
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Salah satu aktivitas romadlon yang fenomenal adalah makan sahur. Tidak ada kegiatan makan dan minum pada waktu sebelum subuh sungguh sesuatu yang ganjil bila bukan keperluan sahur. Persepsi umum bahwa sahur itu bertujuan dan bermanfaat supaya puasanya lebih kuat. Anggapan ini tidak ada masalah tetapi sayang sekali apabila tidak ditambah dengan niat menjalankan perintah syariat Islam.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits yang tercantum dalam Shahih Bukhari juga dalam Shahih Muslim. Hadits tersebut adalah berupa perintah, yakni:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”
Derajat hadits ini adalah muttafaq ‘alaih (disepakati Bukhari dan Muslim). Hadits ini termasuk hadits shahih tingkat tertinggi.
Makna keberkahan sahur menurut para ulama meliputi:
1. Menguatkan fisik untuk puasa.
2. Mengandung pahala karena mengikuti sunnah.
3. Membantu qiyam dan dzikir di waktu sahur.
4. Membedakan puasa Muslim dengan Ahlul Kitab.
Penjelasan sahur menurut klasifikasi yang ada sebagai berikut (Modified AI, 2026):
1. Hikmah Fiqih
a. Hukum Sahur, mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum sahur adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Apabila tidak sahur maka puasa tetap sah, tapi kehilangan keberkahan.
b. Waktu terbaik, adalah akhir malam (mendekati fajar)
Berdasarkan praktik Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Zayd ibn Tsabit, jarak sahur beliau dengan shalat Subuh kira-kira waktu membaca ±50 ayat.
c. Minimal sahur, walaupun hanya seteguk air, sebutir kurma sudah mendapatkan sunnahnya.
2. Hikmah Tarbiyah & Ruhiyah
a. Waktu turunnya rahmat, karena waktu sahur bertepatan dengan
sepertiga malam terakhir. Juga waktu mustajab doa
sebagaimana hadits dalam Shahih Muslim tentang turunnya rahmat Allah di sepertiga malam terakhir.
Jadi sahur bukan sekadar makan tetapi momentum spiritual.
b. Pendidikan Disiplin & Kesadaran, bangun sahur melatih disiplin waktu, kesadaran ibadah sebelum memulai aktivitas dunia. Mindset bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi ibadah terstruktur
c. Dimensi keberkahan,
para ulama menjelaskan “barokah” di sini meliputi:
barokah fisik (energi & kesehatan), barokah waktu (pagi lebih produktif), barokah pahala (mengikuti sunnah), dan barokah ruhiyah (qiyam, istighfar, doa).
3. Dimensi Filosofis (Sedikit Refleksi)
Hal ini menarik bila dikaitkan dengan konsep tentang sinergi sains & spiritualitas, sahur menunjukkan bahwa:
a. Tubuh dan ruh tidak bisa dipisahkan.
b. Asupan fisik diatur untuk tujuan spiritual.
c. Biologi tunduk pada orientasi ibadah.
Di sini tampak bahwa Islam tidak anti-fisik, tetapi menata fisik untuk orientasi ruhiyah. Dalam konteks sahur ini mari kita besarkan kualitas ibadah kita dengan menambah niat sahur untuk menjalankan ibadah sunnah yang dikokohkan. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
10 Romadlon 1447
atau
28 Februari 2026
m.mustain
