
Oleh: Imam Kusnin Ahmad.Wartawan dan PW ISNU Jawa Timur.
Klenteng Poo An Kiong Blitar, bangunan berusia lebih dari 140 tahun yang hampir lenyap akibat kebakaran besar pada tanggal 12 November 2022 pukul 02.30 WIB, kini telah berhasil dibangun kembali menjadi struktur yang lebih luas, modern, dan berkelas.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2576 yang jatuh pada Selasa (17/2/2026) hari ini tidak hanya menjadi momen perayaan tahun baru bagi umat Konghucu, tetapi juga bertepatan dengan ulang tahun klenteng ke-141.
Momen bersejarah ini menjadi bukti nyata kembalinya lokasi ibadah yang telah lama menjadi ikon budaya dan simbol persatuan lintas etnis serta agama di Kota Blitar, Jawa Timur.
Pada malam kebakaran yang melanda Klenteng yang berlokasi di Jalan Merdeka Barat, api yang cepat menyebar hampir menghancurkan seluruh jejak sejarah yang tertanam dalam batu bata dan kayu bangunan klenteng tua.
Saat itu, petugas pemadam kebakaran harus berjuang selama lebih dari empat jam untuk memadamkan nyala api yang telah menghanguskan sebagian besar struktur utama. Akibat kejadian tersebut, seluruh aktivitas ibadah yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad harus dihentikan sementara.
Setelah proses pembersihan lokasi dan penilaian menyeluruh oleh tim ahli bangunan serta arkeologi, pengurus Yayasan Poo An Kiong memutuskan untuk memindahkan kegiatan ibadah sementara ke ruko milik salah satu pengurus di Jalan Mawar, mulai bulan Agustus 2022 hingga akhir tahun 2025.
Selama lebih dari tiga tahun berlalu di lokasi sementara dengan segala keterbatasan ruang dan fasilitas, semangat warga untuk membangun kembali “rumah spiritual” mereka tidak pernah surut.
Tan Swan Kiang (Alik), Wakil Ketua I Yayasan Poo An Kiong Blitar, menceritakan bahwa proses perencanaan pembangunan baru tidaklah mudah. “Kita harus menemukan keseimbangan antara mempertahankan nilai sejarah dan kebutuhan akan fasilitas modern yang sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan saat ini,” ujarnya dalam wawancara khusus.
Bangunan baru yang berdiri di lahan seluas sekitar 1.200 meter persegi kini memiliki struktur yang jauh berbeda dari pendahulunya. Jika klenteng lama hanya terdiri dari satu lantai dengan kapasitas maksimal 150 umat, kini bangunan dilengkapi basement yang difungsikan sebagai ruang penyimpanan dan area parkir bawah tanah, aula besar seluas 350 meter persegi di lantai satu yang dapat digunakan untuk acara keagamaan maupun kegiatan sosial masyarakat, serta area ibadah yang lebih luas dan megah di lantai dua.
Kapasitas keseluruhan kini mampu menampung antara 300 hingga 400 umat sekaligus, menjawab kebutuhan yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah pemeluk dan minat masyarakat terhadap budaya Tionghoa di Blitar.
Fasilitas pendukung juga mengalami peningkatan signifikan. Di antaranya adalah instalasi lift yang memudahkan akses bagi umat lanjut usia dan penyandang disabilitas untuk mencapai area ibadah di lantai dua.
Selain itu, keberadaan aula besar menghilangkan kebutuhan mendirikan tenda tambahan saat perayaan besar seperti Imlek, Cap Go Meh, atau hari raya lainnya yang biasanya dihadiri oleh ratusan orang.
Meskipun struktur dan fasilitasnya telah mengalami perubahan besar, nuansa oriental yang khas tetap terjaga dengan apik melalui pilar-pilar utama berukiran naga yang dihiasi dengan warna merah dan emas khas klenteng, serta ornamen kayu ukir tradisional yang dibuat oleh pengrajin lokal berketurunan Tionghoa yang telah memiliki keahlian turun temurun.
