
Oleh Dr Ir Hadi Prajaka SH MH
Kalau dalam bahasa tasawuf disebut ma’rifat,
dalam laku Jawa ia sering dibahasakan sebagai:
Manunggaling Kawulo Gusti ✨
Pertama Tama, Manunggal Karo kawulanya baru’lah menuju manunggal Sama Pencipta Kawulanya, ada dua perjalanan jiwa’ yg menjadi essentials spiritual.
Tapi hati-hati…
Manunggal bukan berarti “aku jadi Tuhan”. Tetapi maksud nya bersatu kembali kepada yg Maha Hidup, Tuhan Yang Maha Esa….maka perjalanan bhatin tersebut melalui lorong Kesadaran,
Bukan juga hilang batas lalu merasa paling sakti, paling Suci, atau Yang paling mengetahui privasi Hyang Maha Esa, sampai mengetahui surga neraka bahkan singgasana Tuhan.
Dalam kebijaksanaan Jawa,
manunggal itu lebih mirip:
Kawulo sadar dirinya kawulo, sadar privasi Sang Pencipta semesta.
Gusti tetap Gusti, Tuhan adalah mutlak sempurna,
Tapi tidak lagi terasa terpisah, dalam narasi kaweruh luhur berupa sesanti *CEDAK TANPA SENGGOLAN, ADOH TANPA WINANGENAN, NEK LEMBUT TANPA JINUMPUT, NEK BABAR NGEBEKI JAGAT …TAN KENO WINUWUS*….
Seperti ombak dan laut 🌊
ombak bukan laut…
tapi juga tak pernah keluar dari laut, Ada pasang surutnya, demikian pula BHATIN dan jiwa, maka perlu adanya NALAR INTUITIF, pengindra jiwa’ untuk mengelola dg smart – cerdas dan kreatif.
🍂
——————————————
Dalam tradisi leluhur, ma’rifat itu bukan sensasi.
Ia adalah kesadaran jernih.
Bukan pengalaman aneh-aneh, atau halusinasi
Bukan karomah yg dipamerkan.
Bukan aura mistis yg dikultuskan, tetapi merupakan etape perjalanan menuju lorong Kesadaran jiwa’.
Tapi keadaan batin dan jiwa’ yang hidup:
🌿 luwih andhap asor
🌿 luwih welas asih
🌿 luwih eling lan waspada
Semakin manunggal,
semakin sederhana, ibarat padi semakin berisi semakin menunduk.
Semakin merasa menyatu,
semakin tidak merasa siapa-siapa, tetapi pada puncak Kesadaran murni
Kalau ada yg mengaku sudah manunggal
tapi lisannya mengkafirkan merendahkan orang lain,
mudah marah, haus materi suka memuja kehormatan dan ingin dihormati…
itu bukan manunggal.
Itu ego spiritual pakai blangkon 🌀, artinya tidak mau mengakui belang nya
——————————————
🍂
Manunggal itu terjadi bukan karena klaim,
tapi karena leleh-nya keakuan, nglenggono, SUMARAH, kepasrahan puncak, berserah diri .
Dalam ajaran Jawa disebut:
*“mati sajroning urip.”*
*” URIP SAKJRONING MATI*”
Bukan mati fisik.tetapi membunuh’ hedonistik, mengorbankan Nafsu Angkara murka, pengorbanan jiwa’ jahat
Sehingga mati ego, mengelola Ego Sya’tan.
Yang mati adalah rasa memiliki duniawi,
Yang mati adalah rasa paling tahu dan paling Suci,
Yang mati adalah rasa paling serakah,
Yang mati adalah keinginan yg tidak manusiawi, melanggar tata Krama.
Kalau “aku”-nya masih besar, dipastikan
belum manunggal, karena jiwa’ dan raganya belum mampu menerima kehadiran hyang Maha Suci pencipta semesta.
Karena yg manunggal itu justru ketika jiwa’ murni bersemayam dalam ketentraman jiwa, dan selanjutnya menerima kehadiran Tuhan dengan tulus, tanpa berharap imbalan apapun darinya
aku luluh dalam kesadaran Sang Hyang Maha Esa.
🍂
——————————————
Ma’rifat seharusnya dan sesungguhnya :
👉 Membuat orang makin adem, ayem tentram
👉 Tidak butuh pengakuan.
👉 Tidak sibuk ceramah dan cerita pengalaman.
👉 Hidupnya makin selaras dengan adab, menenangkan
Ilusi spiritual:
❌ Haus dianggap sakti.
❌ Senang dipanggil “yang sudah sampai”.
❌ Mudah menganggap orang lain belum Suci
❌ Membungkus ego dengan istilah surga dan pahala, ditakuti neraka.
Dalam laku Jawa, ini sering diingatkan:
“Sing waspada lan eling.”
*URIP sak Dermo nglakoni dharma* melaksanakan tugas tugas kemanusiaan dan ketuhanan.
Karena kesadaran sejati tidak ribut, tidak hingar bingar, tidak menuntut orang lain menjadi suci, sufi, beribadah seperti dirinya.
🍂
——————————————
Para Brahmana, MPU, Resi pujangga Nusantara bahkan Siti Jenar , KALIJOGO — tokoh tokoh yg sering disalahpahami sebagai musuh agama — pernah dihubungkan dengan ungkapan atau Sesanti;
*apa ngerti marang awake dhewe,*……
*Bakal ngerti marang Pangerane*
Temukan lah dirimu yang sejati, untuk bisa mendapatkan panduan hidup.
Tapi kalimat ini sering dipotong.
Makanya istilah, artinya manunggaling Kawula Gusti bukan memposisikan diri sebagai Tuhan,
melainkan mengenali hakikat diri sebagai bayangan satu dimanaka jiwa,
sebagai pancaran,
sebagai makhluk yg seluruh wujudnya bergantung, kepada Yg Maha Hidup.
Kalau sudah sampai di situ,
tidak ada lagi, hedonistik , merasa paling benar, mental pengkhianat, kesombongan, rakus, semena-mena dstnya
Yang ada hanya eling, yang ada hanya berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
🍂
——————————————
Manunggaling kawulo Gusti bukan pencapaian untuk dibanggakan, atau dilombakan, persaingan Dan juga satu imbalan surga, bidadari atau pahala apalagi bukan satu bentuk status sosial, tidak ada perintah dan ancaman tetapi satu relaksasi KESADARAN MURNI.
Ia keadaan batin yg tenang, tentram,ayem, bahagia.
Tidak perlu diumumkan dan diceramahi kan yg berlebihan dg imbalan,
Tidak perlu disahkan oleh negara, pemerintah atau lembaga hukum apalagi pengakuan orang lain.
Kalau benar manunggal,
hidupmu akan makin lembut.
Makin jujur.
Makin welas
Makin berkemanusiaan
Makin bahagia tentram
Makin harmonis
Dan yg paling terasa…
Kita tidak lagi sibuk yg paling benar dan tidak perlu membuktikan apa-apa 🌿
Hanya Tuhan yang mengetahui nya.
Karena yg manunggal
tidak merasa perlu terlihat.
… Hidup kan NALAR INTUITIF pengindra jiwa’
Merdeka berfikir kritis, lahir BHATIN.
Rahayu 🙏✨
Salam hormat Sedaya kadang.
