
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Lagu Imagine karya John Lennon merupakan salah satu simbol paling kuat dari kerinduan manusia akan dunia yang damai. Dalam lagu tersebut, Lennon mengajak kita membayangkan sebuah realitas tanpa sekat—tanpa agama, tanpa negara, tanpa kepemilikan—yang menurutnya sering menjadi sumber konflik. Imajinasi ini sederhana, namun radikal: jika semua perbedaan yang memisahkan manusia dihapus, maka perdamaian akan tercipta dengan sendirinya.
Namun, di sisi lain, terdapat pendekatan yang berbeda dalam melihat jalan menuju perdamaian dunia, yakni melalui sinergi antara sains dan agama. Pendekatan ini tidak berusaha menghapus perbedaan, melainkan mengelolanya secara harmonis. Sains dan agama dipandang bukan sebagai dua kekuatan yang saling bertentangan, tetapi sebagai dua dimensi yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia.
Gagasan dalam Imagine berangkat dari asumsi bahwa konflik manusia bersumber dari identitas kolektif yang eksklusif. Agama, bangsa, dan kepemilikan dianggap menciptakan batas-batas yang membuat manusia saling berhadap-hadapan. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah menghapus batas-batas tersebut dan kembali pada identitas universal sebagai sesama manusia. Pendekatan ini memiliki kekuatan besar dalam menggugah emosi dan kesadaran, karena ia menyederhanakan persoalan kompleks menjadi visi yang mudah dipahami: dunia tanpa perpecahan.
Namun, pendekatan ini juga memiliki kelemahan. Ia cenderung utopis dan sulit diwujudkan dalam realitas sosial yang kompleks. Agama, misalnya, tidak hanya menjadi sumber konflik, tetapi juga sumber moralitas, makna hidup, dan inspirasi kebaikan bagi miliaran manusia. Menghapus agama bukan hanya menghilangkan potensi konflik, tetapi juga menghilangkan salah satu fondasi nilai dalam kehidupan manusia.
Sebaliknya, pendekatan sinergi sains dan agama berangkat dari asumsi yang berbeda. Konflik tidak dianggap berasal dari keberadaan agama atau sains itu sendiri, melainkan dari cara manusia memahaminya secara sempit dan eksklusif. Dalam perspektif ini, sains memberikan rasionalitas, metode berpikir objektif, serta teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup. Sementara itu, agama memberikan nilai moral, arah etika, dan makna eksistensial yang membimbing penggunaan ilmu pengetahuan.
Ketika keduanya bersinergi, lahirlah keseimbangan antara akal dan hati. Teknologi tidak digunakan secara liar tanpa kendali, karena dibimbing oleh nilai-nilai etika. Sebaliknya, agama tidak menjadi kaku atau anti-perkembangan, karena terbuka terhadap pengetahuan dan realitas empiris. Sinergi ini memungkinkan terciptanya peradaban yang tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Jika dibandingkan secara filosofis, Imagine menawarkan pendekatan eliminatif—menghapus perbedaan demi mencapai kesatuan. Sementara itu, sinergi sains dan agama menawarkan pendekatan integratif—mengelola perbedaan menjadi kekuatan kolaboratif. Yang satu bersifat idealistik dan imajinatif, sementara yang lain lebih realistis dan implementatif.
Namun demikian, kedua pendekatan ini tidak harus dipertentangkan secara kaku. Justru, keduanya dapat dipadukan. Imajinasi yang ditawarkan oleh John Lennon penting sebagai sumber inspirasi dan arah moral. Dunia membutuhkan visi besar tentang perdamaian agar tidak terjebak dalam konflik tanpa akhir. Akan tetapi, visi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kerangka yang konkret dan dapat dijalankan, dan di sinilah peran sinergi sains dan agama menjadi penting.
Dengan kata lain, dunia membutuhkan imajinasi untuk bermimpi, sains untuk memahami, dan agama untuk membimbing. Perdamaian tidak harus dicapai dengan menghapus identitas, tetapi dengan mentransformasikan identitas tersebut menjadi sarana untuk saling mengenal, bukan saling meniadakan.
Pada akhirnya, perdamaian dunia bukanlah hasil dari ketiadaan perbedaan, melainkan dari kemampuan manusia untuk mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan. Imajinasi tanpa tindakan akan tetap menjadi mimpi, sementara tindakan tanpa nilai akan kehilangan arah. Maka, perpaduan antara visi ideal dan pendekatan realistis menjadi jalan yang paling memungkinkan untuk mewujudkan dunia yang damai. Semoga kita dan semua penghuni muka bumi ini faham dan mengerti serta menyadari akan perlunya kebersamaan untuk mewujudkan kedamaian aamiin.
Wa Allah a’lam baish-showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
20 Syawal 1447
atau
08 April 2026
m.mustain
