
OTTAWA– Islam sebagai agama universal memiliki substansi yang sama di seluruh penjuru dunia, baik di Asia, Amerika, Australia, Afrika, maupun Eropa.
Namun, praktik ibadah dan penerapan hukumnya dapat sedikit berbeda sesuai dengan perbedaan tempat, waktu, dan kondisi masyarakat setempat.
Prinsip fikih yang dikenal sebagai taghayurul ahkam bi taghayuril azminati wal amkinati wal ahwali (hukum Islam berubah seiring dengan perubahan zaman, tempat, dan keadaan) menjadi dasar penting bagi umat Muslim untuk menghadapi berbagai tantangan di negara mereka tempati.
Menjawab kebutuhan tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa bekerja sama dengan Pengajian Kamila menyelenggarakan Kajian Ramadhan bertema “Fikih Keseharian Muslim di Kanada” pada Kamis (26/2/2026) di Auditorium Caraka Nusantara KBRI Ottawa.
*Situasi Islam dan Kegiatan Ramadan di Kanada*
Di Kanada, komunitas Muslim tersebar di berbagai kota besar seperti Ottawa, Montreal, Calgary, Toronto, dan Vancouver. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, umat Islam di Kanada aktif menjalankan ajaran agama dan memperingati bulan suci Ramadhan dengan penuh keikhlasan.
Namun, kondisi geografis dan iklim Kanada yang unik – seperti waktu matahari terbenam yang sangat larut di musim panas (bahkan hingga jam 10 malam di beberapa daerah seperti Yellowknife) – menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan ibadah puasa dan shalat.
Kajian yang dihadiri oleh Dubes RI di Kanada Muhsin Syihab beserta jajarannya termasuk Rezal Akbar Nasrun dan Heru Santoso ini merupakan salah satu bentuk dukungan KBRI untuk memperkuat keimanan dan pemahaman fikih di kalangan diaspora Muslim Indonesia dan umat Islam Kanada secara luas.
Ketua Pengajian Kamila (Kajian Muslim Lintas Negara) Rahmania Maryam Syihab, yang juga istri Dubes RI Kanada, menjelaskan bahwa kegiatan ini diperuntukkan khusus bagi Muslim di Kanada.
“Secara daring, peserta hadir dari berbagai kota besar di Kanada, sementara secara luring di KBRI sendiri diikuti oleh puluhan orang tua dan kaum muda dari komunitas diaspora Muslim Ottawa,” ujar Rahmania yang berasal dari Palembang.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber utama Prof. M. Noor Harisudin – Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq sekaligus Direktur World Moslem Studies Center – menguraikan pentingnya fikih dalam ajaran Islam.
“Islam memiliki tiga unsur utama: Tauhid (Iman), Fikih (Syariah), dan Tasawuf (Ihsan). Kali ini kita fokus pada pemahaman fikih yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Prof. Haris yang juga menjabat sebagai Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember dan Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat menjelaskan bahwa klasifikasi hukum Islam menjadi wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah memang benar, namun masih kurang lengkap.
“Fikih juga membahas dimensi pelaksanaan perbuatan manusia, seperti bagaimana sholat Dhuha atau Duhur dapat dianggap sah dengan memenuhi syarat dan rukunnya.
Selain itu, ada juga ketentuan rukhsah (keringanan) dalam kondisi khusus, misalnya ketika seorang musafir (orang dalam perjalanan) yang diizinkan untuk melaksanakan shalat jama’ dan qasar dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat,” jelasnya.
Sesi tanya jawab yang hangat menunjukkan antusiasme tinggi para jamaah selama dua jam kajian (dari pukul 12.30 hingga 14.30 Waktu Kanada). Salah satu pertanyaan yang muncul adalah terkait puasa Ramadan di daerah dengan waktu Maghrib yang sangat larut.
“Kami biasanya berbuka puasa pada jam 6 sore padahal matahari baru terbenam jam 10 malam, terutama di musim panas. Apakah puasa kami tetap sah?” tanya ibu Laila yang tinggal di Yellowknife.
Mendapat pertanyan itu Prof. Haris menjelaskan bahwa hal ini termasuk khilafiah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama.Namun puasa tetap dianggap sah selama dilakukan sesuai dengan pendapat yang diyakini oleh setiap individu.
Sebagai seorang dai yang telah berdakwah ke 23 negara di lima benua, beliau menekankan pentingnya pemahaman fikih yang fleksibel namun tetap sesuai dengan prinsip agama.
Selain kajian ini, komunitas Muslim di Kanada juga sering menggelar berbagai kegiatan Ramadhan lainnya seperti buka puasa bersama, pengajian rutin di masjid-masjid lokal, serta kegiatan sosial untuk membantu masyarakat kurang mampu tanpa memandang agama atau suku.
*Doa untuk Kebaikan Palestina dan Kawasan Timur Tengah*
Semoga bulan suci Ramadhan membawa berkah dan kedamaian bagi seluruh umat manusia. Khususnya, kami panjatkan doa yang tulus agar segera tercapai kedamaian yang abadi di Palestina dan seluruh kawasan Timur Tengah.
Semoga penderitaan rakyat sipil dapat segera berakhir, hak-hak mereka terhormati, dan semua pihak dapat menemukan jalan untuk hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai. Amin Ya Rabbal Alamin.*Imam Kusnin Ahmad*
