
PAREPARE – Mimpi PSM Makassar untuk memutus tren negatif dan bangkit kembali harus tertunda lagi. Pada lanjutan pekan ke-26 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora B.J. Habibie, Sabtu (4/4/2026), tim kebanggaan Sulawesi Selatan ini hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Persis Solo.
Hasil ini bukan hanya memperpanjang puasa kemenangan menjadi lima laga beruntun, tetapi juga membuat posisi “Juku Eja” di klasemen semakin genting. “Kutukan” kandang yang belum memberikan kemenangan selama lima bulan terakhir pun masih terus membayangi.
*Unggul Dulu, Gagal Tutup Kemenangan*
Meski tampil tanpa didampingi pelatih kepala Tomas Trucha dan ditangani langsung oleh asisten pelatih Ahmad Amiruddin, PSM sebenarnya memulai laga dengan cukup menjanjikan.
Antusiasme publik Parepare memuncak di menit ke-18. Bek andalan, Yuran Fernandes, sukses meneruskan umpan corner kick dari Victor Luiz dengan tandukan keras yang tak bisa dihalau kiper lawan.
Skor 1-0 bertahan kuat hingga babak pertama usai, membawa harapan besar untuk meraih tiga poin.
Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama. Memasuki babak kedua, Persis Solo mulai menekan dan berhasil menyamakan kedudukan lewat aksi Roman Paparyga pada menit ke-65. Sepakan keras penyerang asal Ukraina itu merobek jala gawang PSM.
Setelah skor berubah menjadi 1-1, pertandingan berjalan terbuka. Kedua tim saling menyerang, namun tidak ada gol tambahan yang tercipta. Peluit panjang menandakan berakhirnya laga dengan hasil bagi dua yang sangat pahit bagi tuan rumah.
*Situasi Klasemen Membahayakan*
Satu poin yang didapat justru terasa seperti kerugian besar bagi PSM. Dengan perolehan 25 poin, mereka kini bertengger di peringkat 13. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena jaraknya dengan Madura United FC yang berada di posisi ke-16 (zona degradasi) hanya terpaut 4 poin.
Situasi ini membuat posisi PSM sangat rawan. Satu kesalahan kecil atau hasil buruk di laga berikutnya bisa membuat mereka langsung terperosok ke zona merah.
Sementara itu, Persis Solo pun belum bisa bernapas lega karena posisi mereka juga masih dalam ancaman.
*Analisa dan Motivasi*
Hasil ini menunjukkan bahwa mentalitas dan konsistensi permainan PSM sedang dalam titik terendah. Memimpin di babak pertama namun gagal menjaga keunggulan adalah sinyal bahwa pertahanan dan manajemen permainan harus segera diperbaiki. “Kutukan” kandang yang sudah berjalan 5 bulan adalah masalah serius yang harus segera dicarikan solusinya.
Untuk Pemain dan Staf:
Jangan biarkan situasi ini semakin memburuk. Masih ada kesempatan, tapi waktu semakin sempit. Bukalah kembali semangat “Pasukan Ramang” yang dulu gagah berani. Lupakan hasil buruk kemarin, fokuslah untuk menang di laga berikutnya.
Ingat, degradasi bukanlah pilihan bagi tim sebesar PSM Makassar. Bangkitlah, perlihatkan perjuangan hidup mati, dan selamatkan nama besar klub dari ancaman penurunan kelas! Semangat Juku Eja!.*Imam Kusnin Ahmad*
