
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
MUQODDIMAH
Perang sering kali dibungkus dengan narasi kehormatan, pembelaan diri, atau kemenangan. Namun dalam kenyataannya, perang hampir selalu menjadi jalan yang sangat kontra produktif—baik bagi kemanusiaan, peradaban, maupun nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi oleh agama.
QS. Al-Baqarah (2: 216) telah memberikan penjelasan, yakni;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Kamu mungkin membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan kamu mungkin menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa perang bukanlah sesuatu yang diinginkan, tetapi kadang-kadang diperlukan untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. Allah memerintahkan untuk berperang, tetapi dengan catatan bahwa itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Penjelasan lebih lanjut ayat ini menunjukkan bahwa perang bukanlah solusi yang ideal, tetapi kadang-kadang diperlukan untuk membela diri atau mencapai kebaikan yang lebih besar. Namun, perang harus dilakukan dengan cara yang adil dan tidak berlebihan.
QS. Al-Anfal (8: 61) telah menjelaskan:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa jika musuh menawarkan perdamaian, maka kita harus menerima tawaran itu dan tidak menolaknya. Perdamaian adalah sesuatu yang lebih baik daripada perang.
Penjelasan lebih detail ayat ini adalah menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya perdamaian dan menghindari perang jika memungkinkan. Jika musuh menawarkan perdamaian, maka kita harus menerima tawaran itu dan berusaha untuk mencapai kesepakatan yang adil.
PERANG DAN KERUGIAN KEMANUSIAAN
Setiap perang menyisakan luka yang panjang. Nyawa melayang, keluarga tercerai-berai, dan generasi tumbuh dalam trauma. Sejarah mencatat bagaimana Perang Dunia I dan Perang Dunia II menghancurkan jutaan jiwa serta meruntuhkan sendi-sendi peradaban manusia.
Kemenangan dalam perang sering kali hanya bersifat politis dan sementara, sementara dampak sosial dan psikologisnya berlangsung lintas generasi. Di sinilah letak kontra produktifnya perang: tujuan ingin menegakkan stabilitas, tetapi yang terjadi justru instabilitas berkepanjangan.
PERANG MENGHANCURKAN FONDASI EKONOMI DAN ILMU PENGETAHUAN
Peradaban maju dibangun melalui ilmu, riset, dan kolaborasi. Namun perang memaksa sumber daya dialihkan untuk persenjataan dan pertahanan. Dana pendidikan, kesehatan, dan riset terpangkas demi kepentingan militer.
Dalam konteks dunia modern, ketika sains dan teknologi seharusnya digunakan untuk kemaslahatan umat manusia—seperti pengembangan energi bersih, mitigasi bencana, dan kesehatan global—perang justru memperlambat kemajuan tersebut. Ia menggerus potensi generasi emas dan menghentikan dialog intelektual lintas bangsa.
Sebagai akademisi yang mengusung sinergi sains dan spiritualitas, kita memahami bahwa konflik bersenjata menghentikan kolaborasi ilmiah yang seharusnya menyatukan, bukan memecah.
PERSPEKTIF MORAL DAN SPIRITUAL
Agama tidak pernah memuliakan kekerasan tanpa hak. Dalam ajaran Islam, kehidupan manusia sangat dihargai. Bahkan pembunuhan satu jiwa tanpa alasan yang benar diibaratkan seperti membunuh seluruh umat manusia.
Perang hanya dibenarkan dalam kondisi sangat terbatas dan defensif, itupun dengan etika yang ketat. Namun realitas modern menunjukkan bahwa perang sering melampaui batas-batas moral tersebut: sipil menjadi korban, lingkungan rusak, dan kebencian diwariskan.
Kemenangan sejati bukanlah menaklukkan musuh, tetapi menaklukkan amarah, dendam, dan keserakahan. Inilah kemenangan moral yang membangun peradaban.
PERANG MELAHIRKAN SIKLUS DENDAM
Setiap kekerasan memantik kekerasan baru. Anak-anak yang tumbuh dalam konflik membawa luka batin yang dapat berubah menjadi radikalisme di masa depan. Alih-alih menyelesaikan konflik, perang sering kali hanya menunda dan memperbesar ledakan berikutnya.
Sejarah menunjukkan banyak wilayah yang terus bergejolak karena akar konflik tidak pernah diselesaikan melalui dialog dan keadilan, melainkan melalui dominasi kekuatan.
ALTERNATIF: DIALOG DAN KOLABORASI
Jika tujuan suatu bangsa adalah keamanan, kesejahteraan, dan kehormatan, maka dialog yang adil jauh lebih produktif daripada peperangan. Diplomasi, pendidikan, dan kerja sama ekonomi terbukti lebih mampu membangun stabilitas jangka panjang.
Peradaban emas Islam pada masa lalu berkembang bukan karena ekspansi tanpa arah, tetapi karena integrasi ilmu, etika, dan keadilan sosial. Kota-kota ilmu seperti Baghdad pada masa keemasan menjadi pusat penerjemahan dan riset, bukan pusat kehancuran.
PENUTUP
Perang mungkin tampak sebagai solusi cepat, tetapi ia hampir selalu kontra produktif dalam jangka panjang. Ia merusak manusia, ekonomi, moralitas, dan masa depan generasi.
Sebaliknya, perdamaian yang dibangun di atas keadilan dan kebijaksanaan adalah investasi peradaban yang sejati.
Semoga kita termasuk golongan yang lebih memilih membangun daripada menghancurkan, lebih memilih dialog daripada senjata, dan lebih memilih keadilan daripada dominasi. Semoga kita bisa demikian aamiin.
Wallahu a‘lam bish-showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
15 Romadlon 1447
atau
04 Februari 2026
m.mustain
