Perjalanan Spiritual Kanjeng Adipati Agustinus ( GusTri) di Petilasan Pertapaan Eyang Raden Wijaya, dan Ikrar Setia Gajah Mada”Sumpah Palapa” di Tlatah bumi Trowulan.

KA Agustinus atau Gus Tri kini melakukan perjalanan menuju Bekas Keraton Kerajaan Majapahit. Khususnya di Petilasan Raden Wijaya dan Gajah Mads. Seperti apakah. Kisahnya berikut ini pendapatnya :

 

Ini adalah perjalanan kesekian saya dalam kunjungan dan ritual budaya keliling nusantara. Sebenarnya badan saya mesti membutuhkan istirahat. Namun karena ada dorongan ghaib yg saya imani, saya pun mesti melanjutkan perjalanan ritual budaya saya ke bumi tlatah Trowulan.

Selanjutnya yang menjadi sebuah pertanyaan apa yg melatar belakangi saya mesti berkunjung ke petilasan eyang R. Wijaya tentunya selain berangkat dari dorongan ghaib karena saya tergerak hatinya karena kita semua mengetahui bahwa R. Wijaya adalah bagian dari tonggak sejarah peradaban budaya nusantara dan cikal bakal berdirinya Kerajaan nusantara yang sangat menggetarkan manca negara waktu itu, juga merupakan Raja yg sangat mumpuni sehingga peradaban Kerajaan Kerajaan Nusantara boleh tertoreh di Kitab Kehidupan yg tentunya tertulis dengan tinta emas.

Adapun Mahapatih Gajah Mada adalah yg menjadi idola saya karena perjuangannya untuk menyatukan nusantara tanpa memikirkan diri sendiri yg endingnya pun ia mesti alami mati moksa atas perjuangannya oleh sang Hyang wenang ia mesti jalani itu karena merupakan murid kekasih dari Gusti.

2.Untuk selanjutnya tentunya dalam perjalanan ritual saya ke petilasan pertapaan eyang R. Wijaya dan tempat dimana Eyang Gajah Mada menyampaikan janji setia yg sampai saat ini dengan Sumpah amukti palapa adalah saya sangat terkesan dengan kesungguhan leluhur dalam menorehkan sejarah peradaban Kerajaan nusantara selain banyak kelebihan 2 dari Eyang R. Wijaya dimasa hidupnya. adapun Mahapatih Gajah Mada meskipun dia bukan trah darah biru dia telah memiliki semangat tiada tanding, banyak kelebihan kelebihan sehingga dia disegani dan ditakuti Kerajaan Kerajaan lain yg menjadi taklukannya. Yang mana dalam kunjungan sebelumnya saya juga sempatkan untuk kunjungan ritual di makam ibunda Gajah Mada sekaligus merupakan tanah kelahiran Gajah Mada di ngimbang lamongan.

Dalam ritual saya di depan makam ibunda Gajah Mada, saya ada dorongan dari leluhur untuk mendoakan kelancaran perjalanan para leluhur dan nenek moyang dalam perjalanannya dialam kelanggengan bersama gusti, juga senantiasa tak hentinya menjalin komunikasi dan mendoakan leluhur juga membangun nusantara menjadi lebih baik.

Husnu Mufid