Politisi Bali Bicara Video Viral

BALI-Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK), akhirnya angkat bicara terkait video viral yang memperlihatkan dirinya memakaikan ketu kepada seorang rohaniawan wanita dalam acara Pemayuh Jagat pada 2 April 2026.
Video tersebut sebelumnya memicu polemik di kalangan masyarakat Bali. Dalam rekaman yang beredar, AWK terlihat secara langsung memasangkan ketu—mahkota suci dalam tradisi Hindu Bali—ke kepala seorang rohaniawan. Aksi itu kemudian menuai pro dan kontra karena simbol ketu dianggap sakral dan identik dengan kedudukan seorang sulinggih.
Menanggapi hal tersebut, AWK memberikan klarifikasi bahwa peristiwa itu terjadi di Kintamani, Bangli, saat dirinya diundang oleh Ida Panglingsir untuk membuka acara Pemayuh Jagat.
Menurutnya, di sela acara, seorang rohaniawan wanita datang dan secara langsung meminta dirinya untuk memasangkan ketu sebagai simbol permohonan restu.
“Saya diminta langsung oleh yang bersangkutan untuk memasangkan ketu. Jadi itu atas permintaan beliau,” jelas AWK, Senin (6/4/2026).
Ia menegaskan bahwa rohaniawan wanita tersebut bukanlah seorang sulinggih, melainkan seorang jero. Hal ini, menurutnya, menjadi konteks penting yang perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat.
AWK juga mengakui bahwa polemik yang muncul menjadi pembelajaran bagi dirinya untuk lebih berhati-hati ke depannya.
“Bagi pihak-pihak yang mispersepsi, terima kasih masukannya, karena ke depan saya juga harus hati-hati, dan situasional,” tambahnya.
Meski telah ada klarifikasi, perdebatan di ruang publik masih terus bergulir. Sejumlah pihak tetap menyoroti aspek etika, mengingat AWK sebagai walaka dinilai tidak pada tempatnya memakaikan atribut yang memiliki makna sakral dalam tradisi keagamaan.
Kontroversi ini pun membuka diskusi lebih luas mengenai batasan etika dalam penggunaan simbol keagamaan di Bali, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap atribut sakral memiliki nilai filosofis yang mendalam dan harus diperlakukan dengan penuh kehati-hatian.
#AWK