
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Menjelang datangnya bulan Syawal, suasana di sekitar Ka’bah menghadirkan pemandangan yang tidak hanya menggetarkan hati, tetapi juga menyimpan makna mendalam tentang persatuan umat manusia. Di tengah jutaan langkah yang mengitari rumah Allah SWT di Masjidil Haram, terpancar sebuah energi besar—energi persatuan yang melampaui batas bangsa, bahasa, dan budaya (Modified AI, 2026).
*Harmoni dalam Keberagaman*
Jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul dengan satu tujuan: beribadah kepada Allah SWT. Mereka berbeda warna kulit, bahasa, dan latar belakang sosial, namun semua melebur dalam satu gerakan yang sama, yaitu thawaf mengelilingi Ka’bah. Inilah simbol nyata dari firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat: 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang bersengketa) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara, sehingga mereka harus saling menjaga hubungan baik dan tidak saling bermusuhan. Jika terjadi persengketaan antara dua orang mukmin, maka harus didamaikan dengan cara yang baik dan bijak.
Ayat ini juga menekankan pentingnya taqwa kepada Allah SWT, karena dengan taqwa, kita dapat menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan mendapatkan rahmat Allah SWT.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa persaudaraan antara orang-orang mukmin adalah persaudaraan yang kuat dan abadi, sehingga mereka harus saling membantu dan menjaga hubungan baik.
Tidak ada sekat antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana, menandakan kesetaraan di hadapan Sang Pencipta. Momentum ini menjadi gambaran ideal bagaimana umat Islam seharusnya hidup: saling menghormati, saling menguatkan, dan bersatu dalam tujuan kebaikan.
*Momentum Spiritual Menjelang Syawal*
Menjelang Syawal, khususnya di akhir Ramadhan, suasana di Masjidil Haram semakin penuh dengan tangis, doa, dan harapan. Umat Islam memanfaatkan detik-detik terakhir bulan suci untuk memperbanyak ibadah, berharap meraih ampunan dan keberkahan.
Di sinilah energi persatuan itu mencapai puncaknya. Doa-doa yang dipanjatkan secara kolektif menciptakan resonansi spiritual yang luar biasa. Seolah-olah langit dan bumi bersatu dalam satu irama penghambaan. Setiap individu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari satu tubuh besar umat Islam.
*Ka’bah sebagai Pusat Gravitasi Persatuan*
Ka’bah bukan hanya bangunan fisik, tetapi pusat gravitasi spiritual umat Islam. Sejak zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tempat ini telah menjadi simbol tauhid dan persatuan.
Gerakan thawaf yang berputar mengelilingi Ka’bah menggambarkan keteraturan kosmik—seperti planet yang mengelilingi matahari. Ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia seharusnya berpusat pada ketaatan kepada Allah, bukan pada ego dan kepentingan duniawi.
*Energi Persatuan sebagai Modal Peradaban*
Jika energi persatuan yang terasa di sekitar Ka’bah ini dapat dibawa pulang ke negeri masing-masing, maka ia akan menjadi kekuatan dahsyat untuk membangun peradaban yang damai. Konflik, perpecahan, dan permusuhan dapat diredam jika umat mampu menjaga ruh kebersamaan yang telah mereka rasakan di tanah suci.
Persatuan bukan hanya slogan, tetapi pengalaman nyata yang telah dirasakan jutaan manusia. Ini adalah bukti bahwa perdamaian global bukan utopia, melainkan sesuatu yang sangat mungkin diwujudkan jika nilai-nilai spiritual dijadikan fondasi.
*Penutup*
Menjelang Syawal, di sekitar Ka’bah, umat Islam tidak hanya merayakan akhir Ramadhan, tetapi juga merasakan puncak persatuan yang jarang ditemukan di tempat lain. Energi ini adalah amanah—yang seharusnya tidak berhenti di tanah suci, tetapi terus mengalir ke seluruh penjuru dunia.
Semoga setiap langkah thawaf, setiap doa, dan setiap air mata menjadi penguat ikatan persaudaraan umat Islam, serta menjadi cahaya bagi terwujudnya perdamaian global yang hakiki. Semoga bisa demikian aamiin.
والله أعلم بالصواب
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
30 Romadlon 1447
atau
19 Maret 2026
m.mustain