Pembangunan yang memiliki nilai investasi sekitar Rp 7 miliar ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan luar biasa dari berbagai pihak. Donasi mengalir tidak hanya dari komunitas Konghucu dan warga Blitar lintas etnis serta agama, tetapi juga dari perantau asal Blitar yang tinggal di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Australia, Singapura, dan Malaysia. Mereka tergerak untuk berkontribusi setelah mengetahui musibah yang menimpa klenteng melalui berita daring dan komunikasi antar komunitas.
Hingga saat ini, total donasi yang terkumpul telah mencapai Rp 5,3 miliar, sementara sisanya dibiayai melalui pinjaman jangka panjang yang akan dilunasi secara bertahap dari hasil kegiatan ekonomi kreatif yang akan dijalankan oleh yayasan.
Bagi sebagian besar umat yang telah menghabiskan sebagian hidup mereka beribadah dan berbagi cerita di klenteng lama, kebakaran dulu sempat menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam. Daniel Wijaya (58 tahun), salah satu umat yang telah menjadi anggota yayasan selama lebih dari 20 tahun, mengaku pernah merasa khawatir bahwa klenteng tidak akan pernah bisa berdiri kembali seperti semula.
“Saat itu saya melihat api menghanguskan tempat di mana saya menikah, tempat saya membawa anak-anak saya untuk mempelajari ajaran leluhur, dan tempat di mana kita selalu berkumpul dalam suka dan duka,” ungkapnya dengan suara penuh emosi.
Meskipun bersyukur bisa melanjutkan aktivitas ibadah di lokasi sementara yang cukup nyaman, kehadiran bangunan baru yang hampir rampung membawa kelegaan dan harapan baru bagi seluruh komunitas.
“Imlek 2026 hari ini menjadi momen yang sangat emosional bagi kita semua. Dulu klenteng lama sebelum terbakar juga pernah mengalami renovasi dua kali, yaitu pada tahun 1965 dan 1998, dan selalu ramai dikunjungi. Harapannya dengan renovasi total ini, tidak hanya umat yang datang, tetapi juga lebih banyak masyarakat luas yang tertarik untuk belajar tentang budaya dan sejarah yang kita miliki,” tambah Daniel.
Selain berperan sebagai tempat ibadah dan pusat spiritual, klenteng ini juga menyimpan rencana inovatif yang dirancang untuk memastikan keberlangsungan hidupnya di masa depan.
Salah satunya adalah memanfaatkan area basement sebagai pusat jajanan tradisional Tionghoa dan produk kerajinan lokal, yang tidak hanya akan menjadi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga menghasilkan pendapatan untuk menutupi biaya operasional klenteng yang semakin meningkat.
Selain itu, yayasan juga sedang merencanakan untuk mendatangkan altar Dewa Jodoh (Yue Xia Lao Ren) dari Taiwan sebagai daya tarik baru, yang dipercaya dapat menjadi tempat berdoa bagi pasangan muda yang ingin menemukan jodoh atau mempererat hubungan rumah tangga.
Langkah-langkah inovatif ini diambil bukan tanpa alasan. Seiring dengan perkembangan zaman, yayasan menghadapi tantangan nyata berupa biaya operasional yang terus meningkat dan jumlah penganut yang relatif terbatas.
Dengan membuka diri kepada masyarakat luas dan mengembangkan potensi pariwisata budaya, klenteng diharapkan tidak hanya dapat menjaga napas sejarahnya tetap berdenyut, tetapi juga menjadi tempat yang dinamis dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Blitar.
Klenteng Poo An Kiong Blitar kini bukan sekadar sebuah bangunan tempat ibadah, melainkan simbol nyata ketahanan budaya dan semangat persatuan yang mendalam.
Dari abu kebakaran yang hampir menghapus jejak sejarah, lahir sebuah bangunan yang lebih layak, modern, namun tetap memeluk akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Blitar.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Blitar, baik sebagai wisatawan maupun penduduk lokal, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan wajah baru klenteng ini yang menyimpan nilai sejarah dan budaya yang mendalam.
Perayaan Imlek pada Selasa (17/2/2026) hari ini menjadi bukti nyata bahwa dengan keyakinan yang kuat dan semangat gotong royong, warisan leluhur tidak hanya bisa bertahan hidup, tetapi juga terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.****
