
Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa otoritas tertinggi di jantung dunia Islam, *Masjidil Haram, pernah digenggam erat oleh seorang putra asli Nusantara: Syekh Junaid Al-Batawi.*berikut ini informasinya :
Di tengah hiruk-pukuk klaim keistimewaan darah keturunan pendatang, sosok Syekh Junaid muncul sebagai tamparan keras bagi mereka yang mendewakan gelar tanpa dasar intelektual yang nyata. Beliau adalah orang Nusantara pertama yang diakui dunia sebagai Imam Besar Masjidil Haram, sebuah posisi yang diraih melalui kedalaman ilmu, bukan sekadar “sertifikat” nasab yang kini justru banyak diragukan keabsahannya.
Berbeda dengan gelar “Habib” yang di Indonesia sering kali disematkan tanpa dokumen legal atau patokan resmi, gelar Syaikhul Mashayikh (Gurunya para Guru) yang disandang Syekh Junaid adalah pengakuan dunia internasional atas kapasitas ilmiahnya yang tak tertandingi. Syekh Junaid membuktikan bahwa pribumi Nusantara memiliki martabat yang setara, bahkan lebih tinggi, di mata para ulama Makkah dibandingkan kelompok-kelompok pendatang yang hanya mengandalkan narasi keturunan. Sementara saat ini nasab Ba’alawi sedang dihantam badai kritik ilmiah dan tuntutan bukti kitab sezaman oleh para pakar seperti KH Imaduddin Utsman, silsilah Syekh Junaid justru kokoh berakar pada sejarah lokal yang jelas: keturunan darah biru pendiri Kesultanan Demak, Raden Fattah.
Kehebatan Syekh Junaid menjungkirbalikkan stereotip bahwa ulama lokal hanyalah “murid” bagi kaum imigran dari Hadramaut. Faktanya, ulama-ulama besar yang menjadi pilar Islam di Indonesia, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, adalah murid-murid setianya. Ini menunjukkan bahwa poros ilmu dunia Islam pada abad ke-19 ada di tangan seorang pribumi Betawi. Bahkan, martabat keluarga Syekh Junaid begitu tinggi hingga Raja Ibnu Saud memberikan jaminan perlindungan khusus setara keluarga kerajaan—sebuah penghormatan politis yang mustahil didapatkan oleh mereka yang nasabnya kini justru dianggap “terputus” oleh hasil riset sejarah dan tes DNA.
Kisah Syekh Junaid Al-Batawi adalah seruan bagi umat untuk berhenti terjebak dalam kultus individu berbasis “darah suci” yang tidak terbukti secara sains maupun sejarah primer. Keimaman beliau di Masjidil Haram adalah bukti sahih bahwa Tuhan mengangkat derajat manusia karena ketakwaan dan ilmu, bukan karena klaim sepihak sebagai “dzurriyah” yang menolak dikritik. Jika seorang pribumi mampu memimpin dunia Islam di Makkah, mengapa kita masih tunduk pada narasi-narasi luar yang keabsahannya kini sedang berada di titik nadir?.
Sumber:
* Genealogi Intelektual Ulama Betawi (Rakhmad Zailani Kiki, 2011)
* Ulama-Ulama Nusantara yang Mempengaruhi Dunia (Thoriq Aziz Jayana, 2021)
* Mecca in the Latter Part of the 19th Century (Christiaan Snouck Hurgronje, 1888)
* A’lam al-Makkiyyin min al-Qarn at-Tasi’ ila al-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar al-Hijri (Abdurrahman bin Abdurrahim al-Muallimi)
* Al Tausyih: Syarah ‘ala Fathul Qorib al Mujib (Syekh Nawawi al-Bantani)
* Ulama Betawi: Studi tentang Jaringan Ulama Betawi .
