar penjelasan yang begitu indah dan masuk ke relung hati. Setelah pengajian selesai, Kartini meminta diperkenalkan secara pribadi. Dalam dialog yang hangat itu, Kartini berani bertanya:
“Kanjeng, mengapa para ulama melarang menerjemahkan Al-Quran ke bahasa Jawa? Padahal jika diterjemahkan, kami bisa lebih mudah memahami dan mencintai ajaran-Nya.”

Mendengar pertanyaan cerdas dan tulus itu, Kiai Sholeh Darat tertegun sejenak, lalu mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah). Pertanyaan putri bangsawan ini justru menyentuh hati nuraninya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.

Meski saat itu pemerintah Hindia-Belanda melarang keras penerjemahan Al-Quran, dan banyak ulama yang ragu melakukannya karena keterbatasan ilmu, Kiai Sholeh Darat justru berani mengambil langkah.

Dengan bekal ilmu yang mumpuni, beliau menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa Pegon. Kitab itu dinamai “Faidhul Rahman” (Curahan Rahmat Allah).

Kiai Sholeh berhasil menyelesaikan 13 Juz, mulai dari Al-Fatihah hingga Surat Ibrahim. Kitab suci yang diterjemahkan dengan bahasa hati ini kemudian dihadiahkan sebagai kado pernikahan saat Kartini bersanding dengan Raden Mas Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Kitab inilah yang menjadi “jembatan” bagi Kartini untuk menyelami lautan makna Al-Quran. Ia tidak lagi hanya membaca, tapi mengerti dan merasakan keagungan firman Allah.

Setelah KH. Sholeh Darat wafat, jejak penerjemahan Al-Quran bahasa Jawa tidak terputus. Tugas mulia itu kemudian diteruskan oleh seorang ulama besar dari Rembang, KH. Bisri Mustofa. Beliau melanjutkan apa yang belum sempat diselesaikan oleh gurunya, bahkan menyempurnakannya menjadi sebuah karya tafsir lengkap yang sangat masyhur di Nusantara.

Kitab yang disusun beliau diberi nama resmi “Al-Ibriz li Ma’rifat Tafsir Al-Qur’an al-‘Aziz”. Diterbitkan pertama kali sekitar tahun 1960, kitab ini hadir secara lengkap 30 Juz sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat Jawa.

Keistimewaan Tafsir Al-Ibriz:

– Bahasa yang Luwes: Menggunakan bahasa Jawa “gagrag anyar” dengan metode terjemahan makna per kata (gandul) yang sangat mudah dipahami orang awam.
– Corak yang Komprehensif: Menggabungkan tiga unsur utama: Fiqih (hukum), Sosial (kehidupan bermasyarakat), dan Sufistik (pendidikan akhlak dan hati).
– Mudah Diakses: Tersedia dalam dua versi tulisan, yaitu Aksara Arab Pegon dan Aksara Latin, sehingga bisa dinikmati oleh berbagai kalangan usia.

Tafsir Al-Ibriz dirancang agar masyarakat Jawa dapat memahami isi Al-Quran tanpa kehilangan nuansa budaya lokal. Hingga kini, kitab ini menjadi rujukan utama dan paling populer di pondok pesantren serta majelis taklim.

Perjalanan spiritual ini mengubah pandangan hidup Kartini. Ia tidak lagi gelisah, melainkan menjadi sosok yang mantap dan bangga akan agamanya. Hal ini terungkap dalam suratnya kepada Ny. Van Kol tertanggal 21 Juli 1902:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai, agama yang penuh kedamaian dan kasih sayang.”

Kisah ini adalah rangkaian panjang perjuangan cahaya. Dari kegelisahan hati RA Kartini yang ingin memahami makna ayat, dilanjutkan oleh keberanian Kiai Sholeh Darat, hingga disempurnakan oleh ketekunan KH. Bisri Mustofa dalam Tafsir Al-Ibriz.

Semua ini membuktikan bahwa kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual bisa berjalan beriringan. Kartini mengajarkan kita: Beragama itu bukan sekadar ritual, tapi tentang pemahaman, cinta, dan pengamalan.*Wallahu A’lam Bisshawab*