Kisah Veteran Heroik dari Surabaya

 

oleh :
Dr. H. Mochamad Taufik, M.Pd.
(Putra Veteran RI)

Tahun 1945 menjadi saksi bagaimana rakyat Indonesia bangkit mempertahankan kemerdekaan. Di kota pahlawan, Surabaya, ribuan pemuda, santri, dan rakyat biasa mengangkat senjata melawan pasukan Sekutu yang datang kembali bersama NICA untuk merebut Indonesia. Peristiwa besar itu kemudian dikenal sebagai Pertempuran Surabaya 10 November 1945, salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah bangsa.
Di antara para pejuang itu terdapat seorang Veteran Republik Indonesia yang dengan keberanian luar biasa ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dengan senjata sederhana dan semangat jihad mempertahankan tanah air, ia bersama kawan-kawannya bertempur di jalan-jalan Surabaya. Dentuman meriam, desingan peluru, dan kobaran api menjadi pemandangan sehari-hari saat itu.
Namun bagi para pejuang, kemerdekaan bukan sekadar kata. Ia adalah harga diri, kehormatan, dan masa depan bangsa.
Meski kekuatan militer Sekutu jauh lebih modern dan terorganisir, para pejuang Surabaya tidak pernah gentar. Mereka bertempur dari kampung ke kampung, dari gang ke gang, bahkan dari rumah ke rumah. Semangat mereka hanya satu: lebih baik gugur daripada kembali dijajah.
Setelah masa-masa pertempuran itu berlalu, para pejuang kembali ke kehidupan masyarakat. Tidak semua menjadi pejabat atau orang terpandang. Banyak di antara mereka kembali menjadi rakyat biasa—bertani, berdagang kecil, atau bekerja apa saja demi menghidupi keluarga.
Sebagai bentuk penghormatan negara atas pengorbanan mereka, pemerintah kemudian memberikan pengakuan resmi sebagai Veteran Republik Indonesia melalui Legiun Veteran Republik Indonesia. Penghargaan itu berupa piagam Veteran RI serta tunjangan kehormatan sebagai tanda terima kasih negara atas jasa perjuangan mereka.
Namun kehidupan setelah perang tidak selalu mudah.
Sang veteran memiliki keluarga besar dengan tujuh orang anak. Ekonomi keluarga sederhana, bahkan sering kali sangat terbatas. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tidak mudah. Dalam kondisi seperti itulah nilai perjuangan kembali diuji—bukan lagi di medan perang, tetapi di medan kehidupan.
Salah satu anaknya, putra ketiga, memiliki tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia melanjutkan kuliah di IKIP Negeri Surabaya, yang sekarang dikenal sebagai Universitas Negeri Surabaya. Namun kuliah bukan perkara ringan bagi keluarga yang ekonominya pas-pasan.
Pada semester awal, biaya kuliah harus dibayar dengan penuh perjuangan. Setiap semester keluarga harus menjual 3 sampai 4 mesin jahit hanya untuk membayar biaya kuliah sekitar Rp125.000. Mesin jahit itu menjadi salah satu aset keluarga yang perlahan-lahan harus dilepas demi pendidikan.
Bahkan ada masa-masa ketika kehidupan begitu sederhana. Dalam buku Cahaya Dakwah diceritakan sebuah kisah yang sangat menyentuh berjudul “Makan Nasi Karak (Nasi Sisa Kemarin) untuk Mengganjal Perut Saat ke Sekolah.”
Nasi karak—nasi yang sudah kering dari sisa hari sebelumnya—menjadi bekal sederhana agar tetap bisa berangkat sekolah dengan perut tidak kosong. Bagi sebagian orang mungkin itu terlihat sepele, tetapi bagi keluarga sederhana, itu adalah bentuk keteguhan menjalani hidup dengan sabar dan penuh harapan.
Barulah pada semester 5 hingga semester 8, putra veteran tersebut mendapatkan informasi bahwa anak Veteran RI berhak memperoleh keringanan biaya pendidikan. Setelah mengurus administrasi, ia akhirnya memperoleh bebas biaya kuliah (100%) pada semester tersebut.
Sedangkan pada semester 9 hingga 11, biaya kuliah mendapatkan potongan 50%.
Informasi itu datang terlambat, karena sebelumnya keluarga tidak mengetahui adanya fasilitas tersebut. Namun meski terlambat, keringanan itu tetap menjadi pertolongan besar bagi keluarga yang sedang berjuang secara ekonomi.
Kisah ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu terjadi di medan perang. Ada perjuangan yang lebih sunyi tetapi tidak kalah berat: perjuangan orang tua membesarkan anak-anaknya, dan perjuangan anak-anak untuk meraih pendidikan di tengah keterbatasan.
Dari seorang veteran pejuang kemerdekaan, lahirlah generasi yang tetap membawa semangat perjuangan—bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan ilmu, pendidikan, dan dakwah.
Karena sesungguhnya, kemerdekaan yang diperjuangkan para veteran harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya melalui ilmu, pengabdian, dan kontribusi untuk masyarakat.
Dan kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap lembar sejarah bangsa, ada cerita keluarga sederhana yang penuh pengorbanan, keteguhan, dan harapan.
Dari medan perang Surabaya, hingga perjuangan di bangku kuliah—semangat juang itu tidak pernah padam.