“BUTA TULI” KARYA H. RHOMA IRAMA: PESAN DAKWAH TENTANG KESADARAN SPIRITUAL .

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior. Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

SYAIR “BUTA TULI” ciptaan H. Rhoma Irama adalah pesan dakwah mendalam.
Ia mengkritik manusia yang fisiknya punya pancaindera sempurna.
Namun spiritualnya buta dan tuli.

Syair ingatkan pentingnya pakai indera.
Pakai akal budi untuk kenal Sang Pencipta.
Pakai akal budi untuk merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya.

DALIL AL-QUR’AN YANG MENDUKUNG PESAN SYAIR

1. Surat Asy-Syu’ara’ ayat 78-79:

وَقَالُوا أَئِنَّا لَنُؤْمِنَ لَكُمْ وَأَنْتُمْ قَوْمٌ ضَعُفٌ ۖ وَجَعَلُوا دَعْوَاهُمْ شِرْكًا بَيْنَهُمْ ۚ قُلْ رَبُّنَا يَعْلَمُ مَا تَعْمَلُونَ

Ayat ini gambarkan orang sombong.
Tidak mau melihat kebenaran.
Sesuai syair: “buta mata hatinya” dan “tuli kesombongannya”.

2. Surat Ali ‘Imran ayat 190-191:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dalil ini tegas alam semesta adalah bukti keberadaan Tuhan.
Selaras dengan syair: “Adanya diri ini bukti adanya Tuhan, adanya alam ini bukti adanya Tuhan.”

3. Surat Al-An’am ayat 32:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَةُ الْقِيَامَةُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Ayat ini ingatkan bahaya terjebak kesenangan dunia.
Membuat manusia lupa tujuan hidup.
Sehingga jadi “buta” dan “tuli” terhadap panggilan Tuhan.

HADITS NABI MUHAMMAD SAW YANG RELEVAN

1. Hadist Riwayat Muslim:

إِنَّ فِي الْبَشَرَةِ مَرْقَةً مِنَ الْلُّحْمِ، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَتِ الْبَشَرَةُ كُلُّهَا، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبَشَرَةُ كُلُّهَا، أَلا وَهِيَ الْقَلْبُ

Hadist ini menguatkan pesan syair tentang “buta mata hatinya”.
Hati adalah pusat kesadaran spiritual manusia.

2. Hadist Riwayat At-Tirmidzi:

لَا تَكُونُوا أَهْلَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فَتَمُوتُونَ، وَقَدْ خَلَقَكُمُ اللَّهُ لِأَحَدٍ أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ

Pesan ini selaras dengan syair: “Sebagai manusia yang punya pemikiran, kalau tak kenal Tuhan maka seperti hewan.”

3. Hadist Riwayat Abu Dawud:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Hadits Ini menunjukkan kesadaran akan keberadaan Tuhan tidak datang sendiri.
Perlu usaha dan pemberian dari Allah SWT.

PENDAPAT ULAMA ASWAJA DAN IMAM GHAZALI

Menurut Imam Ja’far as-Sadiq:
الْقَلْبُ مِرْآةُ اللَّهِ تَعَالَىٰ، فَإِنْ تَجَنَّبَهُ النَّجَاسَةُ، تَرَى الْحَقَّ، وَإِنْ لَمْ يَجَنَّبْهُ، لَا يَرَى

Artinya: “Hati adalah cermin Allah.
Jika cermin itu kotor, tidak dapat melihat wajah-Nya.”

Hal ini selaras dengan “buta mata hatinya” dalam syair.
Hati terhalang kesombongan tidak dapat merenungi kebesaran Tuhan.

*Pendapat Imam Al-Ghazali*

Dalam karyanya إِحْيَاءُ عُلُومِ الدِّينِ (Ihya’ Ulumuddin):
لِلْإِنْسَانِ عَيْنَيْنِ: عَيْنُ الْبَصَرِ وَعَيْنُ الْقَلْبِ، فَالَّذِي يَعْتَمِدُ عَلَى عَيْنِ الْبَصَرِ فَقَطْ، يَكُونُ عَامًى عَلَى الْحَقِّ، وَالَّذِي يُصَحِّحُ عَيْنَ الْقَلْبِ، يَرَى الْآيَاتِ الْكُبْرَىٰ لِرَبِّهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ

Artinya: “Manusia punya dua pandangan: fisik dan spiritual.
Orang hanya pakai pandangan fisik akan buta kebenaran.
Orang dengan pandangan hati jernih akan lihat tanda-tanda kebesaran Tuhan di mana saja.”

Ia juga tegas tentang bahaya kesombongan:
الْكِبْرُ يُغْشَى الْقَلْبَ وَيُعْمِي السَّمْعَ وَالْبَصَرَ عَنِ الْهُدَىٰ

Artinya: “Kesombongan tutupi hati.
Membuat telinga dan mata buta terhadap petunjuk.”

PENUTUP

Syair “Buta Tuli” ingatkan kita.
Pancaindera dan akal budi bukan hanya untuk kebutuhan duniawi.
Melainkan untuk kenal Sang Pencipta dan jalankan perintah-Nya.

Kita dianjurkan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.
Jaga hati dari kesombongan.
Pakai akal budi untuk cari kebenaran agama.

Semoga kita tidak jadi orang “buta” dan “tuli” secara spiritual.
Melainkan jadi hamba yang selalu sadar keberadaan dan kasih sayang Tuhan.*Wallahul A’lam Bisshawab*