Tadarus Ilmiah Ramadan Cendekia 1447 H PW ISNU Jatim : Dari Rutinitas Menuju Kesadaran Spiritual

 

Surabaya, Sabtu (21/2/2024) – Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Tadarus Ilmiah dalam rangka Ramadan Cendekia 1447 H. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan Khotmil Qur’an oleh para huffadz, dilanjutkan ceramah ilmiah-spiritual oleh M. Afif Hasbullah, dan ditutup dengan buka puasa bersama serta sholat Maghrib berjamaah.

Khotmil Qur’an: Menyucikan Awal dengan Kalamullah

Rangkaian acara dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam prosesi Khotmil Qur’an yang dipimpin para huffadz. Suasana penuh kekhusyukan menjadi penanda bahwa Ramadan bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ruang penyucian diri dan penguatan ruhani.

Ketua panitia menyampaikan bahwa Tadarus Ilmiah ini merupakan bagian dari komitmen ISNU Jawa Timur untuk menghadirkan Ramadan sebagai ruang dialektika antara teks dan konteks, antara wahyu dan realitas sosial.

Tiga Golongan Manusia Menyambut Ramadan

Dalam ceramahnya, Prof. Afif mengawali dengan refleksi tentang tipologi manusia dalam menyambut Ramadan. Menurutnya, secara umum manusia terbagi dalam tiga golongan:
1. Golongan yang bersuka cita, mempersiapkan ibadah dengan penuh kerinduan.
2. Golongan yang biasa-biasa saja, menganggap Ramadan sama seperti bulan lainnya.
3. Golongan yang merasa terbebani, karena merasa kenikmatan duniawinya terganggu.

Beliau mengaitkan tipologi tersebut dengan kategori Al-Qur’an: sabiqun bil khairat, muqtashid, dan dzalim li nafsih. “Ramadan adalah momentum untuk bertransformasi dari sekadar muqtashid menuju sabiqun bil khairat,” tegasnya.

Kualitas Puasa: Dari Fisik hingga Hati

Mengutip pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, Prof. Afif menjelaskan bahwa kualitas puasa terbagi menjadi tiga tingkatan:
• Puasa awam: menahan lapar dan dahaga (fisik).
• Puasa khusus: menjaga anggota tubuh dari maksiat (fisik dan batin).
• Puasa khusus al-khusus: menahan hati dari selain Allah, hanya terpaut kepada-Nya.

Menurutnya, banyak orang terjebak pada puasa tingkat pertama. “Kita beragama secara administratif: shalat karena kewajiban, puasa karena tradisi, zakat karena aturan,” ujarnya.

Beliau mengingatkan hadis:

“Kam min shāimin laysa lahu min shiyāmihi illā al-jū‘ wa al-‘athasy.”
Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.

Karena itu, pertanyaan penting yang harus dijawab secara jujur adalah: apakah puasa kita sekadar rutinitas, atau telah menjadi kesadaran spiritual?

Puasa sebagai Madrasah Taqwa

Prof. Afif menegaskan bahwa tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqūn—agar menjadi pribadi bertakwa. Puasa bukan tujuan akhir, melainkan jalan; bukan terminal, tetapi proses pendidikan.

“Puasa adalah madrasah: mengenal diri, menguasai diri, dan mendisiplinkan diri,” jelasnya. Bahkan yang halal pun ditahan pada siang hari Ramadan, sebagai latihan kesadaran dalam kesunyian—disiplin meski tidak ada yang melihat.

Beliau juga menekankan dimensi ganda setiap ibadah: hablum minallah (relasi vertikal) dan hablum minannas (relasi horizontal). Puasa bukan hanya relasi pribadi dengan Allah, tetapi juga membentuk empati sosial.

Dimensi Sufistik Rukun Islam

Lebih jauh, Prof. Afif menguraikan bahwa seluruh rukun Islam memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam dari sekadar aspek fikih:
• Syahadat: bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi musyahadah (penyaksian kepada Allah).
• Shalat: shilah ilallah (penyambung hubungan dengan Allah).
• Zakat: tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
• Shiyam: dari sekadar puasa fikih menuju shoum sebagai sikap hidup.
• Haji: al-qashdu ilallah (perjalanan menuju Allah).

Menurutnya, sebagaimana jasmani membutuhkan prestasi dan jenjang, rohani pun memiliki maqamat (tangga-tangga spiritual): taubat, wara’, zuhud, sabar, tawakkal, ridha, syukur, tumakninah, mahabbah, uns, hingga ma‘rifat.

Kesadaran Batin: Bashirah, Dlomir, dan Fuad

Menutup ceramahnya, Prof. Afif menjelaskan tentang perangkat batin manusia:
• Bashirah: bisikan baik dan buruk.
• Dlomir: dorongan perintah batin—“lakukan” atau “jangan lakukan.”
• Fuad: hakim yang memvonis benar atau salah.

Ramadan, menurutnya, adalah momentum mempertajam bashirah, membersihkan dlomir, dan meneguhkan fuad agar selalu berpihak pada kebenaran.

Penutup: Kebersamaan dalam Ibadah

Kegiatan Tadarus Ilmiah ditutup dengan buka puasa bersama yang penuh kehangatan, dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Momentum ini menjadi simbol bahwa spiritualitas tidak berhenti pada wacana, tetapi berlanjut dalam praksis kebersamaan.

 

PW ISNU Jawa Timur berharap Ramadan Cendekia 1447 H menjadi ruang transformasi—dari rutinitas menuju kesadaran, dari administratif menuju substantif, dari formalitas menuju kualitas ketakwaan