Filsuf dan ilmuwan memuja Tuhan dengan akal dan kesadaran

 

Oleh
Dr. Ir. Hadi Prajaka, SH, MH

 

“Tuhan tidak main dadu,” itu kata terkenal Einstein yang dicatat dalam sejarah sains. Ia menolak hukum probabilitas dalam diam mekanika kuantum. Tapi apa boleh buat, hasil-hasil eksperimen kemudian menunjukkan kebenaran probabilitas itu. Mekanika kuantum menjadi fondasi penting fisika modern.

Erwin Schrodinger semula sempat menolak rumusan Paul Dirac yang meramalkan adanya positron. Ia mengatakan bahwa ramalan itu akibat salah hitung saja. Tapi hasil eksperimen menunjukkan adanya positron. Schrodinger tentu saja tidak bisa membantah lagi.

Ilmuwan tidak memuja akal mereka. Akal hanyalah alat untuk memotret hukum alam. Akal tidak membuat hukum itu. Akal tidak punya kepentingan untuk mengarahkan agar rumusan hukum alam itu berbunyi tertentu. Kalau pun ada yang mencoba mengarahkan, suatu saat itu akan terbongkar dan dikoreksi.

Jadi keliru kalau orang misalnya menuduh teori evolusi itu dibangun atas dasar prinsip ateisme, untuk meniadakan Tuhan. Faktanya ada begitu banyak peneliti evolusi yang teis. Demikian pula, pandangan bahwa alam semesta ini terjadi dengan sendirinya, adalah kesimpulan atas apa yang diamati pada alam. Kesimpulan itu mungkin saja diubah kelak. Mengubahnya pun berbasis pada pengamatan terhadap alam.

Akal manusia itu terus berkembang. Tentu saja ini hanya berlaku pada manusia yang mengembangkan akalnya. Manusia sampai ke titik sekarang, memiliki sains yang hebat, justru karena mereka tidak memuja akalnya. Apa yang dirumuskan oleh akal, terus diubah sesuai temuan-temuan baru Para ilmuwan dan filsuf meneruskan misi SUCI ilahi dan ketuhanan yang mampu menyelamatkan dan menyelesaikan permasalahan yg dihadapi umat manusia, menuntun proses PERADABAN.

Tentu saja ada orang yang memaku akalnya di suatu titik, tidak mau memperbarui informasi di otak mereka. Mereka hanya mau memakai informasi yang didapat belasan abad lalu, mati akal’ akibatnya halusinasi, Mereka tidak mengoreksi informasi itu, meski setiap hari menyaksikan fakta-fakta yang berbeda. Mereka inilah sebenarnya pemuja akal, akibatnya otaknya beku membatu, seperti balok es dalam freezer, Tepatnya, pemuja fosil akal, akibat disodomi manusia ahli kubur.

Produser orang Waras

TTD
Penulis kesadaran.