Kebesaran Bangsa

Oleh;
Dr Ir Hadi Prajaka SH MH

Kekuatan sebuah bangsa tidak – bukan terletak pada tumpukan rotinya atau kecanggihan senjatanya, atau tumpukan harta orang kaya atau kekuatan agama nya, atau pemimpin Nya yg keras otoriter, pemimpin yang cerdas tetapi tidak punya moralitas melainkan pada akar budaya spiritualitasnya yg diwariskan Yang masih utuh, dan telah mendidik kita bahwa kesabaran , lapar , tirakat adalah kesadaran mengajarkan semesta, bahwa kebudayaan adat dan tradisi adalah puncak kemuliaan.
Saat batin sudah selesai dengan urusan Sosio politik dan saat kebudayaan hidup di habitatnya maka tak ada lagi ruang bagi rasa takut.”
PARA pendahulu Bangsa telah mengajarkan bahwa adat dan tradisi luhur, Budi pekerti, tata Krama merupakan inti landasan Adi luhung, menjadi kebesaran kebudayaan dan merupakan puncak sebuah identitas bangsa yang mulia, Saat jiwa’ murni telah kembali pada habitat nya, maka bila telah selesai menemukan jejak jejak kebudayaan Yg hilang sehingga kemajuan, modernitas dan kemakmuran kehidupan kebangsaan nya menjadi tumbuh sehingga entitas kebangsaan nya ditemukan, selanjutnya dunia akan mengakui sebagai entitas manusia Yg bermartabat, tak ada lagi ruang bagi rasa takut.” ….
Tinggal menunggu kesejahteraan datang dengan membawa suka cita.

Beberapa sudut pandang yg bisa kita jadikan sebagai literasi dibawah ini,

– Dari perspektif psikologi, konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa hancur lebur dapat dilihat sebagai suatu alasan untuk satu stigma integrasi antara kesadaran diri dan kesadaran akan keberadaan Tuhan.
– Penelitian telah menunjukkan bahwa pengalaman spiritual dapat mempengaruhi struktur dan fungsi kebudayaan serta mempengaruhi kesadaran dan perilaku manusia (Newberg et al., 2001).
– Studi neurosains menunjukkan bahwa pengalaman spiritual dapat terkait dengan aktivitas di bagian otak yang terkait dengan emosi, memori, dan kesadaran (Beauregard & Paquette, 2006).

 

– Dari perspektif antropologi, konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa terkait dengan tradisi dan nilai-nilai budaya, menjadi kekuatan keberadaan Tuhan.
– Studi antropologi menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan bangsa telah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk , adat istiadat sedangkan agama sering merusak budaya, dan filosofi spiritual masyarakat asli (Geertz, 1960).
– Konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa juga terkait dengan identitas bangsa dan kesadaran akan keberadaan diri sendiri.

 

– Dari perspektif filosofis, konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa terkait dengan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, kesadaran, dan hakikat realitas.
– Studi filosofis menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan bangsa terkait dengan konsep-konsep seperti ma’rifat, sumeleh, dan manunggaling kawulo gusti (Mulder, 1998).
– Konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa juga terkait dengan filosofi Jawa, yang menekankan pentingnya kesadaran akan keberadaan Tuhan dan kesadaran diri sendiri.

– Dari perspektif politik, konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa dapat dilihat sebagai suatu alat untuk mengelola kekuasaan dan kepentingan.
– Namun, dalam praktiknya, agama membunuh spiritualitas dan kebudayaan bangsa seringkali digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan kelompok tertentu.
– Studi politik menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan bangsa telah digunakan sebagai alat untuk membenarkan kebijakan-kebijakan yang pro-Islam, agama dan kepercayaan yg lain ditinggalkan sehingga mengabaikan hak-hak kerohanian yg lain yg menjadi kebhinekaan (Hefner, 2000).

 

– Dari perspektif antropologi, konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa terkait dengan tradisi dan nilai-nilai budaya, semestinya menjadi dasar kekuatan jiwa’, kesederhanaan, kesabaran, dan kesadaran akan keberadaan Tuhan.
– Studi antropologi menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan bangsa telah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk agama, budaya, dan filosofi (Geertz, 1960).
– Konsep spiritualitas dan kebudayaan bangsa juga terkait dengan identitas bangsa dan kesadaran akan keberadaan diri sendiri.

Referensi:

– Beauregard, M., & Paquette, V. (2006). Neural correlates of a mystical experience in Carmelite nuns. Neuroscience Letters, 405(3), 186-190.
– Geertz, C. (1960). The Religion of Java. University of Chicago Press.
– Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.
– Mulder, N. (1998). Mysticism in Java: A Study of the Development of Sufism in Indonesia. LIT Verlag.
– Newberg, A., d’Aquili, E., & Rause, V. (2001). Why God Won’t Go Away: Brain Science and the Biology of Belief. New York: Ballantine Books.