
BANTEN, 12 April 2026 – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan digelar dalam waktu dekat, warga Nahdliyin diimbau untuk mengawal forum permusyawaratan tertinggi NU dengan semangat ukhuwah, khidmah, dan kembali ke Khittah 1926.
Imbauan tersebut disampaikan Diar Mandala, Penulis & Warga Nahdliyin Kultural asal Pandeglang, melalui keterangan tertulis, Sabtu,11 April 2026.
“Muktamar adalah ibadah jama’i, bukan ajang perebutan kekuasaan. Mari kita kawal dengan doa, akhlak, dan khusnudzan kepada para Ahlul Halli wal Aqdi,” ujar Diar.
Menurutnya, warga NU di akar rumput perlu membedakan Muktamar dengan pemilihan umum. “Di NU yang menang bukan yang banyak modal, tapi yang berat timbangan akhlak dan sanad keilmuannya,” ucapnya mengutip dawuh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari.
Diar mengingatkan agar tidak ada praktik black campaign, politik uang, dan penyebaran hoaks terkait calon Ketua Umum PBNU. “Beda pilihan itu sunnatullah. Tapi beda pilihan jangan sampai bikin shaf shalat renggang,” tegasnya.
Ia menitipkan tiga peran warga Nahdliyin: pertama, perbanyak doa agar Allah memberi pemimpin yang diridhai. Kedua, jaga lisan dari ghibah dan fitnah. Ketiga, sami’na wa atha’na terhadap hasil Muktamar serta menghidupkan amaliah NU di ranting masing-masing.
“Muktamar sukses itu bukan yang paling meriah, tapi yang paling barakah. Ukurannya: setelah Muktamar, jamaah tahlil nambah dan yang bermaaf-maafan makin gampang,” jelasnya.
Muktamar NU merupakan forum permusyawaratan tertinggi untuk memilih Rais ‘Aam, Ketua Umum PBNU, serta menetapkan program lima tahunan. Hingga siaran pers ini dibuat, waktu dan lokasi resmi pelaksanaan masih menunggu keputusan Panitia Pusat PBNU.
